Bagian 14 - Biang Rusuh

122 17 11
                                        

Gak nyangka udah 2k views😭😭😭😭😭

Terima kasih banyak buat kalian yang mau mampir ke cerita ini. Ngasih vote sama komen juga. Kalian hebat😭😭😭

Thank you so much💙💙💙💙💙

Love you :v

(Oke lebay 😂)

Selamat Membaca

BAGIAN 14

Terkadang kita tidak perlu memasang topeng hanya untuk terlihat baik. Karena orang baik pun belum tentu mendapatkan yang terbaik. Jadi, berusahalah untuk jadi diri sendiri dan jangan pernah membohongi orang lain.

-TOD-

*
*
*

Seharian penuh Sania mengurung dirinya di kamar. Banyak yang khawatir, terutama Mamanya. Sania tak pernah seperti ini sebelumnya. Kalau ada masalah gadis itu selaluu menceritakan pada Mamanya, sebesar apapun masalahnya. Tapi kali ini justru berbeda, membuat Mamanya berpikir kalau masalah yang tengah di hadapi anaknya sangatlah besar.

Karena ketidakhadiran Sania tanpa alasan, banyak teman-temannya yang datang menjenguk, seperti Bana, Bintang, Billa, Arkan, Lukas dan yang pasti juga ada Bulan. Mereka semua cemas dengan keadaann Sania.

"Bagaimana ini Bulan? Dia nggak mau keluar. Dia juga belum makan seharian. Tante takut dia kenapa-kenapa."

Bulan berusaha menenangkan kakak dari Mamanya itu. Dari sekian bannyaknya yang khawatir, Mama Sania lah yang paling gelisah dan cemas. Dia takut terjadi sesuatu pada putri bungsunya. Dia juga sudah mencoba mengajak Sania berbicara dari luar kamar, tetapi tak ada sepatah kata pun yang didengarnya dari mulut Sania.

Mika, Mamanya Bulan, tengah mencoba mengetuk pintu kamar Sania dan mengajaknya berbicara. Hasilnya sama, tidak ada respons, Seperti tak ada orang di dalamnya. Satu yang mereka khawatirkan, Kalau-kalau Sania sakit atau demam tinggi dan tidak segera di bawa ke dokter, bisa berbahaya apalagi Sania memiliki riwayat penyakit magh.

Bisa berbahaya jika pola makannya tidak dijaga dengan baik.

"Tenang aja, Tante. Kita semua disini juga khawatir banget. Mungkin nanti malem atau besok Sania bisa kita ajak bicara sekaligus bisa tanyain, kenapa dia bisa jadi seperti ini." Bulan mencoba menenangkannya, sesekali mengusap punggungnya atau bahkan merengkuhnya agar bisa tenang.

"Iya camer, Lukas juga khawatir banget. Tapi Lukas yakin kok, Sania bakalan baik-baik aja karena Lukas udah ngasih cinta yang abadi buat dia. Jadi dia nggak bakalan kehilangan cintanya."

Menyebalkan. Bisa-bisanya disaat seperti ini Lukas malah ngajak bercanda.

Bana menyentil bahu Lukas, memperingatkan sesuatu. "Bego. Ada pacarnya."

Lukas menutup mulutnya berpura-pura kaget. "Ups, lupa ada pacarnya. Tapi nggak papa kok, kan cuma pacar bukan suami."

Arkan masih sabar. Untung Arkan tidak segila dan sebucin Lukas. Setidaknya dia bisa mengerti situasi.

"Lebih baik pacar, kan, ketimbang mantan," ujar Bana menohok.

"Lebih baik mantan, sih, ketimbang pacar," balas Lukas.

Truth Or DareTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang