11

8.1K 823 170
                                        

Dua hari kemudian, siklus kemoterapi pertama dilakukan.

Kemoterapi berlangsung selama tujuh hari berturut-turut. Tujuh hari yang terasa sangat melelahkan dan berat bagi Yoongi.

Hari pertama, rasanya masih ringan. Ketika obat dialirkan ke dalam pembuluh darahnya lewat infus, ia merasa dingin dan geli. Di hari pertama, ia masih bisa bercanda dengan Jungkook–yang datang dan menginap hari itu untuk menemani sang kakak. Akan tetapi, hari-hari berikutnya, semuanya terasa makin berat.

Ada hari dimana ia merasa baik; ia bisa bercanda dengan Jungkook dan tertawa, makan beberapa suap, dan duduk lama. Namun, ada juga saat tubuhnya terasa begitu lemah hingga sulit untuk digerakkan. Ada hari di mana nafsu makan hilang sepenuhnya, yang bahkan membuat air mineral terasa pahit.

Dan semua itu melelahkan.

Tidak hanya untuk tubuhnya, tapi juga untuk batinnya. Terlebih, saat ia mendapati Ayah atau Jungkook yang tidak tidur di malam hari, karena dirinya. Seperti pada malam ke-empat.

Malam itu, Yoongi terbangun saat perutnya mual lagi. Ia menggigit bibirnya kuat, berharap bisa menahan suara dan mualnya segera mereda. Akan tetapi, pada akhirnya, erangan kecil lolos dari bibirnya, dan suara kecil itu berhasil membangunkan Ayah dari tidurnya.

Ayah langsung bangun dari sofa dan mendekat ke ranjang. Matanya masih merah karena kantuk dan wajahnya tampak letih, tetapi geraknya sigap: tangannya dengan cekatan mengambil kantong muntah yang digantung di tempat tidur, lalu membantu Yoongi untuk duduk dan mengelus pelan punggungnya.

"Yoongi ... sudah, jangan ditahan," ucap sang ayah malam itu.

Malam itu berakhir dengan ayah yang tidak beranjak dari kursi samping ranjang hingga pagi tiba. Setiap kali Yoongi membuka mata, ia melihat Ayahnya yang tetap terjaga. Wajahnya letih dan matanya memerah. Pemandangan itu, lebih dari apapun, membuat Yoongi merasa sangat bersalah. Ia merasa benar-benar telah menyusahkan Ayah dan Jungkook.

Kemudian, hari ketujuh tiba. Seokjin bilang, hari ketujuh adalah hari terakhir kemoterapi. Setelahnya, Yoongi bisa istirahat sambil menunggu evaluasi. Dan itu membuatnya sedikit lega.

"Ini hari terakhir, Yoongi," kata Seokjin pagi itu.

Yoongi mengangguk, matanya masih setengah terpejam karena menahan kantuk ketika perawat datang membawa kantong obat kemoterapi dan menyambungkannya ke jalur infus di lengan.

"Jadi, nanti aku bisa pulang, 'kan, Hyung?" tanyanya penuh harap.

Seokjin tersenyum kecil. "Masih harus tunggu seminggu dulu untuk evaluasi, ya," jawabnya. "Kalau setelah itu keadaanmu stabil, kau boleh pulang."

Kemudian, seminggu yang terasa lama sekali akhirnya berlalu. Pagi ini, Seokjin datang ke kamar rawat Yoongi. Di tangannya, ada map cokelat hasil pemeriksaan yang baru saja ia baca. Kedatangannya disambut oleh tatapan Yoongi yang sorotnya tampak berbinar. Raut anak itu juga terlihat lebih segar.

Pandangan Seokjin jatuh pada Janghyun yang duduk di sofa, sedang berkutat dengan laptopnya. Pria itu menoleh, menghentikan pekerjaannya sejenak.

"Pagi, Tuan Min," sapa Seokjin sembari menyungging senyum, sebelum mengalihkan pandangnya pada Yoongi.

"Ada yang terasa sakit?" tanyanya, yang dibalas gelengan kepala.

Yoongi melirik map cokelat di tangan Seokjin, lalu kembali menatapnya dengan pandangan penuh tanya. "Hyung, itu ... hasil kemarin?"

Seokjin mengangguk. "Ya. Ini hasil evaluasi setelah siklus kemoterapi pertamamu," jawabnya, lalu terdiam lama, dan diamnya dokter muda itu berhasil menimbulkan resah di hati Yoongi maupun Janghyun.

The Last ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang