Seokjin keluar dari ruang rawat dengan langkah pelan. Kali ini, ada kelegaan di wajahnya. Ia berjalan mendekati Jungkook dan Min Janghyun yang duduk di kursi tunggu.
Jungkook yang melihat Seokjin mendekat spontan berdiri. Ia menghampiri Seokjin dengan langkah tergesa. Cemas terpampang jelas pada wajahnya
"Yoongi Hyung, bagaimana katanya?" suara Jungkook pelan, tapi terburu. "Dia akan menjalani pengobatannya, 'kan?"
Sejenak Seokjin terdiam, mengulum senyum sebelum mengangguk kecil. "Dia akan coba," ujarnya, dan seketika, raut di wajah Jungkook beralih dari cemas menjadi kelegaan luar biasa. Anak itu memejam singkat, dan saat membuka mata lagi sudut bibirnya terangkat tipis. Kilatan gelisah di sorot mata anak itu kini digantikan dengan binar yang hangat.
Seokjin lalu menoleh ke arah ayah Yoongi. Pria itu masih sama diamnya. Akan tetapi, dengan sekali tatap saja, Seokjin tahu pria dua anak itu merasakan hal yang sama seperti Jungkook; terlihat dari bahu tegangnya yang turun dan helaan napas singkat yang nyaris tidak terdengar.
"Lalu, apa aku boleh masuk?" Jungkook bertanya penuh harap, dan setelah menerima anggukan dari Seokjin, anak itu segera melangkah masuk.
Selepas kepergian Jungkook, pandangan Seokjin jatuh sepenuhnya pada pria yang terduduk diam. Ia melangkah mendekat, berdeham pelan untuk mengambil atensi, sebelum berucap,
"Tuan Min. Kami akan segera mulai proses persetujuan tindakan. Kami usahakan biopsi sumsum tulang dilaksanakan sore ini. Sebelum itu, kami perlu persetujuan tertulis dari wali keluarga."
Min Janghyun mengangguk. "Tentu," jawabnya cepat. Ia berdiri dan berjalan di belakang Seokjin, setelah dokter itu meminta untuk mengikutinya untuk mengisi formulir persetujuan.
***
Prosedur untuk tindakan biopsi sore nanti telah dijelaskan, tanda tangan sudah dibubuhkan di atas lembar persetujuan, dan lembar itu sudah dibawa keluar oleh perawat beberapa saat lalu. Selama itu juga, Janghyun masih belum beranjak dari tempat duduknya. Pria itu merasa masih ada beban yang belum terucap, yang membuatnya ragu untuk bangkit dan pergi.
Dan Seokjin menyadarinya. Lelaki itu menyadari adanya bayangan risau dari pria paruh baya di hadapannya. Maka, ia pun diam, membiarkan waktu berlalu sesaat–memberi ruang bagi Janghyun untuk mengumpulkan kata-kata–sebelum berucap penuh kehati-hatian, "Tuan Min. Jika ada yang ingin Anda bicarakan, saya siap mendengarkan."
Janghyun menarik napas panjang, menatap ke meja di depannya, lalu mengangkat pandangan ke Seokjin. "Saya ingin tahu ... tentang apa saja yang sudah saya lewatkan selama ini, tentang kondisi Yoongi," ucapnya pelan. Ada kesungguhan di matanya yang membuat Seokjin merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat, di mana ia harus mengatakan semuanya. Setelah semua ini, rasanya, Seokjin tidak bisa membiarkan Yoongi sendirian lagi, meski anak keras kepala itu pasti akan berkata bahwa ia sudah terbiasa sendirian.
Maka, Seokjin memberitahu semuanya. Tentang hari di mana Yoongi datang ke rumah sakit untuk pertama kalinya, tentang vonisnya, tentang kesendirian anak itu, juga ... tentang alasannya berhenti minum obat.
Bagi Janghyun, semua cerita Seokjin itu menamparnya keras. Dadanya sesak, seolah dihimpit oleh rasa bersalah yang tak tertahankan. Selama ini, dia berpikir bahwa menjauhkan Yoongi dari Jungkook adalah cara yang ia pilih untuk melindungi diri–supaya tidak terasa sakit, supaya tidak harus merasakan kehilangan, takut, dan tidak harus merasakan gagal yang rumit–karena kadang, punya sesuatu untuk disalahkan itu seperti memberi diri sendiri alasan untuk bertahan, meski sebenarnya itu hanya cara untuk menghindar dari rasa sakit yang sesungguhnya.
Selama bertahun-tahun, yang dilihatnya adalah Jungkook yang tampak baik-baik saja, begitupun Yoongi. Itu membuatnya merasa yakin bahwa pilihannya—untuk menjauh, untuk menunjuk Yoongi sebagai biang keladi—adalah benar. Bahwa dengan caranya itu, semuanya akan baik-baik saja. Bahwa dengan cara itu, ia tidak akan kehilangan lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last ✔
FanfictionDisclaimer: fanfiction | angst - Completed Yoongi kehilangan rumah serta hangatnya keluarga dan saat mereka akhirnya memeluknya kembali, ia justru sedang bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal. [24-06-19]-[28-10-19] Revised.
