Haikal menatap datar dua perempuan yang nampak asyik bercerita sambil sesekali tertawa di depan televisi. Semenjak kedatangan Rausya, pusat rotasi sang kakak langsung beralih pada gadis asal Bekasi itu. Haikal benar-benar diabaikan.
Sekarang ini buktinya, ia tengah mengecek ulang segala kebutuhannya untuk ke Bromo besok. Dan sang kakak tercinta seolah tak melihat betapa repotnya ia dalam hal lipat melipat pakaian.
"Beneran mba, kan kalau kang santrinya kayak gitu jadi betah di pesantrennya,"
"Ih mba jadi kangen pesantren," yah, sebenarnya Yeri ini sudah tinggal di pesantren sejak Madrasah Ibtidaiyyah kelas 5 sampai lulus Madrasah Aliyah. Kebetulan, pamannyalah pemilik pesantren di Kota Santri bernama Purwakarta. Saat itu Haikal sedang nakal-nakalnya dan sang umi kalap mengurus kedua anaknya. Karenanya Yeri mengalah dan dengan senang hati tinggal di pondok tradisional sejak usia dini.
"Ayok kapan-kapan main ke Purwakarta mba!" Ajak Rausya antusias.
"Boleh-boleh, pas haul mama sempur aja gimana?"
"Ihh boleh tuh, pas banyak kang santrinya!"
"Kamu tuh, kang santri terus yang dipikirin,"
Haikal jengah, ia menendang kopernya cukup keras dan masuk ke kamarnya tanpa berkata apapun. Membuat dua gadis di sana mengalihkan pandang, menatap bingung tingkah Haikal.
"Ical kenapa?" Tanya Rausya.
Yeri menatap koper berantakan milik Haikal kemudian tersenyum tipis. "Kayaknya ngambek,"
Rausya terkekeh, "dasar bocah,"
'Brakkk'
Pintu kamar Haikal terbuka cukup keras, menampakkan pemuda itu yang kini memakai jaket. Ia menatap kedua gadis yang masih tak bergeming dari tempat mereka.
"Ikal nginep di rumah Alvano aja, biar besok langsung berangkat," ucapnya.
"Lah emang udah siap?" Yeri menunjuk koper berantakan milik adiknya itu.
Haikal memberengut, sebal, "ya makannya teteh bantu beresin dong! Ikal kan cowok!"
"Dih, walaupun cowok juga harus bisa lipet baju sendiri dong!" Protes Rausya.
"Yang kayak gitu tuh tugasnya cewek," bantah Haikal cukup senang karena sang kakak kini mulai merapikan isi kopernya, "tugas cowok tuh cuma nyari nafkah aja."
"Pemikiran macem apa itu? Pantes aja gak ada yang mau. Jadi laki kok gak guna,"
"Enak aja bilang gue gak guna!"
"Itu buktinya! Pekerjaan rumah dibebanin sama cewek semua. Giliran nanti nikah gak bisa bantuin apa-apa sama istrinya."
"Life is easy, tinggal cari pembantu!"
"Yakalo lo nya sukses. Kalau enggak, kan-"
"Udah, jangan berantem!" Yeri menengahi. Ternyata begini rasanya berada di posisi sang Umi kala ia dan Haikal berdebat tentang hal sepele.
Rausya dan Haikal bungkam melihat raut kekesalan Yeri. Rausya memilih kembali dengan snack kentangnya dan Haikal duduk di dekat sang kakak.
"Teh, kunci motor dong!" Pinta Haikal dengan cengiran andalannya.
"Mau kemana?"
"Alun-alun, kulineran masih buka,"
"Ihhh mau ikut!"
Haikal menatap Rausya agak sebal, "apasih ikut-ikut? Gue tuh pergi bareng temen,"
"Mbaaa Icalnya galak mba!" Adu Rausya pada Yeri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melamarmu
FanfictionYeri hanya melakukan hukum jual beli sesuai dengan syari'at. Namun ia tak menyangka ijab qabul jual beli yang sering di lakukannya berujung ijab qabul pernikahan dengan pelanggan barunya. ⚠ - Kpop Lokal - Religi/Islami
