1

18K 1K 67
                                        

Jam enam lewat tiga puluh.

Hari Minggu dan waktu masih terlalu pagi memulai kegiatan di hari libur. Akan tetapi, cahaya matahari yang menyorot wajahnya dari sela-sela tirai jendela kamar seolah memaksa Jungkook bagun. Rambutnya masih berantakan, kedua matanya masih berat untuk terbuka, langkahnya menuju kamar mandi pun masih setengah melayang, disertai helaan napas panjang, seolah kehilangan waktu tidur satu jam adalah kesialan terbesarnya pagi ini.

***

Bagi Jungkook, tangga rumah selalu terasa panjang di pagi–terlebih di hari Minggu–karena kantuk yang masih menempel di mata. Ia menuruni anak tangga satu per satu sambil menguap kecil. Kemudian, pandangnya menyapu ke ruang makan, dan mendapati pemandangan seperti biasanya, di mana ayahnya sudah duduk di hadapan meja makan yang rapi dengan berbagai hidangan hangat.

"Ayo sarapan, Jungkook."

"Iya, Ayah," jawab Jungkook. Suaranya masih berat, terkesan diseret malas. Namun, ia mempercepat langkahnya–setengah berlari–dan menarik kursi dengan bunyi samar sebelum duduk.

"Jangan berlari." Janghyun menggeleng pelan, yang dibalas dengan cengiran nakal si bungsu.

Mereka makan dalam diam, hanya terdengar suara sendok dan aroma makanan hangat, hingga suara Ayah mengudara, 

"Sore nanti, kita jemput dia."

Kalimat itu berhasil membuat Jungkook berhenti mengunyah. Ia mengernyitkan dahi bingung dan kesal. Paham betul akan siapa 'dia' yang dimaksud sang Ayah.

"Untuk apa?" sahutnya cepat, "aku tidak mau!" 

"Hanya makan malam bersama klien. Hanya malam ini saja," jawab Janghyun singkat, lalu berdiri meninggalkan meja makan, meninggalkan Jungkook yang kini mencengkeram tangkai sendok dengan kuat hingga buku jarinya memutih. Percakapan singkat tadi membuat selera makannya hilang. 

Jungkook berdecak sebal. Pagi yang sial sekali, pikirnya.

***

Di sebuah flat kecil, seorang remaja meringkuk dalam tidurnya. Tubuhnya gemetar, dibasahi keringat dingin dan di wajahnya tergurat kesakitan samar. Bibirnya digigit kuat, berusaha menahan erangan yang berkali-kali mencoba lolos dari tenggorokannya.

"Ergh ...." 

Hanya erangan lirih yang berhasil keluar, bercampur dengan napas hela napas berat Yoongi: remaja delapan belas tahun yang kini memejam erat. Denyutan sakit di kepala dan ngilu di sekujur tubuh membuatnya tidak bisa bergerak.

Di tengah kernyitan menahan sakitnya, samar-samar, Yoongi dapat mendengar suara pintu yang terbuka.

Pintu flat itu dibuka dengan dorongan pelan, menampakkan presensi seorang lelaki di ambang pintu.

Si lelaki di ambang pintu–Kim Seokjin–masuk dengan raut cemas yang terpancar jelas di wajahnya. Beberapa saat lalu, ponselnya bergetar oleh panggilan singkat dari Yoongi yang bertanya apakah dia bisa datang kemari. Suara di seberang terdengar parau dan bergetar dan itu cukup untuk memberitahu Seokjin bahwa Yoongi sedang dalam keadaan tidak baik. 

Panggilan telepon singkat itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan ia datang ke flat ini dengan tergesa.

Kini, tatapannya tertuju pada sosok remaja yang meringkuk di atas ranjang dengan tubuh basah oleh keringat dingin. 

