Setelah usul pergi ke pantai beberapa hari lalu, Janghyun masih saja menyimpan bimbang di benaknya. Hari ini seharusnya jadi hari yang menyenangkan, hari yang sudah ditunggu-tunggu. Jungkook bahkan tak berhenti menanyakan jam keberangkatan sejak pagi. Tapi di dada Janghyun, ada sesuatu yang berat, semacam pertanyaan yang tak kunjung diam: benarkah ini keputusan yang tepat?
Ia sudah menyiapkan semua yang perlu disiapkan, bahkan sudah menghubungi Seokjin untuk meminta pendapat. Akan tetapi, gelisah masih saja mengintip dari sela-sela benaknya.
Pikirannya kembali mengingat percakapan telepon mereka kemarin sore.
"Dokter Kim, Jungkook mengusulkan untuk pergi ke pantai untuk melihat matahari terbit. Yoongi juga berkata dia ingin. Tetapi ... saya tidak yakin," tuturnya.
"Apa ada keluhan baru belakangan ini?"
Janghyun menghela napas berat. "Nafsu makannya turun beberapa hari terakhir. Kemarin demam ringan. Saya khawatir perjalanan jauh dan udara dingin akan memperburuk keadaannya. Namun, kalau melarang ... saya takut dia kecewa."
Ada hening sejenak. Seokjin di ujung sana terdiam sebelum berucap, "Saya mengerti, Tuan Min. Saya tidak bisa bilang ini tanpa risiko. Udara dingin membuat tubuhnya bekerja lebih keras, membuatnya lebih mudah kelelahan." Seokjin menarik napas dalam. "Akan tetapi, kalau itu keinginan Yoongi sendiri, ada kalanya yang ia butuhkan bukan sekadar terapi medis ... Anda paham, 'kan?" lanjutnya getir.
Min Janghyun terdiam. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Ya. Dia paham, dia mengerti, tetapi rasanya berat sekali untuk mengakuinya.
Saat ini, ia merasa bagaimanapun keputusannya akan tetap terasa salah. Melarang berarti menyakiti hati sulungnya, setuju berarti mempertaruhkan kesehatannya. Tiap langkahnya—kendati telah ia pikirkan berulang kali—datang dengan konsekuensi yang memberatkan hati.
"Jadi, menurut Anda apa Yoongi boleh pergi?" ia bertanya, lirih. Kemudian mengerjap sekali—terkejut—saat mendapat jawaban cepat yang lugas dari si dokter muda.
"Boleh," Seokjin menjawab, "asal pastikan dia cukup hangat. Bawa obat dan oksigen portable, dan jangan biarkan dia terlalu lama di udara dingin. Kalau Yoongi sudah terlalu lelah, segera pulang, jangan dipaksakan," imbuhnya.
"Baiklah ...."
Di seberang sana, ada diam yang lama. Seokjin menimbang kata-katanya dengan hati-hati sebelum akhirnya berucap, "Saya tahu ini berat untuk Anda juga, Tuan Min. Tapi kita sama-sama tahu ... waktu yang Yoongi punya sekarang lebih berharga daripada apa pun. Jika ia bisa merasa sedikit bebas dan bahagia ... maka itu sudah cukup," bunyi ucapan yang menutup percakapan mereka sore itu.
Hingga pagi ini, kalimat terakhir yang diucap dokter muda itu masih terngiang di kepalanya.
"Sudah cukup, ya?" lirih Janghyun seraya mengusap wajah getir. Ia tahu dan paham. Tetapi memahami tidak serta-merta membuatnya mudah untuk menerima.
Pria itu melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah waktunya berangkat. Ia tak bisa lagi bersembunyi dalam kebimbangan. Setelah mencoba mengusir bimbang dengan satu helaan napas, ia melangkahkan kaki menuju kamar si sulung. Tangannya terangkat, mengetuk pelan, sebelum akhirnya mendorong pintu itu terbuka.
"Yoongi, sudah siap?"
Anak sulungnya itu menoleh. Jaket tebal sudah terpasang, syal di leher melingkar rapi, meski helai rambutnya sedikit berantakan karena terburu-buru. Senyum kecil muncul di wajahnya ketika melihat sang ayah berdiri di ambang pintu.
"Sudah," jawabnya. Ada kilatan antusias yang jarang Janghyun lihat belakangan ini dan hal itu sedikit-banyak berhasil menghapus resah yang hinggap di benak Janghyun, membuatnya merasa lega.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last ✔
FanfictionDisclaimer: fanfiction | angst - Completed Yoongi kehilangan rumah serta hangatnya keluarga dan saat mereka akhirnya memeluknya kembali, ia justru sedang bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal. [24-06-19]-[28-10-19] Revised.
