9 | Lembaran Baru

3.3K 439 60
                                        

Hari Rabu, akhirnya sang Umi dan Abi pulang ke rumah. Uminya dengan antusias bercerita bagaimana kelakuan si bayi yang menggemaskan dan membuatnya ngebet punya bayi juga.

Bukan adik baru untuk Yeri dan Haikal. Tapi ucapan sang Umi seolah kode pada Yeri untuk segera menikah dan memiliki anak.

"Sonia sama Atuy dulu nikah muda ya Bi? Umur sembilan belas kalau gak salah," celetuk Umi saat Yeri dan Haikal tengah membungkus kue lapis ke dalam plastik kecil untuk acara sore di rumah mereka. Hari ini calon jemaah umrah yang berangkat dengan ayahnya akan mengadakan pengajian di sini, karena itu mereka sibuk. Haikal saja dilarang pergi oleh Umi.

"Iya Mi,"

Haikal melirik sang kakak yang nampak peka dengan ucapan sang Umi. Kakaknya itu memang memasang ekspresi tak peduli, namun ia paham perasaan sang kakak yang seolah di desak untuk segera menikah.

"Om Atuy nama aslinya siapa sih Mi?" Karena itu ia mengalihkan topik pembicaraan.

Umi Rina yang tengah menutup cup puding terdiam sesaat dan berpikir. "Siapa sih Bi? Umi lupa,"

Abi Salman yang semula membaca berita di ponsel mengalihkan fokus pada sang istri dan ikut berpikir. "Abi juga lupa, dia ngenalin dirinya Atuy sih."

"Attalarik Yudha Nugraha. Kata tante Sonia, panggilan Atuy itu udah mendarah daging sejak kecil," Yeri menjawab mewakili. Jangan tanya dari mana ia tahu, tantenya yang satu itu sering bercerita mengenai suaminya yang terkadang membuat Yeri ingin nikah muda juga.

"Ikal juga mau nikah muda?"

Gerakan tangan Haikal terhenti begitu mendengar pertanyaan sang abi. Nikah muda tidak masuk dalam rencananya setelah lulus sekolah.

"Aduh!" Ia menepuk keningnya. "Ikal gak mau ngelangkahin teteh, kan kasian."

Yeri mendengus sebal, "Kayak yang udah ada calon aja!"

"Ada kok!"

"Siapa?" Tanyanya menantang.

"Bidadari Syurga!"

Umi hanya tersenyum kecil melihat interaksi keduanya. Ah, ia tak bisa membayangkan jika salah satu dari mereka tak ada di rumah ini.

"Kamu jadi ke UII di Jogja?" Giliran sang Umi yang bertanya.

"Enggak kayaknya Mi. Udah janjian sama yang lain sih daftar SPAN-PTKIN ke UIN," ucapnya bangga.

"Yakin ke UIN bukan ka-uin?" Tanya sang Abi bercanda.

"Hush! Ke UIN dulu baru ka-uin," ucap Umi membawa gelak tawa keluarga itu. Setelahnya mereka kembali fokus pada tugas masing-masing sampai Umi mengalihkan topik pembicaraan.

"Gak ada orderan teh?"

Yeri menatap sang Umi dan menggeleng pelan. Ia kemudian tersenyum tipis dan duduk di sebelah sang Umi. "Umi, Abi..." panggilnya lirih membuat kedua orang tuanya menatap anak gadis mereka bingung.

"Kenapa Ri?"

Netra Yeri menatap kedua orang tuanya. Bagaimanapun ia yakin ini adalah jawaban dari istikharahnya, dan Haikal juga mendukungnya. Jadi dengan segenap hati Yeri menyampaikan niatnya untuk,
"Teteh mau buka usaha katering, boleh gak?"

Sang Umi dan sang Abi terdiam untuk beberapa saat. Cukup terkejut dengan ucapan anak sulung mereka. Salman tak menyangka Yeri akan berpikiran begitu setelah sekian lama memegang teguh adatnya.

"Ya Allah, siapa yang nyadarin kamu? Umi bahagia banget dengernya, salut juga sama yang nyadarin kamu," ujar Rina bahagia. Ia bahkan sampai mengelus pipi Yeri pelan. Ibu dua anak itu tersenyum lembut menatap Yeri.

Melamarmu Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang