Pagi itu, cahaya yang menyelinap dari sela-sela jendela ruang tengah jatuh tepat di wajah Janghyun. Mengusik, seolah mendesak pria itu untuk segera menyudahi tidur lelapnya.
Dan pagi itu Janghyun bangun tanpa tahu ia dihadapkan pada sesuatu yang tidak pernah siap ia terima.
Ia mengerjapkan mata, lalu menoleh ke sisi kiri di mana Yoongi berbaring menyamping, menghadap padanya.
Di wajah itu, biasanya selalu ada kernyitan halus di antara alis, atau gelisah yang tertuang dalam hela napas pendek. Namun, pagi ini sulungnya itu terlihat tenang sekali, sampai-sampai garis-garis wajahnya terlihat begitu lembut, seperti seluruh beban yang selama ini memahat rautnya menghilang begitu saja.
Terlalu lembut. Terlalu tenang untuk sebuah tidur. Dan hal itu membuat dada Janghyun menegang oleh rasa takut dan waswas.
Ia mengulurkan tangannya—ragu—berniat untuk merapikan rambut yang menutupi dahi putra sulungnya. Akan tetapi, ketika ibu jarinya menyentuh kening, ia justru merasakan dingin yang aneh—dingin yang dengan cepat menyebar dari ujung jarinya, merayap melalui pembuluh darahnya, dan membekukan setiap ruang di dalam dadanya.
" Gi ...?" panggilnya pelan, yang tidak mendapat jawaban selain hening yang tajam.
Jemarinya yang kini gemetar turun menyentuh pipi si sulung. Ia mengusap sekali, dua kali—dan dari setiap sentuhannya yang ia dapatkan hanyalah dingin yang sama. Dingin yang mengoyak dada.
"Y-yoongi-ya ...," panggilnya sekali lagi. Suaranya parau.
Tidak ada jawaban.
Matanya mulai memanas ketika ia membawa sulungnya dalam dekapan erat. Membenamkan wajah Yoongi pada lekuk bahunya, supaya ia bisa menempelkan dagu di pucuk kepala putranya. Dan saat itulah air matanya jatuh—
—saat ia menyadari tidak ada embusan napas se-samar apapun yang menyentuh lehernya. Tidak ada embus udara yang seharusnya terasa dari tubuh yang begitu dekat.
Hanya ada dingin yang kaku dan diam yang tajam. Hanya ada pedih dalam hatinya.
Karena tidak lagi ada hangat dalam pelukannya.
Karena ia mendapati di pagi itu sulungnya telah pergi meninggalkannya.
***
Jungkook terbangun karena guncangan lembut di bahunya. Ia mengernyit dalam ketika mendapati ayah bersimpuh di sampingnya dengan wajah yang memerah dan tatapan yang basah oleh air mata.
"Ayah? Ada apa?" tanyanya.
Akan tetapi, Ayah justru menunduk dalam diam. Diam yang lama—cukup untuk membuat Jungkook merasa cemas.
"Ayah—"
"Jungkook ...." Ucapannya dipotong dan apa yang keluar dari mulut Ayah berikutnya adalah mimpi buruk yang paling tidak ingin Jungkook dengar.
" ... Yoongi pergi."
Ucapan itu berhasil membuat kantuk Jungkook lenyap seketika.
Ia merasa jantungnya berdetak keras. Terlalu keras dan terlalu cepat hingga rasanya ingin muntah. Ia menoleh ke sisi kiri. Menatap sang Kakak yang tampak lelap dalam pejamnya. Sekilas, terlihat seperti tengah tidur pulas.
Akan tetapi, ada sesuatu yang terasa salah.
Lelapnya terlihat terlalu dalam dan tenangnya terasa terlalu sempurna, bagi dirinya yang telah menghabiskan malam demi malam terjaga di samping sang Kakak.
Jungkook mengguncang bahu kakaknya. Pelan, sembari mengucap panggilan dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
"Hyung? Y-yoongi Hyung ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last ✔
FanfictionDisclaimer: fanfiction | angst - Completed Yoongi kehilangan rumah serta hangatnya keluarga dan saat mereka akhirnya memeluknya kembali, ia justru sedang bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal. [24-06-19]-[28-10-19] Revised.
