Bagian 16 - Arsha penolong Lukas

113 9 9
                                        

Typo bertebaran!!!
Selamat Membaca

BAGIAN 16

Terkadang, jika terlalu menyayangi orang lain, kita bisa lupa cara menyayangi diri sendiri.

-TruthOrDare-

*
*
*

Gadis yang selalu menggunakan jepit rambut berbandul strawbarry itu sedang menikmati hembusan angin yang menyapa paginya di sepanjang jalan kota.

Dia duduk di salah satu ayunan kosong. Perlahan ayunan itu bergerak mundur mengikuti arah kakinya. Ada yang indah tapi hatinya tak seindah taman itu.

Tiba-tiba saja dia merindukan orang tuanya.

Sudah lama dia tidak merasakan pelukan hangat dari sang ibu atau tawa Ayahnya yang memiliki ciri khas tersendiri. Lama sekali dan dia masih kuat menjalani hidup sendirian. Meskipun ada jessica yang selalu menemaninya, namun tetap saja berbeda.

"Arsha rindu Bunda sama Ayah," lirihnya. Kepalanya menunduk melihat kakinya yang mengukir bebas di atas rerumputan.

"Sebentar lagi kita akan bahagia bersama. Arsha akan menyusul kalian tapi enggak tahu kapan, semoga aja secepatnya," rucaunya.

Mungkin, sebentar lagi Arsha akan menyusul mereka. Entah kapan, yang jelas akan tiba saatnya. Itulah kenapa Arsha tidak berniat bunuh diri saat tahu orang tuanya telah tiada. Hidupnya tak lama lagi. Penyakit yang dideritanya, membuat dia tak bisa menikmati dunia lebih lama lagi.

Meski sempat stress setelah kepergian orang tuanya, tapi diri Arsha menolak untuk melakukan hal semenjijikan itu. Karena, penyakit itu pasti menjemput kematian. Jadi, tak perlu menyakiti diri sendiri, karena dia pun percaya semua itu adalah takdir yang pasti akan terjadi. Dan, Bunuh diri hanya akan merugikan diri sendiri dan orang yang sayang dengannya.

Tak lama lagi akan meninggalkan dunia ini. Meninggalkan orang-orang yang dia sayang atau yang menyayanginya.

Tanpa sadar buliran air mata  mengalir hingga berbentu seperti aliran sungai di pipinya. Arsha segera menghapus jejar air mata itu. Dia harus kuat dan tidak boleh terlihat lemah. Menangis bukanlah hal yang tepat untuk kondisinya saat ini.

Saatnya beranjak dari tempat itu karena perutnya tiba-tiba berbunyi, cacing-cacing di sana mulai mendemo. Arsha kemudian mengedarkan pandangannya mencari makanan kesukaannya.

Namun, tatapannya jatuh pada salah seorang yang menyeberang jalan sambil memainkan handphone. Sedangkan dari arah kiri orang itu ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Bahaya kalau dibiarkan.

"AWAS!!" Arsha mendorongnya hingga dia ikut terjatuh di rerumputan taman itu, tetapi lutut Arsha terbentur batu yang membuat lutunya mengeluarkan darah kental.

"Aduh, sakit." Arsha merintih sakit.

Orang yang tadi sempat ditolong Arsha kemudian bangun dan melihat Arsha dengan lutut yang mengeluarkan darah. Tanpa banyak tempo, dia segera menggendong Arsha ala bridestyle dan membawanya ke mobil.

Di perjalanan tidak ada percakapan karena Arsha tertidur. Tidur atau pingsan sulit dibedakan untuk keadaan Arsha seperti ini. Mungkin saja pingsan karena tak sanggup menahan sakit di lututnya.

Truth Or DareCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang