16

7.4K 799 189
                                        

Sore ini, infus di tangan Yoongi sudah dilepas. Pakaian rumah sakit juga sudah digantikan dengan jaket tipis dan celana rumah yang lebih nyaman. Anak itu duduk di sofa kamar rawat, menunggu Ayah selesai melipat pakaian dan mengemas barang ke dalam tas sambil sesekali melirik ke pintu.

Yoongi menarik napas dalam. Semua persiapan untuk pulang hampir selesai, tetapi ada berat di dadanya.

Sudah satu minggu sejak ia menyampaikan keputusan untuk berhenti menjalani kemoterapi dan beralih ke perawatan paliatif. Selama seminggu itu pula, Jungkook tidak lagi datang menjenguk.

Yoongi mengerti. Keputusan untuk berhenti itu memang bukan sesuatu yang mudah diterima, bahkan untuk dirinya sendiri. Jadi wajar jika adiknya merasa kecewa. Dalam pikirannya berkali-kali terlintas tentang Jungkook yang berhak marah, kecewa, bahkan membencinya, dan Yoongi tidak akan pernah menyalahkan Jungkook untuk itu.

Akan tetapi, nyatanya, setiap sore di waktu Jungkook biasa datang, Yoongi selalu mengarahkan pandang pada pintu. Rupanya, masih ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap Jungkook datang–bahkan jika hanya untuk melempar tatapan dingin–dan setiap kali pintu itu tak kunjung terbuka, ia kembali menelan kecewa yang sama.

***

Seokjin sudah terbiasa melepas pasien pulang dan biasanya akan ada rasa lega saat melakukannya. Sebagai dokter, ia tahu tugasnya: memastikan instruksi jelas, obat tidak terlewat, kontrol berikutnya tercatat, dan selesai.

Tapi hari ini, tugas itu rasanya berat sekali untuk dilakukan.

Ia menghela napas panjang. Seminggu yang lalu, ketika Yoongi mengutarakan keputusannya untuk berhenti kemo, Seokjin sudah mencoba membujuknya untuk bertahan sebentar lagi. Ia sudah memaparkan semua argumen medis hingga nyaris kehilangan kendali sebagai dokter, tetapi tetap saja Yoongi menolak, membuat Seokjin tidak bisa lagi melakukan apa pun untuk membujuknya.

Dan di sinilah anak keras kepala itu. Duduk di sofa kamar rawat sembari menatapnya dengan mata yang menyipit karena senyum, terlihat senang karena akan pulang sore ini. Seokjin mendekat, berdiri di hadapan Yoongi dan menatapnya lekat-lekat, memastikan kondisi anak itu benar-benar stabil sebelum kepulangannya.

Yoongi yang ditatap lama mengernyitkan dahi. 

"Aku boleh pulang, 'kan Hyung? Tidak lucu kalau harus menginap lagi setelah kau bilang sendiri kemarin kalau aku boleh pulang hari ini," gerutunya panjang lebar, sebab Seokjin tidak berucap apapun setelah mengamatinya lama–dari kepala hingga ujung kaki.

Seokjin mendengus. Ia mencondongkan tubuh, menyentil pelan dahi Yoongi yang membuat anak itu mengaduh dan buru-buru mengusap dahinya.

"Kusentil agar kau ingat ini baik-baik," Seokjin berucap, menahan senyum saat melihat Yoongi memanyunkan bibir, merajuk. Sesaat kemudian ia berdeham, suaranya kembali tenang dan serius.

"Pertama, jangan terlalu lelah. Kalau merasa lemas sekali, mual parah, atau ada pendarahan yang tidak wajar, jangan tunggu lama. Segera ke IGD. Kedua, obatnya juga jangan sampai lupa, tetap harus diminum rutin," ujarnya yang dibalas dengan anggukan.

"Dan terakhir ..." Seokjin berhenti sebentar, sorot matanya meneduh, "... jangan tahan sakitmu sendirian, Yoongi. Ceritakan ke Ayah, Jungkook, atau aku tentang sakitnya. Biarkan kami tahu. Jangan berpikir kau harus kuat sendirian," imbuhnya.

Untuk sesaat, kata-kata Seokjin membuat Yoongi terdiam. Sekali lagi ia mengangguk, sembari menyungging senyum yang kali ini lebih mirip menahan getir ketimbang bahagia.

Seokjin melirik ke arah Tuan Min yang sudah selesai membereskan barang-barang. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan berat.

Sebagai dokter, Seokjin tahu ia tak bisa memaksa–bahwa hak untuk memilih jalannya tetap ada di tangan Yoongi. Tetapi sebagai seorang "kakak" yang pernah menyaksikan anak itu berjuang sendirian, ia ingin sekali mengguncang bahunya, memohon agar Yoongi bertahan sedikit lebih lama. Namun, pada akhirnya tidak ada yang bisa ia lakukan, selain mengulang petuah yang terasa berat di lidah.

The Last ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang