Bagian 05 - Pura-pura

199 44 8
                                        

BAGIAN 05

Tidak semua yang terjadi di masa lalu adalah hal yang buruk, jadi apapun yang terjadi di masa lalu bukan menjadi patokan untuk kita selalu membencinya.

-SaniaAzanindia-

*
*
*

"Serius kamu mau pindah sini?"

Sania memekik kaget. Cewek yang selalu menggerai rambutnya itu tidak henti-hentinya memastikan dengan apa yang dia dengar adalah hal yang benar bahwa Arkan akan pindah ke sekolahnya.

Good!

Tapi, bagaimana nanti dengan Lukas. Apa Arkan tidak akan cemburu setiap Lukas menggodanya bahkan memanggilnya dengan kata 'sayang' apalagi sepertinya Lukas ingin hubungan mereka hancur. Dasar mantan laknat. Pengen dicemplungin ke sumur aja biar nggak idup-idup.

"Dorr!!"

Handphone model terbaru yang dimiliki Sania sontak melayang. Untung saja sedang ada di taman. Jika di rooftop, habis sudah dua puluh juta melayang percuma. Dia menatap si pelaku yang hampir membuat jantung dan handphone kesayangannya melayang.

"Kebiasaan lo ya ngagetin gue!" Omel Sania.

"Maaf, maaf. Tapi hp lo nggak papa, kan?"

"Kalo seandainya rusak gimana?" Omelnya lagi.

"Kan cuman seandainya. Tapi kalo hp lo rusak beneran bakal gue ganti deh."

"Lo pikir ganti hp kayak ganti pacar bisa langsung dapet?"

"Yaelah, hp doang mah gampang buat gue." Bulan memetikkan jari jempol dan kelingkingnya. "Kecil."

"Sombong amat."

"Amat banyak menghias angkasa. Aku ingin--"

"Lan," potong Sania, "lo ngapain ke sini?"

"Nggak apa-apa. Di kelas ada nenek sihir," jawab Bulan, lalu kembali bernyanyi lagu pelangi.

"Siapa?"

"Sahabat lo tuh," jawab Bulan sedikit kesal. Sampai saat ini pun dia belum tahu apa kesalahannya.

"Billa?" Sania memastikan. Bulan mengangguk mantap.

"Gue nggak tahu kenapa dia bisa  sebenci itu sama gue. Apa coba kesalahan gue?" Kesal Bulan, "gini ya, pas gue balik dari toilet kafe waktu itu, sikap dia langsung berubah gitu. Yang tadinya kayak mimi peri, sekarang kayak mimi lampir. Padahal kan gue nggak pernah bikin ulah sama dia."

Yang diucapkan oleh Bulan ada benar juga. Selama Bulan kenal dengan mereka, sikap jahilnya tidak pernah ditunjukkannya kepada Billa, justru sikap Billa yang menimbulkan bercak-bercak pertanyaan kecil di otaknya.

Tentang kesalahan apa yang Bulan perbuat sehingga Billa sebegitu marahnya setiap bertatap muka dengan Bulan.

"San," panggil Bulan, Sania menoleh. "Lo kan sahabatan gitu sama dia. Apa sih yang membuat dia jadi seperti itu ke gue?"

"Nggak tahu. Lagian, tuh anak emang kadang gitu. Tapi kalo udah baik dia nggak setengah-setengah."

"Maksudnya?" bingung Bulan.

"Dia itu penolong dan tanpa meminta balasan. Apalagi kalo temennya ada yang celaka karena orang lain, dia akan mencari siapa pelakunya sampai ketemu. Dan kalo udah ketemu, dia akan membalas apa yang pernah dialami sahabatnya. Dia bilang, sahabat buat dia adalah keluarga kedua yang harus dijaga karena sahabat adalah orang kedua yang menemani dia setelah keluarga."

Truth Or DareCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang