Tiit tiit tiiitt...
Suara alarm sebuah jam berusia 2 tahun itu berbunyi, dengan arah jarum jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. Jam itu ku dapatkan saat ulang tahunku yang ke-14, hadiah jam alarm berwarna biru yang diberikan oleh paman ku. Ayah ku sudah meninggal saat aku kecil. Jadi, paman lah yang menggantikan nya sebagai saudara laki-laki Ayah. Walau ia masih terbilang sangat muda. Namun, sebenarnya aku masih memiliki seorang Ibu. Namanya Bu Mawar. Ya, sesuai namanya Ibu itu sangat indah bak sebuah bunga mawar, tapi jika sekali saja Ibu marah rasanya sangatlah menyakitkan sama dengan duri di batang mawar.
Ibu ku bekerja sebagai guru di bidang matematika di sebuah SMA yang bernama SMA Cahya Purnama. Aku sangat menyukai nama SMA itu. Itu karena aku sangat menyukai Bulan Purnama. Banyak yang berkata, bahwa aku yang menyukai bulan ini karena waktu kelahiran ku, yakni pada malam hari. Itu juga salah satu penyebab nama ku adalah Luna Angelica. Yang artinya "Malaikat Bulan". Ibu pernah berkata bahwa almarhum Ayahlah yang membuatkan nama itu untukku. Jadi, nama ini adalah satu-satunya warisan yang ayah berikan kepadaku.
Aku bersekolah di SMA yang cukup jauh dari rumah. Namun, beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk pindah ke tempat ibuku bekerja yang kebetulan dekat dengan rumah kami. SMA Cahya Purnama. Aku sangat tak sabar tiba di sekolah itu. Mungkin aku akan mempunyai banyak teman baru, pengalaman baru, dan mungkin saja..
"Luna ! Ayo cepetan ! Setengah jam lagi bel masuk nya bunyi loh !" Ibu berteriak memanggilku dari ruang tamu, membuyarkan lamunan ku tentang sekolah baru ku.
"Baik, Bu. Sebentar lagi aku akan kesana." Aku berseru membalas. Segera membereskan sarapan pagi yang ku makan.
"Kamu ini, ya. Kamu kan murid baru, sebaiknya jangan terlambat di hari pertama mu, Luna." Ibu menceramahi ku.
"Ayolah, bu. Lihatlah jam dinding itu." Aku menunjuk jam dinding yang terpajang di ruang tamu kami.
"Arah jarum jam nya menunjukkan pukul 07.32 pagi. Masih setengah jam lagi sebelum bel masuk berbunyi. Mengapa kita harus pergi terlalu cepat ??" Aku protes.
"Sayang, Ibu kan seorang guru. Sudah seharusnya seorang guru itu datang cepat ke sekolahnya. Agar dapat menjadi contoh yang baik bagi muridnya. Jadi, kamu lebih memilih diantar Ibu ke sekolah atau diantar Mas Erik ?" Ibu memberiku pilihan seraya menyebut nama asli paman, saudara laki-laki ayah.
"Baiklah, aku memilih pergi bersama Ibu." Aku menyerah, tak mungkin aku pergi dengan Mas Erik yang jelas-jelas masih mahasiswa di sebuah universitas. Dia jelas sekali sangat sibuk.
"Kalau begitu, segera pasang sepatumu. Ibu akan menunggu mu di dalam mobil."
"Baik," jawabku singkat.
***
Setelah Ibu memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah.
"Bu Mawar ? Baru datang ya, Bu ?" Seorang pria mengenakan topi biru dan berpakaian rapi menyapa kami.
"Oh, Pak Surya. Iya, Pak. Saya baru datang sama anak saya." Ibu membalas ramah, sambil menunjuk ku yang berdiri di belakang Ibu.
"Anak Ibu ? Wah, cantik ya. Pindahan ya, Bu ??" Pria yang bekerja menjadi satpam sekolah itu bertanya lagi.
"Bener, Pak. Ngomong-ngomong, Pak. Saya masuk ke kantor dulu ya. Mau ngurus kepindahan anak saya dulu."
"Baik, Bu." Satpam itu pun kembali bekerja. Sepertinya ia adalah satpam yang ramah. Saat aku melihat ke belakang, Satpam yang bernama Pak Surya itu kembali menyapa guru-guru dan murid-murid yang datang.
Setelah berbincang dengan Pak Surya, ibu pun berjalan masuk ke dalam sekolah yang diikuti oleh aku di belakangnya.
"Luna, kita ke ruangan Ibu dulu ya. Ibu mau taruh buku-buku dan dokumen ini dulu." Ibu menjelaskan.
"Baik, Bu." Aku balas tersenyum.
Ternyata ruangan Ibu berdekatan dengan guru-guru lain. Kerap beberapa guru menyapaku, dan ku balas menyapa ramah. Sepertinya kabar akan kedatanganku sebagai anak baru telah diketahui di sekolah ini.
Setelah menaruh buku-buku dan dokumennya, Ibu memintaku duduk di luar sebentar. Ia ingin berbicara dengan Kepala Sekolah. Aku pun memutuskan duduk sambil melihat sekitar. Ternyata sekolah ini sangatlah luas. Lingkungannya juga bersih dan tampaknya para murid sangatlah baik dan ramah. Sekolah ini memiliki lantai dua juga untuk beberapa kelas. Dari yang ku lihat, hanya kelas X saja yang tak memiliki lantai dua. Selebihnya, iya.
Saat aku masih asik memandang sekitar. Saat itulah aku melihat "dia". Seorang siswa berambut pirang pucat, dengan mata berwarna biru pudar. Seperti warga asing saja. Ia berjalan seperti seseorang yang baru saja begadang semalaman, terlihat sangat mengantuk. Tanpa ku ketahui, ia pun memandangku sekilas. Lalu, tiba-tiba ia pun...
BRAKK !!
"Eh, ko-kok dia ? Ketiduran ? Pingsan ?? Mati ??" Aku panik. Bagaimana tidak ? Seorang siswa yang ku lihat sebelumnya itu, tiba-tiba saja tergeletak di lantai.
"Astaga ! Bagaimana aku membangunkannya ?! Apa jangan-jangan dia sakit ?? Atau jangan-jangan ia sudah mati !!" Pikiranku kacau, aku belum pernah berada pada situasi ini sebelumnya. Aku pun berusaha berpikir jernih.
"UKS !! Benar, aku bisa membawa nya kesana. Mungkin, ada seseorang yang bisa membantunya disana." Sebuah ide cemerlang itu tiba-tiba muncul di otakku.
"Tapi tunggu dulu." Aku teringat sesuatu.
"Bagaiman dengan Ibu ?? Pasti dia akan mencari-cari ku. Tapi, orang ini... Baiklah, aku ke UKS kan hanya sebentar. Aku akan mengangkat dia. Lalu, ku mengantarnya ke UKS. Dan kembali ke sini." Aku pun segera mengangkat siswa yang tak ku kenali itu. Untungnya aku tak kesusahan mengangkatnya, itu karena aku pernah ikut latihan karate dulu.
*Author pov
Tapi, Luna tak ingat akan sesuatu, bahwa dia masih baru di sekokah ini. Bagaimana dia mengetahui letak UKS sekolah itu ??
"Maaf Jika Masih Ada Beberapa Kesalahan Yang Tak Saya Sengaja. Baik Itu Dalam Pemilihan Kata, Alur, ataupun yang lainnya.
Terimakasih Telah Membaca Cerita Amatir Saya Ini. Jangan Lupa Untuk Terus Ikuti" Ceritanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sleeping Boy ( ON-HOLD )
Teen Fiction[ WARNING !! CERITA INI HIATUS UNTUK MELAKUKAN REVISI ULANG, JIKA TETAP INGIN MEMBACA JANGAN SALAHKAN SAYA AKAN BANYAKNYA KESALAHAN ] Kita pasti selalu mendengar tentang kisah dongeng pengantar tidur, tentang seorang putri cantik yang mendapat kutuk...
