7

8.2K 912 161
                                        

Siang ini, jam istirahat berlalu seperti biasanya bagi kebanyakan siswa: ramai, diisi obrolan dan candaan yang memenuhi udara. Akan tetapi, hari ini, kantin terasa terlalu sepi bagi Jungkook.

Dia memakan makanannya dengan lambat. Matanya beberapa kali melirik meja di sisi barat. Meja itu penuh, obrolan acak beberapa siswa terdengar dari sana. Jungkook menghela napas panjang.

Biasanya, setiap kali Jungkook melirik ke meja sisi barat itu, dia akan melihat Yoongi di sana. Kadang makan sendirian atau kadang bersama dengan satu-dua temannya.

Namun, hari ini, ia tidak melihat Yoongi di sana. Dia tidak pergi ke kantin, bahkan hingga jam istirahat hampir selesai.

Padahal, Jungkook ingin bicara dengannya. Ada terlalu banyak pertanyaan yang menumpuk di benaknya sejak kemarin: tentang plester luka, beanie, dan terutama tentang kata "Onkologi" yang ia lihat di rumah sakit dua bulan lalu.

Dan setelah apa yang Jungkook lihat kemarin, ia tidak akan berbohong bahwa ada cemas dalam pikirannya.

"Jung, kau belum menghabiskan makananmu? Jam istirahat selesai lima menit lagi." Salah seorang teman sekelas menyenggol bahunya.

"Ah, ya. Kurasa aku ambil terlalu banyak," Jungkook menjawab. "Kalian kembali dulu saja."

Maka, meja yang tadinya ramai itu, kini hanya ditempati oleh Jungkook seorang. Ia menyendok makanannya sambil sesekali mencuri pandang. Akan tetapi, sampai bel yang menandakan jam istirahat selesai berbunyi, Yoongi tetap tidak muncul. Pada akhirnya, Jungkook harus meninggalkan kantin dengan perasaan cemas yang berat dan pertanyaan yang lagi-lagi tidak terjawab.

***

Sore harinya, setelah pelajaran terakhir selesai, Jungkook segera mengemasi bukunya dan berjalan cepat keluar dari kelas. Ia menaiki anak tangga dengan langkah panjang.

Beberapa menit ke depan adalah waktu istirahat sebelum pelajaran tambahan untuk kelas tiga dimulai, dan Jungkook berharap ia bisa menemukan Yoongi di kelasnya.

Ia berjalan menyusuri koridor dan berhenti di depan ruang kelas 3-1. Kelas Yoongi.

Jungkook mengetuk pintu dengan ragu, dan salah satu anak kelas tiga menoleh.

"Permisi, aku mencari Min Yoongi. Apa dia ... ada di kelas?"

Anak kelas tiga itu mengerutkan dahi. "Yoongi tidak masuk hari ini. Dia izin sakit."

"Oh ...." Jungkook diam sejenak. "Dia bilang sakit apa?"

"Tidak. Hanya bilang izin sakit aja. Pagi tadi mengirim pesan ke wali kelas, katanya tidak bisa datang."

Jungkook mengangguk pelan, mengucapkan terima kasih, lalu berjalan pergi menyusuri koridor kembali. Langkahnya lambat.

Dia sakit?

Apa karena kelelahan bekerja semalam?

Tapi ... dia mimisan, kemarin.

Dan wajahnya pucat sekali.

***

Mau diakui atau tidak, pada akhirnya, khawatir dan cemas-lah yang menuntun Jungkook untuk datang ke tempat ini: gedung flat sederhana yang ditinggali Yoongi tiga tahun terakhir. Ia menatap gedung itu ragu. Menyempatkan diri untuk menarik napas panjang, sebelum keluar dari mobil.

"Paman tunggu di sini, ya. Aku hanya sebentar," ucapnya pada Paman Lee–sopir keluarga–dan tanpa menunggu balasan, ia melangkah memasuki gedung, menapaki anak tangga, dan berhenti di depan unit flat Yoongi.

The Last ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang