Part 20

5.3K 202 33
                                        


👣👣👣👣👣👣👣👣👣👣👣👣

Semesta selalu memberikan kita pilihan di setiap persimpangan. Terkadang pilihan itu lebih dari yang diinginkan. Seharusnya pilihan ini akan menjadi mudah jika tidak ada perasaan yang mulai meracun di dalam hati.

Surat perceraian terletak rapi di hadapan Diana, menunggu tangan lentik itu menarik ujung pulpen membentuk garis indah yang menyatakan dia menggugat cerai Jack.

'Lakukan saja Diana, maka semaunya akan berakhir. Dan rasa yang salah itu akan segera hilang seiring berjalannya waktu.' suara hatinya mulai meracau.

'Apakah akan semudah ini kau menyerah, Diana. Bukankah kau hanya mendapat bukti hanya dari wanita itu. Ini bukan dirimu, kau tak akan mudah percaya jika hanya dapat bukti dari satu orang saja.' sisi lain dari hatinya mulai mengingatkan kewarasan yang mulai goyah.

Segera Diana menekan layar pipih di tangannya, menghubungi seseorang.

"Lakukan dengan baik. Aku akan menunggu hasilnya." Sambungan itu pun terputus.

Mata indah itu berkedip untuk sesaat, sebelum pandangannya melihat kalender meja di sampingnya. Dia telah melupakan sesuatu. Terlihat lingkaran merah di tanggal 31 Januari, sekarang sudah 10 Maret. Segera Diana menekan nomor Dokter yang biasa menangani keluarga mereka dan sekaligus temannya semasa SMA.

Cukup lama Diana menunggu, akhirnya bel rumah itu berbunyi.

"Maaf lama," Ucap dr. Viviyen.

"It's ok. Ayo, Masuk!"

Mereka menuju ruang kerja Diana.

"Ok, sekarang ceritakan keluhan anda Nyonya Jack,"

"Jangan terlalu formal, Viviyen. Kita ini teman."

Viviyen terkekeh. Dia tahu, jika berbicara dengan sahabatnya itu Diana tidak suka suasana formal. Ya khusus untuk mereka berdua saja.

"Ok, ok. Jadi mau mulai dari mana?"

"Aku telat," ucap Diana spontan.

Tanpa sengaja Viviyen tersedak mendengar pernyataan sahabatnya itu. Tawanya pecah seketika.

"Kau bicara seperti itu seolah-olah belum menikah."

Diana lupa jika sahabatnya itu tidak tahu perihal keretakan rumah tangganya dengan Jack.

"Ck, masalahnya aku tidak yakin kalau aku hamil,"

"Sudah tes?" Tanya Viviyen dengan serius.

"Tes?" Wajah Diana sedikit berkerut dengan pertanyaan Viviyen.

"Astaga, Diana. Kenapa kepolosan itu masih ada di dirimu."

Viviyen merogoh tasnya, mengeluarkan digital pregnancy test dan memberikannya pada Diana.

Wajah bingung Diana terlihat jelas.

"Aku pebisnis, bukan dokter. Jadi jangan memaksaku mengerti semua ini." Ucap Diana kesal.

"Diana, anak ingusan aja tahu apa kegunaan alat ini." Viviyen menghela nafas panjang.

"Aku memintamu datang kesini untuk membantu, bukan membuatku pusing."

"Untung cantik, kalau tidak aku udah pulang dari tadi." Rungut Viviyen.

"Ya sudah kalau gak bisa bantu, pulang aja."

"Astaga nyonya ini sensitif sekali. Aku hanya bercanda. Ok, sekarang kamu masuk ke kamar mandi, buang air kecil dan simpan ditempat ini." Ucap Viviyen sembari mengulurkan tabung kecil.

Terlihat Diana akan protes, segera Viviyen menutup mulut Diana dengan kelima jarinya. Tubuh Diana didorong menuju kamar mandi.

Tak lama Diana keluar dengan sampel urine ditangannya. Viviyen segera mencelupkan ujung tes pack itu ke dalam urine. Tak lama hasilnya sudah terlihat.

"Pantas saja tingkat sensitifnya tinggi," ucap Viviyen langsung memeluk Diana.

"Hamil?"

Viviyen mengangguk.

"Jangan katakan pada siapapun termasuk Jack."

"Kamu ingin memberikan kejutan?"

Diana tersenyum.

"Ok, jangan lupa kamu besok harus ke dokter kandungan. Aku pulang dulu."

"Thank you."

Saat Diana akan mengantar Viviyen ke depan, mereka bertemu Jack. Raut wajah Jack berubah khawatir melihat Viviyen di rumah mereka.

"Siapa yang sakit?" tanya Jack khawatir.

"Tidak ada," Viviyen terlihat menahan senyum. Segera Diana mencubit pinggangnya. Sebisa mungkin Viviyen menahan rasa sakit itu.

"Aku pulang, sampai jumpa nyonya Jack." Senyum jahil itu menghiasi kepergian Viviyen yang disambut dengan lototan mata Diana.

Belum jauh mobil Viviyen pergi, Diana segera masuk. Namun, segera di susul Jack.

"Kenapa tidak menghubungiku jika sakit. Biar aku antar langsung."

"Aku tidak sakit,"

"Lalu, kenapa dr. Viviyen kesini?"

"Dia hanya mampir."

Saat Diana akan membuka pintu, langkahnya terhenti mendengar dering telponnya.

"Bisa tinggalkan aku sendiri?" Pintanya pada Jack yang masih membuntutinya hingga ruang kerjanya.

"Ok, aku akan ke kamar."

Diana segera menutup pintu dan menjawab panggilan itu. Dia menuju balkon dan mulai berbicara serius dengan si penelpon.

Diana segera mengambil tas kecil miliknya dan melenggang keluar. Segera dia memacu mobil menuju sebuah alamat yang dikirim oleh si penelpon.

Mobilnya terparkir disebuah kafe yang cukup terkenal di kotanya. Segera dia turun dan mencari seseorang. Langkahnya pasti dan semakin dekat dengan orang itu.

"Kau?" Wajah itu terlihat kaget.

Diana duduk tepat dihadapan Roselna.

"Kita akan membuat kesepakatan."

"Maksudmu?"

"Aku rasa kau mengerti maksudku."

Senyum di bibir merah Roselna seketika terbit. Asap rokok yang sudah dia hisap dia kepulkan di udara.

"Kau ingin menyerahkan Jack padaku?"

"Ya, jika dia memilihmu."

"Jika sebaliknya?" Tatapan itu penuh tantangan.

"Pertanyaanmu menunjukkan posisi yang rapuh."

Dibalik meja, Roselna meremas bajunya. Menahan emosi, dia sadar Diana wanita yang tak mudah untuk digoyahkan.

"Aku tahu tentang perselingkuhanmu dengan Virendi,"

Diana terkekeh, tatapannya mengejek melihat wanita dihadapannya yang berusaha terlihat santai dengan degup jantung yang mulai tak karuan.

"Kenapa buru-buru mengungkapkan siapa dirimu,"

Sungguh Roselna tidak bisa menebak jalan pikir Diana.

"Adik seperti apa yang memanfaatkan saudaranya untuk merusak rumah tangga orang."

"KAU!"
Jari telunjuk Roselna mengacung tegas ke wajah Diana.

"Kita masih tinggal di tempat yang disebut bumi. Kuperingatkan, tak perlu kau meracau."

"Akan kupastikan Jack memilihku,"
Dengan wajah merah padam, Roselna meninggalkan Diana yang tampak santai.

Tak lama Diana melenggang keluar dari kafe itu. Namun langkahnya terhenti melihat sosok yang menghalangi jalannya.

"Diana!"

Hai, saya kembali. Maaf sekali baru bisa update. Akhir bulan Maret author mengalami pendarahan. Syukurnya calon bayi y selamat. Semoga selalu sabar ya nunggu kelanjutan Diana.

Jangan lupa bintangin dan komen.
⭐🥰

DIANACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang