20. The Archery Battle

4.2K 436 11
                                    

Suasana di lapangan bertanah merah itu tampak lengang. Seolah Yazid telah menyewa privat, untuk mereka bertiga. Hanya ada dia, Barra dan calon suami adiknya.

Nasywa, adiknya, bahkan menolak untuk datang, begitu tahu tujuan Kakaknya hanyalah ajang pembuktian kemampuan memanahnya.

Dari duabelas anak panah yang terpasang di sarung kulit yang melingkar di pinggang Yazid, sudah meluncur sembilan yang tepat sasaran.

Lelaki itu sudah siap merentangkan busur Horsebow dan drawing. Konsentrasinya untuk holding sebelum melepas anak panah, tiba-tiba pecah saat mendengar suara sopran mendekat.

"Kak Vino.... "

Ketiga pemuda itu menoleh ke arah sumber suara yang sama.

Tampak gadis berkerudung biru lengkap dengan topi yang melindunginya dari matahari, berlari kecil mendekati lapangan.

Vino yang belum dapat giliran memanah, tampak melebarkan senyum menyambut adik tercintanya yang baru tiba.

"Hana belum terlambat kan? Tadi dari bandara macet banget, jadi baru sampai jam segini. Maaf ya."

Barra menatap tidak percaya bahwa gadis yang sudah beberapa bulan ini jauh darinya, kini berada begitu dekat dengannya.

Yazid berdehem. Ia melanjutkan memanah dan berusaha menenangkan dirinya sendiri. Namun tiga anak panah terakhir yang meluncur, ternyata jauh dari kata sempurna.

"Hana, kenalkan ini Mas Yazid, kakaknya Nasywa. dan ini.... "

Vino mengajak Hana lebih dekat dengan calon kakak iparnya, sebelum tiba gilirannya memanah.

"Barra, temannya Yazid."

Seketika itu Barra merasakan perubahan wajah Hana saat menatapnya. Senyumnya sontak menghilang dan terciptalah suasana awkward diantara mereka.

Apa karena isi pesan terakhirnya yang mengatakan ia tidak akan menghubungi gadis itu lagi ataukah ada hal lain yang ia tidak tahu.

"Hana... ", gadis itu menjawab lemah.

Giliran Vino mulai mempersiapkan busur dan anak panahnya. Hana memberi semangat dan sebelum mulai memanah, tiba-tiba Vino mencium kening adiknya.

"Do'ain Kakak ya Han."

Yazid terlihat tidak antusias mendapati pemandangan itu. Sementara Barra terdiam. Vino sengaja menciptakan energi panas di antara mereka.

Antara dia dan Hana hanya terbentang jarak beberapa meter, namun sikap gadis itu seolah memintanya pergi menjauh.

"Bismillah Kak, Kakak kan sudah latihan sama Kak Archi. Do your best and let Allah do the rest."

Hana berbisik dan menepuk punggung Kakaknya, lembut.

Vino memejamkan mata dan berdo'a.
Jujur ia lumayan nervous jika dibandingkan dengan Yazid yang sudah mahir memanah.

Ia mengingat teknik thumb draw yang diajarkan oleh teman Hana, Archi yang seorang atlit panahan. Dikaitkannya tali busur pada ibu jari tangannya. Ia berkonsentrasi menarik tali busur.

Dari selusin anak panah, akhirnya ada lima yang tepat sasaran dan dua yang hampir mendekati sasaran. Tidak buruk untuk seorang pemula.

Vino mengakui kekalahan dan menjabat erat jemari Yazid untuk mengucapkan selamat. Ia hendak pamit lebih dulu.

"Kita langsung pulang, Kak? Hana lapar..."

Hana menggandeng lengan kokoh milik Vino.

"Kita makan dulu ya Han. Kak Yazid yang traktir."

Our Chemistry Of Love (Tamat di KBM dan Karyakarsa)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang