Kata Seokjin, regimen baru ini obatnya lebih ringan. Jadi, Yoongi pikir kemoterapi kali ini akan terasa lebih mudah untuk dilewati. Ia berpikir, dengan obat yang lebih ringan itu, dirinya masih akan bisa bercanda di sela-sela hari.
Dan memang begitu rasanya pada dua hari pertama. Namun, mulai dari hari ketiga hingga hampir berakhirnya siklus kemoterapi di hari ini, ia merasa sangat tersiksa. Dia tidak bisa makan, tidak bisa bangun dari tempat tidur, dan seringkali sekadar bernapas saja terasa menyakitkan.
Setiap hari, tubuhnya serasa dirujam dari segala arah. Rasanya sakit, dia lelah. Namun, Yoongi merasa masih terlalu cepat untuk menyerah. Terlebih, sekarang ia punya Ayah dan Jungkook di sampingnya–ia punya alasan untuk bertahan–dan itulah mengapa ia memilih untuk melanjutkan kemoterapi: semata-mata karena tidak ingin membuat ayah dan Jungkook kehilangan kesempatan untuk berharap.
Akan tetapi, Yoongi mulai lelah. Tubuhnya yang rapuh itu perlahan mulai hancur, begitu juga batinnya. Lama-kelamaan, ia merasa rangkaian kemoterapi ini hanyalah usaha yang sia-sia.
Ia sudah tahu dari Seokjin tentang kondisi tubuhnya dan itu membuatnya sadar bahwa kemoterapi ini tidak benar-benar bisa menyembuhkan, melainkan sekadar menekan perkembangan sel kanker dalam tubuhnya.
Setiap kali Yoongi bangun dengan tubuh yang kian lemah, dan setiap kali ia mendapati wajah Ayah dan Jungkook yang diliputi cemas, rasa lelah dan bersalah dalam dirinya semakin menumpuk. Ia merasa bersalah karena telah merampas banyak hal dari Ayah, Jungkook, juga dirinya sendiri.
Ia sudah merampas banyak waktu dan tenaga Ayah. Ia membuat Jungkook menghabiskan hari liburnya di rumah sakit–hari yang seharusnya bisa digunakannya untuk bermain dan beristirahat–membuat adiknya itu harus memilih antara kehidupannya atau kakaknya yang sekarat.
Yoongi sendiri juga merasa telah melewatkan banyak hal: hidupnya, sekolah dan kelas-kelasnya, juga kebahagiaannya.
Ia terdiam lama, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia tertawa? Bukan tawa kering yang keluar untuk menutupi sakitnya, tapi tawa yang benar-benar lepas.
Mungkin beberapa minggu lalu, ketika menonton rekaman turnamen basket bersama Jungkook. Tapi bahkan saat itu ... apakah ia benar-benar tertawa, atau hanya berpura-pura bahagia?
Dirinya bahkan tidak yakin, dan keraguan itu cukup untuk membuatnya merasa sesak.
Pada akhirnya, Yoongi merasa, mungkin ia bertahan bukan semata-mata karena tak ingin Ayah dan Jungkook kehilangan harapan, melainkan karena keegoisannya sendiri–karena ia takut pada kenyataan yang menunggunya bila ia menyerah.
***
"Jika aku menyerah, apa Ayah akan marah?"
Pertanyaan itu masih menggantung di kepala Janghyun sejak Yoongi melontarkannya beberapa hari lalu. Pertanyaan itu datang terlalu tiba-tiba, membuatnya tidak tahu harus bereaksi seperti apa dan menjawab bagaimana.
Jauh di dalam dirinya, Janghyun sadar betul bahwa kondisi putranya semakin hari semakin memburuk. Ia juga mengerti bahwa pertanyaan itu tidak diajukan hanya karena ingin tahu, melainkan cara Yoongi mengungkapkan lelah. Namun, Janghyun–dengan segala ketakutannya akan kehilangan–tidak pernah benar-benar siap untuk menanggapi pertanyaan itu.
Setidaknya sampai hari ini.
Sore ini, Janghyun disibukkan dengan pekerjaan. Ia duduk di sofa–berhadapan dengan laptop yang terbuka dan laporan yang berserakan di meja–ketika terdengar rintihan lirih yang diikuti suara muntah tertahan.
Janghyun segera meninggalkan pekerjaannya dan melangkah cepat ke arah Yoongi yang tengah menahan muntah dengan bekapan tangan di mulut. Ia meraih kantong muntah, lalu membuka lipatannya dengan cekatan. Satu tangannya terulur, mencoba mengurai bekapan tangan Yoongi dari wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last ✔
Fiksi PenggemarDisclaimer: fanfiction | angst - Completed Yoongi kehilangan rumah serta hangatnya keluarga dan saat mereka akhirnya memeluknya kembali, ia justru sedang bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal. [24-06-19]-[28-10-19] Revised.
