Juu Kyu

13.8K 1.3K 84
                                        

Taeyong menunggu dalam cafe kecil pinggiran kota. Suasananya begitu tenang dan sejuk, membuat rasa gugupnya berkurang.

Lonceng yang diletakkan di atas pintu masuk berbunyi. Tak lain tak bukan adalah orang yang ditunggunya.

Tanpa mencari pun, karena cukup sepi- sosok dapat melihat Taeyong yang tersenyum kecil padanya.

"Selamat pagi Taeyong Hyung" sapanya.

"Pagi juga Jeff" sapa balik Taeyong.

Dia mulai menghela nafas sebelum memulai pembicaraan.
"Jeff tentang surat yang kau berikan itu-"

"Aku.. aku harap Hyung dapat memikirkannya dahulu. Aku akan menunggu jawaban Hyung jika memang perlu-"

"Jeff.." potong Taeyong.

Mereka bertatapan penuh lirih dan rasa sedih.

"Hyung, kumohon katakan kau masih mencintaiku bukan?"

Pernyataan retoris bagi Taeyong. Cukup menjebak dan membuatnya berpikir.

"Kumohon jangan bohongi hatimu Hyung" -Jeffrey bahkan menggenggam tangan gelisah itu.

Taeyong mengangkat kepalanya, menatap Jeffrey penuh makna.
"Aku sudah tua, Jeff. Aku, kau tau sendiri aku tak kan bisa bersanding dengan pria dengan tingkat kepuasan tinggi sepertimu" sindir Taeyong.

Jeffrey menggelengkan kepalanya, "Hyung maafkan aku. Kumohon jangan ulangi perkataan orang bodoh yang gila itu. Dia yang sekarang bahkan tak peduli dengan namanya hasrat ataupun gairah. Dia perlu cinta, hanya cinta darimu"

"Jeff.." lirih Taeyong.

"Kumohon Hyung. Maafkan aku-"

"Aku sudah memaafkanmu Jeff tapi menerimamu kembali agak sukar bagiku"

Jeff tersenyum miris, "Hyung bolehkah aku membimbingmu?"

"Membimbing?"

Jeffrey mengangguk. "Aku akan membimbingmu agar dapat menerimaku. Aku akan membuatmu tak menyesal cinta padaku lagi. Aku akan menjagamu, aku akan menjadi pemimpin yang baik bagimu. Ini bukan janji bila Hyung menjawab iya. Ini akan menjadi treatment terbaik dalam hidupku"

Sepasang netra indah itu berkaca-kaca. Sungguh pernyataan itu menggetarkan jiwa dan hatinya. Seakan kejadian buruk yang pernah mereka lalui tak pernah terjadi.

Tangan Jeffrey membawa wajah cantik itu mendekat. Mengecup pelan bibir manis dari cintanya tanpa ada penolakan dari pihak yang dikecup.

Jeffrey tersenyum bahagia begitupula dengan Taeyong.

Namun dia mengingat satu hal penting.

"Hm Jeff" panggilnya.

"Iya Hyung?"

"Kau ingat Minhyungie kan?"

"Tentu Hyung"

Taeyong menghela nafas gusar.

"Aku bisa menerimamu Jeff tapi bagaimana dengan Minhyungie? Kau tau kan buah hati kita itu bahkan hampir membuatmu sekarat"

Jeffrey tertawa kecil. Ah, dia masih ingat bagaimana Mark yang kalut hampir membabak belurkannya saat menemui Taeyong tepat di butik milik pria cantik itu.

"Tenang, Hyung. Aku sudah melatih ototku untuk menahan serangan bayi kecil itu"

Perkataan Jeffrey sukses membuat Taeyong merotasikan bola matanya kesal. Pria itu ya, selalu saja menantang maut.

"Jeff dia bukan bayi lagi. Tepatnya sekarang dialah yang akan membuat bayi"

Jeffrey tertawa lagi. Benar, Mark-nya bahkan sudah mempunyai istri yang manis.

Mr. LeeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang