Maafkan baru bisa up sekarang.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Mau beli hp baru gak jadi, eh hp lama rusak. Alhasil konsepnya ambyar.
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻
Senyum itu langsung terkembang di wajah tampan Virendi, kala indranya menangkap sosok yang mulai dirindukan sejak pertemuan mereka di Prancis. Kerjasama yang mereka lakukan membawa banyak keuntungan untuknya, selain menjadi rekan bisnis yang luar biasa, Diana juga rekan yang baik di hati. Terkadang pria juga jengah bertemu dengan wanita yang terlalu mudah untuk di taklukkan. Mendapat sedikit tantangan, membuat adrenalin seorang pria tertantang.
Senyum itu disambut hangat oleh Diana, namun tidak dengan Jack. Pria itu bisa membaca fikiran Virendi.
"Selamat datang kembali!" Sambut ramah Diana.
"Terima kasih," Virendi meraih tangan Diana dan mencium lembut punggung tangannya dengan menatap tepat di manik mata indah milik Diana.
"Kerjamu memang luar biasa, aku tak bisa menganggap remeh kemampuanmu,"
Diana hanya melemparkan senyum khas miliknya.
"Kamu hanya cukup meminta, maka dengan mudah perusahaan Humprey Bogart Company akan kembali melebarkan sayap kemenangannya,"
"Tentu akan ada harga dari setiap pengorbanan!" Potong Jack, membuat Virendi segera mengalihkan tatapannya.
"Kamu benar, itu akan aku bicarakan secara pribadi pada Diana."
Terlihat rahang Jack mengeras, kala tatapan mengintimidasi yang di lotarkan Virendi padanya.
"Bicarakan saja langsung di sini. Tak perlu mencari alasan,"
"Kalian terlihat seperti anak kecil merebutkan mainan. Sayangnya aku tak terkesan dengan semua itu. Bisa kita fokus ke pembahasan."
Perbincangan mereka berjalan lancar, walau terkesan datar dan membosankan. Virendi memutuskan break, karena perseteruannya dengan Jack mengganggu konsentrasinya. Seharusnya dia menikmati pertemuannya dengan Diana, wanita dengan pesona glatsernya.
Diana meninggalkan Virendi di ruangan rapat, di susul Jack yang membukakan pintu untuknya. Kini mereka sudah berada diruangan Diana.
Jack menghempaskan tubuhnya di sofa dengan kasar. Terdengar dia membuang nafas dengan berat.
"Jangan membawa masalah pribadi di dalam pekerjaan."
Diana menatap nanar melalui jendela kantor, yang menampakkan bangunan-bangunan yang terlihat seperti miniatur tersusun rapi.
"Aku tak suka melihatnya menatapmu, dia juga harus menghargai ku sebagai suami dari seorang Diana."
"Seharusnya kamu lebih dulu belajar menghargai orang lain."
"Kau membelanya!" Suara itu terdengar lebih tinggi dari sebelumnya. Ada amarah yang siap meledak mendengar wanitanya membela pria bule itu.
"Tak ada yang membenarkan sikapmu, Jack."
"Lalu apa ada yang membenarkan sikapmu yang dingin terhadap suamimu sendiri? Berulang kali aku meminta maaf, namun selalu kau anggap angin lalu."
Diana membalik tubuhnya menatap Jack dengan wajah merah menahan amarah.
"Apa aku harus berpura-pura lupa jika pria yang baru beberapa minggu menikahi ku meniduri wanita lain!"
Perkataan Diana cukup menghujam jantung Jack. Emosi itu kian membuncah, sehingga dia melampiaskan dengan sekali tinju di dinding tak jauh darinya. Darah segar mengucur dari buku jarinya dengan luka yang menganga. Rasa nyeri itu tak sepadan dengan sakit yang ada di hatinya.
"Apa yang kau lakukan, Jack?" Suara Diana terdengar panik. Dia berjalan lebih cepat mendekati Jack. Meraih tangannya yang terluka, namun Jack menariknya.
Seketika tubuh Diana bergetar melihat darah mengalir begitu saja. Diana memiliki rasa takut yang berlebihan pada darah, tubuhnya akan langsung merespon berlebihan.
"Apa yang kau lakukan, Jack!" Diana tetap meraih tangan Jack, mencoba melawan rasa takutnya dengan cairan merah berbau amis itu. Tangan itu semakin bergetar saat tangannya ikut merah. Dia berusaha menghapus warna itu, sesekali mengelapnya dengan pakaiannya. Namun tak bisa menghentikan alirannya.
"Hentikan, Diana." suara Jack terdengar lirih, namun tak menghentikan aktifitas Diana. Entah sejak kapan, wajah Diana dihiasi dengan air mata. Jack kembali merasa bersalah. Dia menahan tangan Diana yang tak terkendali menghapus cairan merah yang terus mengalir di tangannya.
"Ka-u terluka, dan ak-u tidak bisa melihat semua ini." Kini Diana terbata-bata menyampaikan kalimatnya. Wajahnya sudah pucat pasi. Tanpa pikir panjang, Jack menarik Diana kedalam pelukannya. Mencoba meredam ketakutannya. Tak disangka, tangis Diana pecah di pelukan Jack. Usapan lembut di kepala dan tepukan ditubuhnya, perlahan mampu meredakan tangisan Diana.
"Maafkan aku," hanya kalimat itu yang mampu Jack ucapkan selama Diana meluapkan tangisnya.
Jack menuntun tubuh Diana berbaring di sofa, membiarkannya terlelap. Perlahan wajah itu berwarna, menghapus pucat yang sempat menghiasi beberapa saat. Perlahan Jack meletakkan bibirnya di kening istrinya. Mengucapkan seribu maaf dari dalam hati.
'Aku tak tahu, seperti apa luka yang pernah kamu rasakan. Tapi hati ini selalu ingin menjagamu dan bersamamu. Entah kau suka atau tidak, aku tidak peduli."
°°°
Virendi cukup kecewa, hari itu dia tidak bisa bertemu kembali dengan Diana. Walaupun dia bisa melanjutkan dengan asisten pribadinya namun dia memilih menundanya. Mana bisa dia bicara dengan asisten yang merupakan suami Diana. Baru kali ini dia tidak bisa profesional masalah pekerjaan.
Sedang asiknya dia meneguk vodka. Suara Roselna cukup membuyarkan lamunannya.
"Tak pernah aku melihat seorang Virendi menatap nanar seperti itu. Kalau bukan wanita, ya pasti pekerjaan. Namun siapa wanita yang beruntung itu?" Kepulan asap rokoknya mulai mengontaminasi oksigen ruangan itu.
Virendi menarik sudut bibirnya membentuk bulan sabit, "kenapa menyusul?"
"Aku ingin menemui seseorang di sini."
"Kita sama, jauh-jauh ke sini hanya demi seseorang."
"Tapi beda, aku sudah hampir sampai ke garis finis. Sedangkan kau, jauh ketinggalan." Roselna menyambar vodka dari genggaman Virendi.
"Tak apa, bisa melihatnya saja sudah lebih baik."
Roselna memang hampir mengetahui segala yang ada di hidup pria itu. Karena mereka sangat dekat, hampir tak ada rahasia. Saat dia melihat Virendi saat ini, dia yakin betul jika wanita itu spesial dan tentunya berbeda. Mengingat Virendi pria yang sulit jatuh cinta, ditambah lagi kehidupan rumah tangga yang hambar. Tentunya bertemu dengan wanita yang kini menghiasi benaknya, seperti menemukan air di padang pasir. Walau masih sulit di raih.
Akhirnya terselesaikan juga part ini.
Enaknya Diana sama siapa ya? Virendi atau Jack?
Jangan lupa vote n komennya ya!
👇
KAMU SEDANG MEMBACA
DIANA
Romancewarning...!!! ⚠ 🔞+ . . . . 📚 Diana Humprey Bogart, hampir semua pria menggilainya. Wanita yang memiliki bentuk tubuh sempurna, namun dingin tak tersentuh. Keangkuhan yang dimilikinya, menjadi daya tarik tersendiri di mata para lelaki. Hanya ada s...
