Typo bertebaran!!
Happy Reading!!!
BAGIAN 08
Mungkin saja yang sedang dalam pelukan hanya menjadi penghangat untuk sesaat.
-TOD-
*
*
*
Hari minggu kali ini Arsha menyempatkan untuk pergi ke rumah Lukas. Hampir dua minggu tidak berkunjung ke sana karena ada beberapa hal menyibukkan dirinya. Arsha termasuk rajin dalam hal belajar, sering mendapat juara kelas meski otaknya rada geser. Lukas sendiri sempat meragukan itu, namun melihat keuletan Arsha dalam belajar perlahan membuatnya yakin jika Arsha benar-benar dilahirkan dengan otak yang cerdas.
"Tante, Arsha ada di luar."
Arsha memencet bel disana. Berteriak sekencang mungkin, mengingat rumah tersebut terlalu besar dan memungkinkan orang rumah tak mendengar teriakannya.
"Maaf, Non, mau saya bantu panggilin Nyonya?" tawar Satpam di sana. Tadi Arsha sempat menolak dan bilang jika dia saja yang memanggil, tapi satpam tidak tega melihat gadis secantik itu berteriak-teriak.
"Enggak Om Satpam, Arsha bisa sendiri kok, Arsha sendiri aja, ya, Om Satpam," tolak Arsha halus.
"Yasudah kalau begitu saya permisi."
"Silahkan Om."
Arsha kembali berteriak, kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Namun tetap saja, suaranya terdengar kecil. Mungkin masih sangat pagi dan ini hari libur, apa iya penghuni rumah itu masih berjalan di alam mimpi.
Karena sudah lelah, Arsha memutuskan untuk duduk sebentar. Ia meraih ponsel di tas selempangnya. Mengirimkan pesan pada seseorang.
Lukasayang : Sayang, Arsha di depan.
Ceklis satu, artinya handphone Lukas mati. Mau tidak mau dia harus menunggu sampai ada yang membuka pintu.
Satpam yang sedang menjaga rumah tersebut dibuat tidak tega. Dia menelpon seseorang dan mengatakan ada tamu di luar.
Tak lama, wanita paruh baya yang sedang menggunakan celemek keluar dan melihat gadis cantik dan mungil sedang melamun. Dia kaget bukan main.
"Eh, ada Non Arsha? Yaampun, Non, maafin Bibi. Tadi Bibi lagi masak jadi nggak tahu kalau di luar sedang ada tamu."
Arsha menatap Bibi. Dia pun sama terkejutnya, namun tak lama senyumnya mengembang. "Nggak papa, Bi, Arsha nunggunya nggak lama kok."
"Iya, Non."
"Oh iya Bi, Tante Ratna ada? Ini Arsha bawain makanan kesukaan Tante."
"Nyonya masih tidur, Non. Sebentar lagi mungkin akan bangun."
"Oh gitu."
"Silahkan masuk, Non." Bibi membuka lebar-lebar pintu mempersilakan masuk sang tamu.
Arsha tersenyum hangat. Meski sering berkunjung ke sini, tak henti-hentinya Arsha kagum dengan seisi rumah tersebut. Guci di mana-mana, ruang tamu yang luas, semuanya luas juga bernuansa putih yang menambah kesan modern.
KAMU SEDANG MEMBACA
Truth Or Dare
Teen FictionBalikan karena permainan bukan perasaan. Tentang mereka yang kembali bersama atas dasar permainan. Diberi tantangan hanya dalam waktu satu minggu. Akan tetapi, apakah mereka memilih berhenti setelah mencapai batas waktu yang ditentukan, atau melanju...
