Bagian 02 - Lukas Sayang Mantan

383 55 31
                                        

BAGIAN 02

Kenapa harus galak sama mantan? Inget, dia orang yang pernah bikin lo bahagia sebelum hati lo menggantinya dengan nama yang baru.

*
*
*

"Hai pacar tersayang yang sebentar lagi mau jadi tunangan Lukas yang gantengnya gak pernah luntur." Sapaan lembut namun terdengar sedikit menyebalkan itulah yang selalu menjadi kalimat pembuka Lukas untuk pacarnya.

"Itu mulu, bosen," kata gadis yang disapa oleh Lukas.

"Maunya apa?" Lukas mengelus puncak kepala gadis itu.

"Ganti dong, gak kreatif banget," kata Arsha cemberut. Ya, dia adalah Arsha Salsagaliani atau Lukas biasa menyapanya dengan Arshayang. Gadis dengan memiliki pipi sedikit tembem dan menyukai segala jwnais yang berbau strawberry dan sangat membenci cokelat.

Menurutnya cokelat itu pahit. Hidupnya sudah terlalu pahit jadi ia tak mau menambah kepahitan itu dengan cokelat, dan karena cokelat juga ia pernah hampir diculik oleh seseorang saat masih berusia lima tahun.

Dan kalau strawberry itu manis. Dia suka dengan hal yang manis walau kadang buah tersebut terasa masam. Sempat dia membelinya di penjual buah pinggir jalan dan setelah di makan rasanya begitu masam. Tapi, hal yang paling mendominan pada strawbarry adalah rasa manisnya.

"Gimana kalo gini," kata Lukas kemudian merangkul gadis itu. "Selamat pagi cewek strawberry yang sedang menjabat sebagai pacar Lukas yang gantengnya tujuh turunan."

Mendengar kata strawbarry, sontak membuat pipinya merah merona. Ia mengulum senyum, ragu untuk menatap kekasihnya.

"Pipi lo merah, Sha," ujar Lukas begitu melihat rona kemerahan di kedua pipi Arsha. Ia memegang jidat Arsha. Tidak panas. Artinya Arsha baik-baik saja.

"Arshayang sakit?"

Arsha menggeleng. "Enggak. Arsha pengen makan."

"Makan apa?"

"Apa aja yang penting bisa dimakan."

"Kalau makan temen bisa nggak?" tanya Luka spontan. Cowok itu marapikan tatanan rambut Arsha yang sedikit berantakan. Karena Arsha bertubuh mungil yang tingginya hanya sepantaran dengan bahu Lukas, cewek itu mendongak menatap Lukas.

"Emang temen bisa dimakan?" tanya balik Arsha dengan lugunya.

Lukas mengangguk. "Dan rasanya lebih enak dibanding makan nasi."

"Masa?" bingung Arsha, antara percaya atau tidak.

Lukas mengangguk lagi. "Emang kamu gak pernah makan temen?" Mau aku ajarin caranya?"

Arsha menatapnya ragu-ragu. Ia bergidik ngeri membayangkan kalau sampai memakan temannya sendiri. "Lukas pernah makan temen sendiri?"

"Enggak, makan temen tuh gak boleh Sha. Gini ya, kalo makan temen sendiri itu namanya penghianat. Emangnya Arsha mau dibilang penghianat sama temennya sendiri?" terang Lukas, membuat otak Arsha berbelok-belok tak tentu arah hingga akhirnya menemukan jalan buntu. Dia tidak bisa berpikir lagi.

"Aku bingung," ujar Arsha, "makan temen bayar nggak?" tanya Arsha dengan polosnya.

"Enggak, gratis. Makanya makan temen sendiri itu lebih enak dari pada makan nasi. Kalau makan nasi harus bayar dulu, atau beli berasnya. Kalau makan temen? tinggal makan aja gak bilang-bilang."

Truth Or DareCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang