Sehabis berbincang mengenai kerjasama untuk instansi milik Hendery, Mark membawa rekan kerja sekaligus teman dekatnya itu untuk berkunjung ke rumah sang ibu.
Ya, Hendery cukup kenal baik dengan Ibu Mark. Begitupula Mark yang kenal baik dengan keluarga sahabatnya itu. Namun Hendery harus melanjutkan ke perguruan di negeri tetangga. Sehingga mereka jarang bertemu.
"Aku rindu dengan ibu cantikmu"
Mark memutar bola mata. Rata-rata teman-temannya akan berkata seperti itu saat Mark mengajak ke rumahnya. Baik dulu maupun sekarang. Sungguh kecantikan ibunya luar biasa. Padahal itu hanyalah kamuflase untuk sikap menyebalkan dan dramatis nyonya besar Lee.
Mobil Mark memasuki perkarangan rumah sang ibu. Mereka berdua turun dan terlihat Jeno yang sedang membersihkan kaca mobil ibu Mark.
"Jen, ibuku ada?"
"Tentu Hyung" jawab Jeno sambil tersenyum sopan.
"Hendery Gege?" Yakin Jeno begitu melihat seseorang di belakang Mark.
Hendery yang fokus dengan ponselnya balik melihat Jeno. Setalah itu mereka berepelukan ala pihak atas.
"Apa kabarmu Ge? Kau terlihat begitu tampan dan dewasa sekali"
Hendery terkekeh kecil, "Terimakasih pujianmu. Aku baik-baik saja. Tampaknya kau juga bukan?"
"Tentu"
"Ekhem" Dehaman Mark menghentikan tawa kedua pria itu.
"Ah maafkan aku Mark Hyung. Permisi aku mau melanjutkan pekerjaan" pamit Jeno paham akan petuah tak langsung Mark.
"Ayo"
Mark melangkah masuk lalu berjalan ke ruang tamu. Namun tidak ada sosok sang ibu.
"Dery, kau duduk dulu ya. Aku mau panggil ibuku"
"Oke Mark"
Mark meninggalkan temannya di ruang tamu. Dia berjalan ke kamar sang ibu yang tertutup. Mark mengetuk pintu itu.
"Eomma?" Panggil Mark. Tapi yang Mark dapat adalah suara tangisan lemah.
"Eomma? Eomma kau ada sini kan?"
Pergerakan terdengar dari dalam. Artinya sang ibu ada.
Pintu terbuka, terlihat Taeyong dan mata agak sembab keluar.
Mark menatap lekat ibunya, "kenapa eomma menangis?"
Taeyong kelagapan untuk menjawab.
"T-tidak Mark eomma menangis karena drama"
Alasan yang tepat untuk menggugurkan kecurigaan Mark.
"Hm baiklah. Jangan sampai eomma menangis karena bajingan itu lagi atau aku tak segan-segan menghancurkan bajingan itu"
Lihat sebetapa kejamnya niat Mark.
Sebagi informasi, Mark pernah hampir menghajar bajingan yang dimaksud hingga hampir kritis. Untung saja dapat dipisahkan oleh Jeno yang tidak sengaja mengejar Mark yang pergi cukup lama.
Alasan Mark tak lain adalah bajingan itu mencoba mendekati ibunya kembali.
Mark yang kalut hampir menewaskan sang penyumbang DNA dalam tubuhnya.
"Oh ya Minhyungie ada apa?" Tanya Taeyong.
"Hendery kesini. Dia mau bertemu eomma."
Taeyong menampilkan wajah bahagianya.
"Maksudmu calon dokter muda tampan itu?!"
"Bukan calon lagi eomma"
Taeyong mengabaikan anak kandungnya lalu berlari untuk bertemu Hendery.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Lee
أدب الهواةDonghyuck, 17 tahun; dipaksa ayahnya menikah dengan seorang laki-laki dewasa yang sukses di Kanada namun berdarah Korea Apakah yang akan terjadi? Bagaimana 'drama' bahtera rumah tangga yang akan mereka jalankan? Warning! YAOI! BXB! Male pregnant! 1...
