Makasih buat para reader setia, cerita ini ku Persembahkan untuk kalian yang setia nungguin kelanjutan cerita DIANA.
Tanpa sepengetahuan Jack, Diana meminta pihak rumah sakit segera memberi izin untuk pulang. Siapa yang tahan terkurung diruangan yang serba putih dan bau obat yang membuat mual. Belum lagi jarum infus yang tertancap di tangan kanannnya, menghambat pergerakan Diana.
Kepulangan Diana tidak ada yang mengetahui. Dia sengaja menggunakan taxi untuk pulang. Rumah tampak sepi, dia yakin Jack belum pulang. Matanya melihat motor Lillo terparkir di garasi. Dia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah. Langsung menuju ruang kerja. Namun netranya menangkap suara tawa. Suara itu bukan milik Lillo, namun seorang perempuan. Tanpa menunggu, Diana segera melangkah menuju kamar Lillo. Membuka pintu dengan cepat. Hatinya cukup terkejut dengan pemandangan yang ada, namun wajahnya tak menunjukkan itu.
"Diana ...," Wajah Lillo pucat pasih, melihat kakaknya sudah berdiri tegak dengan tatapan datar.
Tubuh polos mereka hanya tertutup kain, terlihat sangat berantakan. Dengan pakaian yang berserakan dilantai.
"Ini yang kau bilang dewasa?"
Wanita itu menarik rapat kain mencoba menutupi semua anggota tubuhnya.
"Aku tunggu di luar!" seru Diana, kemudian meninggalkan mereka yang tertunduk malu.
Diana merasa gagal mendidik adik semata wayangnya. Bisa-bisanya dia melakukan hal kotor itu di rumahnya hanya untuk membuktikan bahwa dia telah dewasa. Terlihat mereka berdua keluar dari kamar, sudah lengkap dengan pakaiannya. Langkah mereka tampak ragu, namun akhirnya mereka sampai juga di mana Diana duduk menunggu.
"Jelaskan?" Suara itu terdengar datar namun tegas.
"Aku ingin menikahinya." ucap Lillo tanpa ragu.
"Kau masih seorang pelajar,"
"Tak lama lagi, aku akan lulus." Kini tangan mereka saling berpaut. Terlihat wanita itu menggeleng.
"Tidak, Lillo. Dean akan membunuhku jika tahu apa yang akan kau lakukan." Suaranya berbisik, namun Diana masih bisa mendengarnya.
"Tidak ada yang bisa melukai mu selama ada aku."
Sudut bibir Diana tertarik, membentuk senyum di ujung bibirnya. Hatinya terasa digelitik mendengar penuturan Lillo. Anak kecil sok menjadi dewasa. Kapan dia akan mengerti arti dewasa sebenarnya
"Kembalikan dia pada suaminya."
Seketika Lillo berlutut memohon pada Diana.
"Kak, kumohon. Aku ingin melindungi Raisa."
"Bersikaplah seperti orang dewasa." Diana berlalu pergi meninggalkan mereka yang masih memantung.
Rasa lelah membuat rasa penat luar biasa menyerang. Diana tetap menuju ruang kerjanya, walau dia telah kehilangan selera untuk memeriksa dokumen yang sudah tiga hari tidak di sentuh. Sebuah sofa panjang menjadi incaran untuk merebahkan tubuh yang letih. Tangannya reflek menekan pelipis. Mencoba meredakan rasa nyeri yang menyerang seketika. Belum sempat dia memejamkan mata. Deringan telepon mengejutkan.
'Kenapa tidak memberitahuku jika akan pulang. Jika terjadi apa-apa dengan mu, bagaimana! Aku masih bisa kalau hanya menjemput.' rentetan kalimat Jack hampir tanpa jeda di ucapkan. Membuat Diana semakin jengah.
'Jangan terlalu mengkhawatirkanku, Jack. Aku masih bisa sendiri'
'Bisakah tidak keras kepala, Diana.'
'Aku sudah pulang ke rumah dengan selamat. Jangan terlalu berlebihan.' Panggilan itu terputus secara sepihak. Keinginan untuk memejamkan mata lenyap seketika. Langkah selanjutnya dia arahkan menuju dapur. Menuang air putih ke dalam gelas. Meneguknya hingga tandas. Hingga sebuah suara cukup mengusiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIANA
Romancewarning...!!! ⚠ 🔞+ . . . . 📚 Diana Humprey Bogart, hampir semua pria menggilainya. Wanita yang memiliki bentuk tubuh sempurna, namun dingin tak tersentuh. Keangkuhan yang dimilikinya, menjadi daya tarik tersendiri di mata para lelaki. Hanya ada s...
