Iwan datang ke kelas bertepatan dengan bel masuk. Aku yang sedang mengobrol dengan Indah dan Bila sontak menegakkan tubuh, gugup. Tapi bukannya Iwan berjalan ke arah barisanku, cowok itu malah langsung berbelok ke barisan anak badung, tempat awal dia duduk.
Kulihat, ia sedang berbicara sebentar dengan Regal. Tak lama setelah itu, Regal berjalan menuju ke arahku dengan tas dan beberapa buku di dekapannya.
"Kenapa ke sini?" tanyaku saat Regal sudah duduk di sampingku. Indah dan Bila pun menatap heran. Beberapa orang pun mulai berbisik dan menyeletuk tentang hubunganku dan Iwan yang meregang. Tapi aku sama sekali tidak memedulikannya. Fokusku pada jawaban Regal.
"Iwan nyuruh aku duduk di sini."
Aku sontak melirik Iwan sebentar. Cowok itu sedang bicara dengan Rama. Tidak ada yang berubah. Mereka malah terkesan biasa saja.
"Dia bilang alasannya nggak?"
Regal menggeleng sebagai jawaban. Dua bahuku lemas seketika. Iwan benar-benar marah padaku.
"Kalau aku jadi Iwan sih bakal kecewa juga, Ca," komentar Indah, aku mendelik kesal.
"Kan aku udah ngasih tau sebelumnya kalau aku nggak bakalan dateng," balasku pelan, takut perkataanku jadi viral. Soalnya hubunganku dengan Iwan pasti lagi jadi buah bibir.
"Tapi hari spesial kayak gitu gimana mau dibatalin?" tanya Indah menyudutkanku. "Harusnya, kamu tegesin hubungan kamu sama dia sebelum hari itu dateng. Atau kamu seenggaknya dateng sebentar buat hargain usaha Iwan. Gimana sih yang pacaran lama, gitu aja nggak ngerti?"
Aku memang nggak paham bagaimana seharusnya aku sebagai perempuan menanggapi hal itu. Aku terlalu menerima apa yang Iwan beri, balasannya aku menemani cowok itu kemana pun. Aku tidak pernah bertanya Iwan mau apa karena Iwan suka jujur tentang apa yang diinginkannya. Jadi, ketika Iwan tidak memberi tahu apapun, termasuk memintaku tetap datang, bagaimana aku bisa tahu?
"Trus aku harus gimana?" tanyaku memelas. Aku lebih memilih mengalah. Lelah karena terus ditempatkan sebagai penjahat. Aku sendiri di sini bingung bagaimana meluruskan masalah yang sudah runyam ini.
"Ya kamu ngobrol berdua sama Iwan. Ceritain apa yang sebenernya kamu rasain, jangan diem-diem mulu nunggu ditanya," cerocos Indah, tapi walau agak menyentil perasaanku, apa yang dikatakan cewek ini benar juga.
"Kalau Iwan sakit hati gimana?" timpalku. "Dia itu udah baik banget, Ndah."
"Trus kamu mau jalanin hubungan kalian dimana perasaan kamu udah sama yang lain?" tanya Indah sembari melirik pada Regal. Kulihat cowok ini begitu fokus pada buku tulisnya, mengerjakan tugas. Padahal, itu tugas baru jadi rumor bakal dipinta untuk dikerjakan. Kenapa ya aku bisa suka cowok macam ini?
"Justru itu malah bikin dia tambah sakit hati, Ica. Itu sama aja kamu udah bohongin perasaan kamu sama perasaan dia. Kamu juga bakal nyakitin orang yang suka sama kamu. Itu justru malah berkali-kali lipatnya nyakitin orang. Kamu mau?"
Aku refleks menggeleng.
"Nah, ntar pulang sekolah atau kamu ke rumahnya lagi deh! Jujur sama dia. Jangan di sini. Netijen banyak, tau," lanjut Indah.
"Iya, termasuk kalian."
Bila sontak memikul lenganku yang di atas meja. "Mulai ya nggak percaya sama kita."
**
Aku menunggu Iwan di depan teras rumahnya. Saat aku datang kemari, pembatunya bilang Iwan ada di kamar. Aku yang merasa hubungan kami sedang renggang, tidak bisa berlaku seperti kemarin-kemarin dimana aku bisa masuk ke dalam rumah Iwan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reply Me! [Completed]
Teen FictionSealim-alimnya cowok di kelasku, pasti ujung-ujungnya bakal bobrok juga. Sejaim-jaimnya cowok di sekolahku, pasti pernah melakukan hal gila yang bikin aku geleng kepala. Memang, tidak ada yang sempurna. Ada yang pintar, tapi aneh. Ada yang normal, t...
![Reply Me! [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/192167755-64-k22052.jpg)