20

7.5K 772 260
                                        

Di pengujung siang yang dingin, akhirnya mobil berhenti di halaman rumah. Di bangku belakang, Jungkook masih memaku pandang pada sang kakak yang belum juga membuka mata sejak perjalanan pulang mereka dari pemakaman.

"Hyung?" panggilnya pelan—mencoba membangunkan—tetapi tidak ada sahutan. Jadi, ia mencondongkan tubuh, menepuk pelan bahu kakaknya. "Hyung, kita sudah sampai," bisiknya yang lagi-lagi tidak terbalas.

Janghyun menoleh ke belakang. Dari tempat duduknya, ia bisa melihat bagaimana Jungkook yang mulai cemas setelah berulang kali menepuk bahu dan memanggil nama sang kakak tanpa mendapat jawaban.

"Biar Ayah," ucapnya. Lantas, ia melepas sabuk pengaman, keluar lebih dulu, lalu membuka pintu belakang di sisi Yoongi. Dengan hati-hati, ia menunduk, mengelus bahu sulungnya.

"Yoongi," panggilnya lembut sembari menggoyangkan pelan tubuh itu, tetapi—sama seperti si bungsu—ia tidak mendapat balasan apapun. Hanya ada kernyitan samar di dahi dan gerak berat dari dada yang naik-turun perlahan.

Janghyun menatap wajah pucat sulungnya lama. Lingkar hitam di bawah mata dan bibir yang tampak kehilangan warna itu membuatnya urung untuk kembali membangunkan.

Pria itu menarik napas panjang, tatapannya melembut.

"Kau lelah sekali, ya ...," lirihnya. Maka, dengan gerakan hati-hati, ia menyelipkan satu tangan di bawah lutut Yoongi, satu lagi di punggung, lalu mengangkat tubuh itu ke pelukannya.

"Jungkook-ah, bisa tolong bukakan pintu rumah?" ucapnya yang dibalas cepat dengan anggukan.

Si bungsu segera turun dari mobil, berlari kecil ke depan untuk membuka pintu rumah. Sementara itu, dirinya menggendong tubuh si sulung dengan hati-hati. Begitu sampai di kamar, ia menurunkannya perlahan ke atas ranjang dan menyelimutinya sebatas bahu. Ditatapnya wajah yang tampak lelah itu lama.

Dari ambang pintu, Jungkook menatap semua itu dalam diam. Ia menggigit bibir. Pandangnya tidak lepas dari wajah kakaknya yang pucat. Anak itu menunduk. Ada gelenyar aneh di dadanya. Campuran sesak, cemas, dan takut yang belum berani ia beri nama.

***

Yoongi terbangun dengan kepala berat. Pandangannya butuh beberapa saat untuk bisa fokus pada langit-langit ruangan yang ia kenal betul. Anak itu mengernyitkan dahi.

Ini, kamarnya?

Kernyitan di dahinya kian dalam begitu sadar ada sesuatu yang mengganjal di hidungnya. Tangannya terangkat, meraba selang tipis yang melintang di pipi.

Apa ini ...?

Perlahan, Yoongi memaksa tubuhnya untuk bangun dan menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Ingatan terakhirnya masih kabur. Ia hanya ingat duduk di mobil, lalu tertidur sebab kelopak matanya terasa terlalu berat untuk dibuka. Setelah itu gelap dan sekarang tidak tahu bagaimana caranya ia sudah di kamar. Entah siapa pula yang memasang selang oksigen ini padanya.

Baru ia sempat menarik selang itu sedikit, suara familiar dari ambang pintu lebih dulu menghentikan geraknya.

"Jangan coba-coba lepas itu."

Yoongi mendongak. Terpaku sejenak ketika pandangnya menangkap keberadaan Seokjin—berdiri di ambang pintu kamar dengan tangan menyilang di depan dada. Jungkook muncul di belakangnya.

"Seokjin Hyung ...?" ucapnya pelan, setengah bingung. "Kenapa Hyung ada di sini?"

"Karena ada seseorang yang panik setengah mati dan menelepon sambil menangis," jawab Seokjin sambil melirik Jungkook yang menunduk—berusaha menyembunyikan mata yang sembap dan wajah yang memerah karena malu.

The Last ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang