***
"Assalamu'alaikum, Umi! Abi!" salam Yeri begitu masuk ke dalam rumah. Ia langsung ke ruang tengah, di mana abinya yang baru pulang hendak meminum teh manis hangat yang tampak baru selesai umi buat.
"Wa'alaikumsalam, Ya Allah, kenapa sih Teteh buru-buru banget. Ada apa?" tanya Umi seraya mendudukkan diri di dekat Abi. Ibu dua anak itu meraih remote sembari memakan sepotong kue nastar.
"Umi, masakan yang tadi jangan dulu di bagiin!"
"Loh, gak boleh gitu, Teteh. Kita itu harus berbagi sama tetangga!" sela Abi cepat.
"Bukan gitu maksudnya, Abi. Tapi ..."
"Ba'da magrib ada yang mau datang ke rumah, Um," celetuk Haikal yang baru masuk rumah. Pemuda itu tersenyum lebar dan Yeri menunduk malu.
Abi menyimpan tehnya di atas meja. "Siapa? Temen-temen kamu? Mau pada nginep?"
Haikal mendudukkan diri di dekat Umi setelah mencomot nastar dari toples. "Bukan Abi, tapi yang mau ngelamar Teteh!"
Gerakan tangan umi langsung terhenti begitu mendengar ucapan putra bungsunya. Tingkah malu-malu Yeri terlihat meyakinkan. Dan anak-anaknya, mana mungkin bohong padanya. "Ya Allah, Astaghfirullah! Beneran ini, Teh?"
"Alhamdulillah Ya Allah! Akhirnya ya, Teh!" sahut Rausya dari ambang pintu kamarnya.
Umi menepuk-nepuk lengan abi gemas. "Abi! Buruan kita rapih-rapih rumah! Kita bakal kedatangan tamu penting!"
"Tapi, siapa yang mau ngelamar Teteh?"
Untuk ini, Haikal bungkam. Membiarkan kakaknya yang bicara. Namun Yeri semakin menunduk dan tangannya meremas ujung kerudungnya yang membuat Haikal gemas sendiri. Apa susahnya mengatakan nama laki-laki yang akan melamarnya?
"I-itu ... eum ..." Netra Yeri mengedar. Ia melirik Haikal namun adiknya itu justru tersenyum dan berpura-pura tidak peka akan kegugupan Yeri.
Di belakangnya, Rausya gemas sendiri. Di lihat dari gelagatnya, sekai tebak ia tahu laki-laki mana yang akan melamar Yeri hingga sepupunya segugup ini hanya untuk menyebut nama.
"Teteh?" Panggil umi. Menuntut jawaban segera dari putrinya.
Yeri menarik napas dalam, mengenyahkan kegugupan yang melanda dan berucap, "Sepupunya Alvano yang dari Jakarta. Markazmi."
Abi dan umi bungkam. Terkejut akan laki-laki yang akan datang ke rumahnya untuk meminang putri sulung mereka. Abi yang paling terkejut karena ia tahu seperti apa sepupunya Alvano itu.
"Azmi yang itu? Yang waktu dulu pernah tinggal di rumah Alvano?" tanya umi memastikan.
"Ya emang Azmi yang mana lagi, Um? Di komplek ini ada yang namanya Azmi, emang?"
"Ya Allah Abi, kita besanan sama orang Jakarta!" pekik umi tertahan.
"Ngelamar aja belum, udah di bilang besan." Rausya memelototi Haikal begitu saudaranya itu berkomentar. Ia meletakkan telunjuknya di depan bibir, memerintahkan Haikal untuk diam.
Abi masih tak bereaksi apapun. Yeri jadi was-was jika abi tak setuju dengan lamaran yang akan datang padanya hari ini. Sesaat kemudian, abi menatapnya dan menepuk pundak Yeri pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melamarmu
FanfictionYeri hanya melakukan hukum jual beli sesuai dengan syari'at. Namun ia tak menyangka ijab qabul jual beli yang sering di lakukannya berujung ijab qabul pernikahan dengan pelanggan barunya. ⚠ - Kpop Lokal - Religi/Islami