"Yoongi?" panggilnya pelan. Ia segera melangkah mendekat pada remaja yang kesakitan. Seokjin bergegas menopang tubuhnya dengan hati-hati, berusaha membantu Yoongi berbaring telentang, mencari posisi yang paling tidak menyakitkan baginya. Lelaki itu meringis kala merasakan panas saat tangannya menyentuh lengan si remaja.

Demam.

"Yoongi, bisa dengar aku?" Seokjin bertanya, suaranya sarat kekhawatiran. Butuh beberapa detik sebelum tubuh Yoongi bergerak pelan dan matanya terbuka, menampakkan sorot berair yang diselimuti kabut nyeri.

"Yoon, bisa minum obat?" lanjutnya sambil menepuk pipi pias Yoongi dan merasa lega ketika mendapatkan anggukan lemah.

"Bagus."

Ia mengambil tablet obat dan air mineral dari tas selempangnya.

Dengan cekatan, Seokjin mengeluarkan satu butir pil pereda demam dan membukanya dengan gerakan terlatih. Tangannya bergerak cepat; menopang kepala Yoongi agar sedikit tegak.

"Ini agak pahit, tapi kau harus telan, oke?" bisiknya pelan.

Yoongi berusaha membuka mulut dan Seokjin menyelipkan sebutir pil ke lidahnya, lalu menyodorkan botol air ke bibir pucat itu, menuntun hingga cairan dirasa cukup untuk bisa menelan obat.

Setelah memastikan obat tertelan, Seokjin menurunkan kepala Yoongi perlahan.

"Bagus. Istirahat, ya ... Hyung di sini."

Seokjin tetap duduk di sisi Yoongi, satu tangannya tak lepas menggenggam tangan si remaja yang dingin dan basah oleh keringat.

Waktu seolah berjalan lambat. Seokjin sesekali menyeka dahi Yoongi dengan sapu tangan bersih dari sakunya, membiarkan sapuan lembut itu menyingkirkan butir-butir keringat yang terus bermunculan. Matanya tak berpaling, mengamati tiap gerak kecil: rengutan alis, tarikan napas berat, hingga rintihan nyaris tak terdengar dari bibir Yoongi.

Sekitar dua puluh menit berlalu dan perlahan, suhu tubuh Yoongi mulai menurun. Pias di wajahnya masih ada, tapi napasnya tak lagi seberat sebelumnya. Gerakan tangannya yang semula lemas pun mulai menunjukkan sedikit tenaga saat menggenggam balik jari-jari Seokjin. Obatnya mulai bekerja.

"Hyung ...," bisik Yoongi pelan, matanya terbuka separuh, sayu namun tak lagi sekelam tadi.

Seokjin menunduk cepat. "Ada yang sakit?"

Yoongi hanya menggeleng pelan, lalu menatap langit-langit. "Hanya sedikit umm—lelah."

Seokjin mengangguk pelan. "Hmm ... wajar. Tubuhmu sedang berperang dengan penyakit, 'kan?" balasnya sembari menyungging senyum.

Yoongi bukan siapa-siapanya secara darah. Bukan adik kandung, bukan pula saudara jauh. Akan tetapi, dia adalah pasien pertamanya. Dan sejak hari pertama Yoongi datang di hadapannya, Seokjin tidak pernah bisa lagi menganggapnya sekadar pasien.

Seokjin sempat bertanya-tanya tentang mengapa dirinya bisa sebegitu peduli pada seorang remaja yang bahkan tidak ia kenal.

Mungkin saja, karena kesunyian yang dibawa Yoongi ke ruang praktik itu—sunyi yang terlalu pekat untuk usia semuda itu. Mungkin, karena setiap tarikan napas berat, setiap tatapan kosong yang kadang tertangkap ketika anak itu berpura-pura kuat, dan setiap tawa lirihnya membuat Seokjin merasa bahwa ada sesuatu dalam diri Yoongi yang terlalu rapuh untuk dibiarkan sendiri.



tbc

The Last ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang