Jam dinding menunjukkan pukul lima tepat saat kelas tambahan hari ini selesai. Yoongi segera membereskan buku dan melangkah cepat menuju gedung olahraga. Suara sepatunya berdecit pelan di sepanjang koridor menuju lapangan basket indoor.
Bagus, pikirnya sembari menghela napas lega. Dia masih punya waktu untuk melihat seleksi tim basket, sebelum pekerjaan paruh waktunya dimulai tepat pukul enam.
Biasanya, lapangan basket indoor sekolah selalu sepi, tetapi tidak pada hari ini, di mana seleksi untuk pertandingan antarsekolah yang akan digelar sebulan lagi sedang berlangsung. Dari kejauhan, terdengar suara sepatu yang bergesekan dengan lantai, gemuruh bola memantul, dan sorak-sorai yang saling bertindihan.
Saat memasuki tribun, Yoongi mengangkat alis. "Ramai juga," gumamnya pelan. Terkejut akan banyaknya siswa yang menonton seleksi sore ini, mengingat hari sudah hampir malam.
Mungkin karena ini seleksi untuk pertandingan antarsekolah, pikirnya. Wajar kalau banyak yang ingin melihat langsung. Terlebih, sekolahnya akan menjadi tuan rumah pada pertandingan antarsekolah tahun ini. Antusiasme itu terasa lumrah.
Yoongi memilih duduk di bangku tribun pojok atas, sedikit tersembunyi, tapi cukup jelas untuk melihat siapa saja yang bermain di lapangan dan di antara belasan siswa yang bergantian menggiring bola itu, hanya satu sosok yang langsung menarik perhatiannya: Jungkook.
Dia tahu, Jungkook akan ada di sana.
Sejak seminggu lalu, kabar tentang seleksi tim basket untuk pertandingan antarsekolah sudah tersebar dan meski tidak ada yang menyebut nama adiknya secara langsung, Yoongi tahu bahwa Jungkook akan ikut. Ia betul seperti apa Jungkook. Ambisius, serius tentang basket, dan tidak pernah melewatkan kesempatan, apalagi untuk hal yang ia sukai.
Di tengah lapangan, adiknya itu menggiring bola melewati dua siswa lain, seolah tubuhnya tahu persis ke mana harus bergerak bahkan tanpa perlu berpikir. Saat ia melompat dan melakukan lay-up, bola mengenai papan dan meluncur masuk ke ring. Tepuk tangan terdengar, beberapa siswa berseru kecil. Jungkook menoleh ke arah mereka dan tersenyum lebar–senyum yang sudah lama tidak Yoongi lihat.
Senyum yang membuat dadanya terasa hangat dan perih dalam waktu bersamaan.
Yoongi mengamati bagaimana senyum lebar terbit di wajah sang adik setiap kali bola menembus ring. Anak itu bahkan tertawa kali ini, menyikut temannya dengan ringan seolah sedang bersenda gurau. Yoongi tersenyum kecil, adiknya terlihat begiru bersinar di tengah lapangan.
Akan tetapi, senyumnya hilang saat tiba-tiba Jungkook terjatuh–tersandung kakinya sendiri. Suara benturan terdengar jelas bahkan dari tribun yang Yoongi sontak menegang. Lutut Jungkook mengenai lantai dan darah tampak sedikit merembes di celana hitamnya.
Jantung Yoongi mencelos.
Tapi hanya beberapa detik kemudian, Jungkook bangkit lagi. Lututnya lecet dan bahunya ngilu, tetapi ia tidak ambil pusing. Ia menepis tangan temannya yang ingin membantu, mengibaskan tangan sembari mengulurkan ibu jari dan tertawa–menganggap jatuh tadi bagian dari permainan–, dan kembali berlari seolah tak terjadi apa-apa.
Di tempatnya, Yoongi masih butuh waktu beberapa detik untuk bisa bernapas normal lagi. Bahunya yang semula menegang perlahan turun. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan helaan napas panjang lolos dari bibirnya.
"Dasar ceroboh," ia bergumam pelan. Ada lega dalam suaranya.
Yoongi melirik ponselnya sejenak. Pukul lima tiga puluh. Ia harus segera pergi. Dengan enggan, Yoongi bangkit dari kursinya. Sebelum meninggalkan area lapangan indoor, Yoongi menyempatkan diri mampir ke mart kecil di samping kantin sekolah, membeli dua buah plaster luka dan sebotol air mineral, dan kembali ke lapangan basket: menuju ruang loker.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last ✔
FanfictionDisclaimer: fanfiction | angst - Completed Yoongi kehilangan rumah serta hangatnya keluarga dan saat mereka akhirnya memeluknya kembali, ia justru sedang bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal. [24-06-19]-[28-10-19] Revised.
