Penyakit Chandra 1

62 29 8
                                        

Masih di hari yang sama. 1 jam setelah Bu Mawar masuk ke kelas Chandra, menggantikan Pak Alan yang izin. Chandra akhirnya bangun, Kevin memberikan catatannya, sambil berpesan,

"Sekarang lo aja yang nyimak pelajaran, Chan. Gue capek dari tadi."

Kali ini Chandra lah yang mencatat pelajaran. Pelajarannya yang tertinggal akan ia catat di rumah. Ia bukan tipe murid yang tak peduli dengan catatannya yang tidak lengkap.

Chandra melihat jam kelas yang terpajang di dinding di atas papan tulis. Jam itu menunjukkan pukul 08.01 pagi, jam ke-3 mereka bersama Bu Mawar.

Bu Mawar menjelaskan pelajarannya dengan cepat, Chandra harus konsentrasi mencatat materi nya. Sedangkan Kevin tertidur pulas di samping Chandra.

****

1 jam yang menyulitkan bagi Chandra berlalu. Bu Mawar sudah meninggalkan kelas mereka. Kini kelas mereka digantikan oleh Bu Tiara, guru paling baik se-SMA Cahya Purnama, berlawanan sekali dengan image Bu Mawar.

Bu Tiara mengajar biologi. Ada satu hal yang selalu membuat tertarik para murid belajar bersama Bu Tiara, ia selalu memberikan sebuah permainan untuk mengajar pelajaran biologi. Memang terkenal kekanak-kanakan, namun setidaknya murid-murid suka dengan metode belajarnya.

Mendengar langkah sepatu milik Bu Tiara berjalan sudah membuat para murid bersemangat, bahkan Kevin langsung terjaga.

Bu Tiara memasuki kelas. Tapi, aneh. Ia tak membawa buku pelajarannya. Ia ke kelas Chandra dengan tangan kosong.

"Baik, anak-anak semuanya. Kali ini kita tidak bisa belajar sambil bermain dulu. Bapak kepala sekolah memutuskan mengadakan rapat para guru saat ini." Bu Tiara berdiri di tengah-tengah kelas. Murid-murid mendengarkan penjelasan Bu Tiara dengan seksama.

"Mungkin sebentar lagi, bel akan berbunyi. Tapi, bukan bel istirahat. Melainkan bel pulang sekolah. Bapak kepala sekolah memutuskan memulangkan para murid karena rapat ini." Murid-murid lansung bersorak se-kelas. Tak menyangka setelah Bu Mawar pergi, keberuntungan menghampiri mereka.

Bu Tiara tidak lama di kelas Chandra, ia lansung pergi setelah memberikan pengumuman itu. Anak-anak kelas lansung merapikan peralatannya. Chandra juga lansung memasukkan buku Kevin yang akan ia salin catatannya.

Kringg kringg kringgg...

Sesuai dengan informasi yang disampaikan Bu Tiara, bel berbunyi begitu cepat. Semua murid keluar dari kelasnya, termasuk Chandra, Kevin, dan tentunya Rangga. Mereka bertiga keluar kelas bersama. Ternyata di luar kelas mereka, telah meunggu Viona dan Luna.

"Kevin ! Lo hari ini harus pulang ke rumah lansung !" Viona menarik tangan Kevin. Namun, Rangga melepaskannya.

"Sorry, Viona. Hari ini kakak lo harus pulang sama gue. Gue butuh dia !" Rangga menarik tangan Kevin dengan cepat. Ia membawa pergi Kevin.

"Eh, Ngga. Beneran lo bolehin gue ke rumah lo ? Beneran ??" Kevin berterimakasih banyak kepada Rangga, sudah sedari tadi ia memohon-mohon kepada Rangga.

"Rangga !! Jangan bawa Kevin !!" Viona mengejar Kevin dan Rangga yang sudah menyusul ke depan. Sekarang, hanya Chandra dan Luna yang tersisa.

"Luna, mau bareng sama gue ke depan ?" Chandra bertanya dengan pandangan masih melihat Viona yang pergi mengejar Kevin dan Rangga.

"Ayuk." Luna berjalan mengikuti Chandra.

Luna sudah dapat menebak dalam otaknya,Chandra pasti akan mengajaknya pulang bersama lagi. Tapi, entah kenapa Chandra terlihat lusu.

Di gerbang sekolah, seperti biasa, Luna dan Chandra menunggu jemputannya

di sana. Chandra diam saja, tak berbicara apa-apa, Luna menatapnya heran. Tak biasanya Chandra diam, biasanya ia akan memaksa Luna ikut pulang bersamanya.

Detak jantung Chandra tak stabil, kepalanya pusing. Luna berseru memanggil Chandra, tapi tak terjawab.

Penyakit Chandra kambuh. Ia tergeletak di tanah.

Luna panik, tak tahu apa yang harus dilakukan. Minta tolong ? Tapi, tak ada lagi orang yang ia kenal di sekitarnya. Luna berpikirkeras.

Handphone Chandra !!

Luna merogoh tas Chandra, mencari handphone nya. Mungkin ada nomor seseorang yang bisa ia telpon. Luna menemukan handphone Chandra di dalam tas, ia segera mengaktifkannya, namun lagi-lagi ada masalah.

Layarnya pakai kata sandi !!!

Luna semakin panik, otaknya terus berpikir, berpikir, dan berpikir. Tidak mungkin ia akan menantik Pak Wawan, sopirnya Chandra, beliau tak tahu kalau meeka pulang lebih cepat daripada biasanya.

Hanphone Luna terjatuh ke tubuh Chandra. Untung saja Luna masih biisa mengambilnya. Ia menatap handphone nya lamat-lamat.

Benar !! Luna teringat sesuatu, ia terlalu terbiasa pulang diantar oleh Chandra. Sampai-sampai ia lupa masih ada cara alternatif.

Luna mengaktifkan layar handphone nya, mencari aplikasi yang ia butuhkan. Ia sedang memesan taksi online langganannya.

Tak lama waktu yang dibutuhkan Luna untuk menunggu. Taksi online langganannya selalu tahu dimana Luna akan menunggu. Luna benar-benar lega. Dibantu oleh sopir taksi online itu, Luna memopong tubuh Chandra ke dalam mobil. Ia bersyukur sekali karena Chandra pernah mengundangnya ke acara pesta ulang tahun waktu itu, jadi, ia masih mengingat jalan ke rumah Chandra.

"Pak ! Yang cepat ya, jalannya." Luna memberi tahu alamat Chandra. Tak perlu basa-basi, seolah telah tahu bagaimana situasi nya, sopir taksi online langganan Luna itu lansung tancap gas.

"Maaf Karena Lebih Singkat, Karena Chapter nya Akan Berlanjut Ke Part 2 Besok Senin."

"Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Ya, Untuk Menghargai Karya Aku."

Sleeping Boy ( ON-HOLD )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang