Jam dinding berdetak seakan sepuluh kali lebih lambat. Di koridor rumah sakit itu, seorang pria berwajah Kaukasian tengah melangkah dalam gerakan maju mundur dengan raut cemas yang jelas di wajahnya. Ia menggosokkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya frustasi. Pikirannya tersita oleh sosok yang tengah bergelut antara hidup dan mati di dalam ruangan serba putih itu, demi menghadirkan sebuah jiwa baru dalam hidup mereka.
Derap langkah beberapa pasang sepatu yang bergesekan dengan lantai dingin rumah sakit. Tampak wajah kedua orangtuanya dan kedua mertuanya yang menyiratkan ekspresi yang sama. Khawatir. Cemas. Antusias. Takut. Dan terkejut.
"Ka, gimana keadaan Maureen?" Mama mertuanya menginterupsi pergolakan batinnya.
"Azka nggak tahu, Ma. Dari tadi Dokter dan Suster nggak ada yang keluar dari ruangan. Udah dua jam dia di dalam." Nada panik dan khawatir sarat terdengar dalam suara beratnya.
"Kenapa dia melahirkan sekarang? Bukankah dijadwalkan tiga minggu lagi dia baru lahiran?" Mamanya yang kini mewawancarainya dengan pertanyaan baru.
"Azka nggak tahu, Ma. Mungkin, dia tertekan dan shock atas semua peristiwa yang baru-baru ini terjadi. Tadi... tadi juga Azka memperlihatkan scrapbook masa lalu kami. Dan mungkin dia shock menerima fakta sedrastis itu. Ini semua salah Azka, Ma Pa. Kalau aja Azka nggak egois memperlihatkan semuanya pada Maureen... kalau aja Azka mau menunggu hingga ingatannya pulih sendiri... kalau aja--"
"Azkanio Geovanni! Masalah ini tidak akan ada habisnya kalau kamu terus bermonolog dengan kata 'kalau aja'. Yang harus kita lakukan sekarang bukan menyesali yang sudah terjadi. Seharusnya kita berdoa untuk keselamatan Maureen dan anak kalian!" Papa-nya memotong ucapannya dengan bentakan tegas. Menyadarkan Azka dari rasa bersalahnya untuk menghadapi kenyataan yang terjadi.
Papanya benar. Merutuki yang sudah terjadi tidak akan membuahkan apapun. Hanya rasa bersalah yang semakin membuncah, memenuhi rongga hatinya.
Azka menunduk pasrah, memanjatkan doa dalam hening.
Tuhan, selamatkan dua jiwa yang menjadi hidupku...
***
Di dalam ruangan bersalin, ketegangan tengah berlangsung.
"Dok, bagaimana ini? Panggul pasien terlalu kecil untuk melahirkan normal. Lagipula, resiko pendarahan bisa saja terjadi."
"Segera persiapkan operasi caesar. Hubungi keluarga pasien untuk meminta ijin dilakukannya operasi."
Sebuah tangan yang bergetar hebat menahan sakit terulur menahan langkah suster yang baru saja akan beranjak keluar dari ruangan.
"Ng--nggak Dok, Sus. Saya... saya ingin melahirkan... normal... ughh... ijinkan.. saya... melahirkan secara normal..." desisnya menahan rasa sakit yang semakin hebat menderanya. Mengoyak tubuhnya dari dalam.
"Tapi resikonya terlalu besar, Bu. Nyawa Ibu dipertaruhkan disini," Sang dokter masih menyanggah keinginan wanita yang tengah bergumul dalam rasa sakit itu.
"Saya mohon... Dok... saya kuat... ijinkan saya melahirkan selayaknya... wani--ta biasa.." dengan napas tersengal-sengal, ia tak putus memohon agar dapat diijinkan melahirkan buah hatinya yang pertama secara normal. Bagaimanapun, ia ingin merasakan sendiri pengalaman ketika anaknya berjuang keluar dari rahimnya.
Sang dokter terlihat larut dalam pemikiran yang dalam. Keningnya berkerut, mempertimbangkan secara serius permintaan wanita itu dan dampak yang mungkin terjadi. Akhirnya, ia sampai pada sebuah kesimpulan.
"Sus, persiapkan kelahiran normal." Wanita itu mendesah lega.
"Dok... bisa... tolong panggilkan... suami saya? Saya... ingin ia melihat.. sendiri.. ugh... kelahiran putrinya..." pinta wanita itu sambil berusaha menekan rasa sakit yang ia rasakan.

KAMU SEDANG MEMBACA
27 to 20
RomanceWhat will you do if you sleep for a long time and wake up with no memories left on your mind about the current situation? Additional problem, you later learn that you are pregnant with the kid of your ultimate biggest enemy in life. What a terrible...