6

8.5K 882 140
                                        

Jungkook tidak pernah merasa se-bersemangat ini. Ia berdiri dengan tim basketnya di tengah lapangan, berhadapan langsung dengan barisan tim lawan. Setelah rangkaian pertandingan penyisihan yang memakan waktu sebulan dilakukan, akhirnya sore ini pertandingan final digelar. Jungkook bisa merasakan bagaimana darahnya berdesir cepat saat mendengar sorak-sorai yang menggema dari bangku penonton. Ada euforia yang mengalir hingga ke ujung jarinya, membentuk senyum penuh percaya diri di wajahnya.

Hari ini, mereka datang bukan untuk kalah. Timnya akan memastikan piala bergilir itu tetap disimpan dalam lemari trofi sekolah.

Begitu peluit panjang dibunyikan dan bola yang dilempar ke atas berakhir di tangannya, Jungkook tahu ini adalah waktu bagi mereka untuk bermain habis-habisan, demi membuktikan bahwa piala itu memang pantas tetap di tangan mereka.

Ia mencetak angka demi angka, tubuhnya lincah menyelinap di antara pemain lawan. Sorak-sorai yang semakin keras dari tribun membuatnya terpicu untuk menutup pertandingan dengan gemilang.

Dan dia berhasil.

Tiga puluh detik terakhir. Skor seri. Jungkook membawa bola melewati setengah lapangan, satu-dua dribble, lompat, dan bola terlepas dari tangannya.

Bunyi "swish!" saat bola menembus ring bersamaan dengan suara buzzer mengakhiri pertandingan. Dan saat itu, sorakan dari tribun terdengar sepuluh kali lipat lebih keras.

Kemenangan.

Jungkook terdiam sejenak, napasnya memburu, sebelum tubuhnya disambut pelukan beruntun dari rekan-rekannya.

"Itu gila, Jungkook!" seru salah satu dari mereka sambil menepuk keras punggungnya. Tubuh mereka saling menabrak dalam pelukan singkat dan pukulan penuh semangat di bahu dan punggung. Sorakan dari tribun masih menggema, tapi di dalam lingkaran kecil itu, hanya ada tawa dan teriakan nama-nama yang saling dipanggil dengan bangga.

Jungkook tidak bisa menahan senyum lebarnya saat mengangkat piala bergilir itu tinggi-tinggi, bersama rekan timnya. Tahun ini, piala ini milik mereka dan sudah seharusnya tetap berada di sekolah mereka: di dalam lemari trofi yang terasa seperti tempatnya yang paling tepat.

***

"Permainan bagus, teman-teman!" seru Jungkook, suaranya sedikit serak karena terlalu banyak berteriak. Ia menepuk punggung beberapa temannya sebelum menyeret langkahnya yang berat namun penuh suka cita menuju ruang ganti.

Matanya menyipit saat menangkap sesuatu yang asing—sebuah kantong kertas kecil berwarna cokelat yang tergantung di kenop loker. Ia membukanya. Di dalamnya ada beanie abu muda yang dilipat rapi, beserta selembar kertas yang bertuliskan, 'Selamat. Kau bermain dengan sangat baik.'

Jungkook mengernyitkan dahi. Tulisan tangan itu ... rasanya tidak asing.

Ah ... Jungkook ingat. Tulisan ini sama dengan yang pernah ia temukan beberapa waktu lalu, saat seleksi tim basket–bersama plester luka dan sebotol air mineral.

Saat itu, Jungkook tidak terlalu memikirkannya. Ia menganggapnya sebagai keberuntungan atau mungkin perhatian dari seorang teman. Tapi sekarang ... ini sudah yang kedua, dan kali ini, kertas itu datang bersama sebuah benda kecil: beanie berwarna abu muda yang dilipat rapi. Ia tidak ingat pernah cerita ke siapa pun bahwa ia menyukai beanie, apa lagi sampai memakainya ke sekolah.

Lalu ... siapa yang tahu?

"Ada yang tahu siapa yang menaruh ini di lokerku?" tanyanya seraya menunjukkan kantong kertas, suaranya menggelegar di antara tawa dan obrolan teman-temannya. Hampir semuanya serentak menggeleng, kecuali seorang temannya yang sempat ragu sebelum mengangkat bahu.

The Last ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang