"Dia hanya serpihan luka, dan kini serapuh abu. Ia hanya berusaha melindungi dirinya agar tak lagi merasakan hal yang membuat ia terluka dulu."
***
"Arvin..... Vin.." Panggil Jihan pada sosok cowok bertubuh jangkung yang beberapa hari ini seakan hilang ditelan bumi.
Cowok itu menoleh. Mendapati gadis mungil yang berjalan kearahnya. Dia Rindu. Tatapan, suara, senyuman tipis, ia rindu semuanya.
"Kenapa Han?" Tanya cowok itu, ia menggeser sedikit tubuhnya agar memberikan gadis itu tempat duduk disampingnya.
Jihan mengerti, ia mendudukkan tubuhnya. Untung saja mereka sedang berada ditaman belakang sekolah yang sepi saat ini, dan Jihan mendapati cowok itu duduk sendiri.
"Aku mau ngomong sama kamu." Ucap Jihan menatap ujung sepatunya.
Memori masa lalu saat Arvin selalu pergi meninggalkan ia sendiri, dalam keadaan terluka dan tangis yang menemaninya.
"Ngomong apa?"
"Soal Clara."
Arvin menoleh. "Kalo soal dia, gue nggak mau dulu Han."
Jihan mendongak menatap Arvin yang juga menatapnya.
"Kenapa? Apa karena kamu udah nggak suka lagi sama dia?"
Arvin menggeleng. "Gue cuman pengen kali ini tenang, tanpa ada yang berhubungan sama dia."
"Kamu tau, dia habis ngelabrak aku ditoilet." Ujar Jihan membuat Arvin menatapnya terkejut.
"Terus? Lo diapain aja sama dia, biar gue buat dia rasain juga apa yang lo rasain." Ucap Arvin marah.
Jihan menggeleng pelan.
"Bukan soal itu, dia ngomong hal yang bikin aku penasaran banget."
"Dia emang suka ngemis perhatian orang lain Han, kalo lo masih bahas dia mending gue pergi aja." Arvin hendak bangkit dari duduknya, namun sentuhan lembut ditangannya membuat ia menatap Jihan.
"Dia benar-benar butuh bantuan Vin, dia kali ini rapuh banget."
"Jangan sok tau."
"Aku bukan sok tau, tapi aku bener-bener pengen tau."
"Cari tau aja sana sendiri." Ucap Arvin yang sudah melangkah pelan mengikis jarak antara ia dan Jihan.
"Aku butuh kamu Vin." Sentak Jihan sembari berdiri.
Arvin membeku ditempatnya berdiri, ucapan Jihan barusan membuat jantungnya memburu deg-degan. Arvin tak bisa membiarkan perasaannya terus menerus membuat ia menyukai gadis itu, ia yakin perasaan untuk Clara benar-benar sudah hilang.
"Aku butuh bantuan kamu Vin, aku nggak bisa kalo cuman sendirian aja."
"Urusannya sama gue?"
"Karena aku tau Vin, kamu orang yang baik." Ucap Jihan yakin.
Arvin menghela nafas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stay With Me (?)
Teen FictionJika perpisahan adalah hal yang terbaik. Mengapa kita harus bertemu? Mengapa harus hati yang menjadi korbannya? Mengapa harus ada tangis yang menjadi soundtrack ketika kata pisah yang terucap? Semua hal itu masih terngiang jelas di fikiran Jihan Ana...
