Part 22

3.8K 182 23
                                        

Ciee yang nunggu kelanjutan Diana. Hari ini mood lagi bagus. Jadi up dulu. Tapi gak bisa panjang kali lebar ya. Karena tinggal beberapa part lagi bakal tamat versi WP. Doakan aja, bakal ada kejutan versi novelnya.

😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇

Sudah dua tahun semenjak kejadian itu. Diana hampir saja kehilangan bayinya. Bayi lucu itu menatap dengan binar cinta dimatanya. Kenapa dia begitu mewarisi paras ayahnya. Membuat Diana semakin sulit melupakan si pemilik hatinya saat ini.

"Mau sampai kapan lari dari kenyataan?" Viviyen tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan membawa nampan berisi teh dan kue.

"Aku tak pernah lari." Ada sebuah rasa yang berusaha dia sembunyikan. Walau dia tahu, Viviyen lebih gesit membaca hatinya.

"Ya, kau memang yang pergi. Tapi hatimu masih tertinggal di sana bersama si pemilik mata indah ini." Tangan Viviyen menyentuh pipi gembul bayi itu.

Diana meletekkan bayinya di box. Perlahan mata indah itu terpejam, menyelami dunia mimpi dengan tersenyum.

"Ah sudahlah Viviyen, selama dia tidak tahu bahwa aku sudah melahirkan putrinya. Maka tak perlu ada yang diungkapkan. Aku yakin, sekarang dia sudah bahagia dengan wanitanya,"

Viviyen memiringkan senyum, ada sesuatu yang menggelitik hatinya.

"Aku tak menyangka, seorang Diana bisa patah hati. Ternyata hati itu sudah berubah lunak." Kekehan itu akhirnya keluar dari mulut mungil Viviyen.

Diana hanya menatap hampa diluar jendela. Sebuah layar menyala dihadapkan Viviyen tepat di wajahnya.

"Kata siapa dia bahagia, dia selalu menanyakanmu hampir tiap detik. Aku capek berada ditengah-tengah kalian. Aku juga ingin hidupku."

Wajah Diana seketika berubah. Tampak kekesalan dari raut wajah yang tak pernah hilang kecantikannya.

"Aku tak pernah memintamu bertahan di sini. Aku bisa sendiri."

"Oh my god, lihat nyonya Jack. Setiap harinya semakin sensitif. Sudah seperti pembalut saja. Kalian itu pasangan yang serasi. Si pria sangat murahan, dan si wanita sangat menjaga gengsi."

"Serasi apanya seperti itu?"

"Ya, jika kamu mau sedikit melunak. Tapi, terserahlah. Aku akan pergi. Mungkin sedikit lama. Ada seminar keluar kota. Jaga ponakan lucuku itu. Jangan lama-lama menyembunyikannya. Atau nanti dia yang akan membencimu karena tidak pernah diberi tahu siapa ayahnya."

***

Entah sudah berapa musim yang terlewati, namun tampaknya Diana tetap pada musimnya yang beku. Walau masih ada tersisa sebongkah hati yang menghangat jika mengingat si pemilik senyum menawan itu.

Sebuah sentuhan di bahu mulusnya mengagetkan Diana yang sedang melamun.

"Melamunkanku?"

"Ah, kau. Kenapa suka sekali mengagetkan."

"Siapa suruh tidak membalas pesanku. Aku kesusahan karena itu."

"Ada masalah?"

"Rindu,"

"Sudahlah Virendi. Kita sudah sepakat tidak membahas itu lagi."

Pria itu terkekeh, tangannya lincah menyulut benda panjang yang akan menjadi polusi d ruangan ini.

"Kau harus kembali. Pria itu sangat kacau. Lama-lama perusahaan akan ikutan kacau."

Kembali, ragu dia ucapkan dalam hati. Apakah dia harus menuntaskan rindu yang kian menggebu. Namun, bagaimana dengan luka di hatinya. Kenapa rindu dan benci itu harus beriringan.

😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇

Jangan lupa bintangin dan komen.

💐✨

DIANACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang