8

8K 837 67
                                        

Seokjin baru saja menyelesaikan input laporan kontrol terakhir hari ini ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Panggilan dari IGD. Ia mengangkatnya cepat.

"Dokter Kim Seokjin?" Suara perawat terdengar terburu-buru. "Ada pasien onkologi yang baru masuk. Namanya Min Yoongi. Datang dalam kondisi tidak sadarkan diri. Anda tercatat sebagai dokter penanggung jawab, jadi kami harap Anda bisa segera ke IGD."

Seokjin membeku sesaat. Ia mengerjap, beberapa kali–seolah memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

"Maaf, siapa namanya?"

"Min Yoongi."

Seokjin terdiam. Rahangnya mengeras dan tangannya yang memegang ponsel perlahan mengencang tanpa sadar.

"Bilik berapa?"

"Bilik enam, Dok."

Ia menutup telepon, lalu berdiri, dan keluar ruangan dengan langkah lebar; menuju instalasi gawat darurat. Ada kernyitan samar di dahi dan raut gelisah di wajahnya. Barangkali, di sela langkah lebarnya, lelaki itu bertanya-tanya dalam benak:

Yoongi. Ada apa?

***

Begitu memasuki area IGD, langkah Seokjin langsung mengarah ke bilik nomor enam. Tapi ia berhenti sejenak ketika melihat dua orang duduk di kursi tunggu.

Lelaki paruh baya dan anak lelaki yang pernah ia temui: Jungkook.

Keduanya duduk dalam diam. Ada semacam ketegangan yang menggantung di udara. Jungkook menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Di sampingnya, si lelaki paruh baya hanya duduk tegak, tapi ekspresi wajahnya tak kalah gelisah. Satu kata yang mewakili air muka keduanya: khawatir. Dan entah kenapa, hal itu berhasil membuat langkah Seokjin melambat. Seolah-olah, kekhawatiran dua orang itu menjangkit benaknya.

Ia mendekat lalu berhenti sejenak di depan bilik bernomor enam yang tertutup rapat oleh tirai. Untuk sesaat, Seokjin hanya berdiri di sana, diam, memberi waktu pada pikirannya untuk bersiap.

Lalu, dengan helaan napas singkat dan satu tarikan halus, ia menyibak tirai itu.

Dan Seokjin merasa ada suatu yang berat di dadanya, saat pandangnya jatuh pada siapa yang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang

Yoongi.

"Dokter Kim?" suara seorang perawat memanggil pelan, menariknya dari semua keterkejutan. "Pasien datang dalam keadaan tidak sadar dan demam tinggi. Ada riwayat leukemia di sistem, jadi kami hubungi Anda."

Seokjin mengangguk pelan.

"Selain itu, kami menemukan ini di saku pakaian pasien," lanjut perawat itu, sembari mengulurkan botol obat kepada Seokjin.

Seokjin mengernyit. Ia memeriksa labelnya dan membuka tutup botol itu. Begitu melihat isinya, napasnya tercekat.

Isinya hampir penuh.

Padahal, kontrol terakhir Yoongi adalah bulan lalu, dan anak itu harusnya datang minggu depan.

Seharusnya, kalau diminum sesuai anjuran, botol itu hampir habis sekarang. Tetapi, kalau isinya masih sebanyak ini ....

Seokjin menggenggam botol itu kuat-kuat. Jemarinya mencengkeram keras hingga kukunya memutih. Wajahnya tegang. Ia ingin marah, ingin mengomel panjang lebar. Yoongi tahu seberapa pentingnya obat ini, tetapi kenapa tidak diminum sesuai anjuran? Atau bahkan, kenapa Yoongi tidak meminumnya?

Dengan napas yang berat, Seokjin mengangkat wajahnya, mencoba menenangkan diri. Ia menyimpan botol obat itu di saku jasnya, lalu menoleh ke perawat yang masih berdiri di sisi tempat tidur.

The Last ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang