Part 17

6K 174 4
                                        

Ide dan semangat nulis cerita Diana udah datang ni guys. Part ini rasanya kayak nano-nano.

Lupa kasi tau, saat Virendi ngomong itu gak gunain bahasa Indonesia ya, dia hanya bisa gunain dua bahasa, Prancis dan Inggris. Kenapa di cerita author gak gunain bahasa Inggris dan Prancis, itu karena author gak mau ribet, buat kalian yang gak fasih bahasa itukan kasian buka google translate. (Kayak author 😅)

Luka dan kecewa akan selalu setia menemani jiwa yang bernyawa. Bagaimanapun hancurnya hati, kita tak berhak merampas kebahagiaan yang telah disuguhkan di dalam hidup ini. Nikmati setiap jengkalnya, walaupun serasa empedu. Bukankah lebih baik empedu, daripada racun.

Seperti hadirnya pelangi, saat matahari bersinar terik dan rintik hujan menari turun ke bumi. Kala itu kita baru bisa menikmati goresan warna warni alam yang melengkung indah.

Gambaran itu sangat mewakili perasaan Jack saat ini. Walaupun dia hancur melihat wanitanya terbaring lemah selama tiga hari di RS, karena insiden itu. Namun dia juga bersyukur, kejadian itu sedikit demi sedikit mencairkan gletser di hati Diana. Jack tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan sepenuh jiwa dia merawat Diana. Namun hari ini mau tak mau dia harus ke kantor. Karena pekerjaan yang harus segera rampung selama Diana sakit.

"Aku tak 'kan lama. Jika ada apa-apa segera hubungi aku!" seru Jack sebelum beranjak pergi. Diana tersenyum melihat kekhawatiran pria itu.

"Aku baik-baik saja, Jack. Aku bukan anak kecil yang harus selalu di khawatirkan."

"Buktinya, beberapa hari ini kau bergantung padaku." Senyum itu mulai di rindukan Diana.

"Itu semua karenamu."

"Iya, karena aku mencintai mu." Seketika Jack mendaratkan kecupan hangat di pucuk kepala Diana.

"Maaf." Kalimat itu lirih terucap dari bibir Jack. Mereka saling memautkan kasih yang telah lama tak tersentuh, hingga nafas memburu dan kian terasa sesak. Keduanya hanyut dalam gelora hati yang kian memanas. Pintu ruangan tempat Diana di rawat yang sudah terkunci rapat, membuat aktivitas mereka berjalan dengan tenang tanpa takut gangguan dari siapapun. Peluh mulai menghiasi aktivitas pagi mereka. Tak peduli apa yang terjadi diluar, ada hasrat dan jarak yang harus dituntaskan dan dihilangkan.
Kemarau panjang sudah dibasahi hujan. Kini tinggal menunggu benih yang siap tumbuh dan berkembang.

Rasa hangat mulai menjalar di hati Diana. Ada rasa bahagia yang tak mampu di artikan. Rasa itu pertama kali dia rasakan. Hingga rona merah mendominasi kulit pipinya. Senyum itu tercipta kala si pemilik asa telah pergi dengan mengucapkan seribu cinta dan kecupan yang memabukkan. Masih sibuk merasakan gelenyar aneh di hatinya, pintu itu kembali terbuka. Namun bukan sosok yang baru menciptakan kembang api di hatinya. Pria bermata elang, memikili rahang tegas denga bulu halus yang menghiasi sekitarnya, berjalan dengan tegap ke brankar Diana dengan bouquet mawar ditangannya. Senyumnya terkembang kala melihat Diana.

"Selamat pagi," Virendi memberikan bouquet itu kepada Diana. Tangan Diana terulur menerimanya, lalu meletekkannya di nakas.

"Kebanyakan wanita setelah menerima bunga dia akan langsung menciumnya." Ucapan itu terdengar biasa, namun Diana tahu ada rasa kecewa di sana.

"Sayangnya, tebakan mu meleset. Aku tak suka mawar dan tak suka menghirup wanginya."

"Kau wanita yang sulit ditebak. Tapi, aku suka."

"Jangan suka, nanti kecewa."

"Di negaraku tak mengenal kata 'kecewa'."

"Sekarang kau ada di negaraku."

"Kau selalu membuatku terpesona."

"Pesona itu hanya sesaat. Jangan sampai memabukkanmu." Diana tersenyum menampilkan deretan gigi yang putih dan rapi.

Tangan Virendi terulur akan menyentuh helai rambut Diana yang terurai menggoda indranya sedari tadi. Belum lagi tetes keringat yang meluncur di kulit eksotis milik Diana, seakan-akan mengejek Virendi atas ketidak berdayaanya menyetuh wanita itu. Suara deheman seseorang mengagalkan aksinya. Mereka kompak menoleh kesumber suara.

"Sepertinya aku mengganggu." Suara Lilo cukup membuat Virendi membisu dan memperbaiki posisinya.

"Jaga bicaramu, Lilo." Suara itu terdengar santai. Namun memukul rasa di hati Lilo.

"Aku pergi, semoga cepat sembuh."

Tak ada raut ramah yang diperlihatkan Lilo. Matanya menelanjangi pergerakan Virendi. Setelah sosok itu menghilang. Dia kembali menatap Diana.

"Apa?" Diana tersenyum. Dia senang saat melihat adiknya bertingkah menjadi pelindung untuknya.

"Siapa lelaki itu?"

"Pemikiran yabg gampang ditebak."

Lilo terlihat kesal saat mendudukan tubuhnya di sofa.

"Dia pria yang tidak baik."

"Menurutmu!" seru Diana.

"Dia hampir menciummu jika aku tak segera datang." Diana terkekeh, sungguh adik yang polos. Penilaian Diana tentang Lilo masih belum berubah, adik yang ceroboh dan polos.

Belum selesai tawa Diana. Handpone Lilo berdering. Tampak binar bahagia di wajahnya kala melihat layar itu menyala. Tanpa ragu dia menjawab panggilan itu.

"Hallo Ra ...," Kalimat Lilo tertahan begitu saja, saat lawan bicaranya mulai bersuara dari seberang telpone.

"Ok, tunggu aku di sana. Shere lokasi mu, aku akan segera menjemputmu." Tanpa kata Lilo bersiap akan pergi.

"Jangan mengambil keputusan tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu." Saran Diana hanya di sambut senyum oleh Lilo. Tubuhnya menghilang dari balik pintu.

"Kapan dewasanya kalau bertindak gegabah seperti itu. Dasar anak kecil," ucap Diana setengah berteriak.

Tiba-tiba sebuah kepala muncul dari pintu yang sedikit terbuka, "Hei, aku mendengarnya. Dan akan ku buktikan, kalau aku bukan anak kecil lagi."

Tak lama pintu itu ditutup dengan kasar. Diana hanya mendengus kasar. Tak jarang rasa lelah menghantui dirinya, namun dia tak ingin menyerah begitu saja. Dia sadar hidup perlu perjuangan.

Dikit aja dulu ya, ngantuk udah mulai menyerang.

Jangan lupa

• komen ✍️

• Follow 🤝

• vote ✨

TB, 14 Des 2019
23.20 wib
😍

DIANACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang