❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
Maaf ya nunggu up part selanjutnya lama. Kedepannya akan diusahain cepet. Jangan lupa kasi bintangnya sebelum atau sesudah baca. Karna ngaruh juga ama mood eyke. 🥰🥰🥰
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Jatuh cinta merupakan anugera terindah di dalam hidup manusia. Hal yang paling simple, hanya dengan mendengar namanya, hati udah bersorak. Dan caranya hadir tak ada yang bisa menebak.
Ada rasa yang sedang bereuforia di dalam hati Diana. Wanita gletser ini, telah meruntuhkan tembok dingin untuk sang suami. Perlahan namun pasti. Rasa yang indah itu kini semakin bersemayam di hati sang istri. Jika perhatian dan rasa tulus selalu diberikan, mustahil cinta tak tumbuh. Sekeras-kerasnya hati wanita, lama-lama akan luluh juga.
Pagi ini, sekotak sarapan yang telah dibuat dari tangan indah Diana, siap dibawa menuju kantor. Berharap mampu membuat hangat suasana yang sempat dingin. Sebelumnya Diana tak pernah sekonyol ini, selalu terbayang wajah sang suami saat merayu, sikap manja, dan senyumnya. Namun dia tak ingat kapan Jack memperlihatkan wajah marahnya. Ah, pria itu memang tak pernah marah.
Langkah indahnya menuju ruangan Jack. Hati yang sudah berbalut bunga-bunga dengan senyum yang mulai terkembang harus sedikit tertahan. Untung dia masih sadar untuk menahan diri, jika tak ingin para karyawan mulai bergunjing.
Melihat pintu ruangan Jack, ingin rasanya dia meniadakan pintu itu, agar tak ada lagi penghalangnya untuk segera melihat sang suami. Dia akan segera masuk, karena sebuah ketukan akan merusak kejutan yang sudah disiapkan.
"Diana!" ucap Jack dengan nada panik.
Perasaan Diana seperti beling yang dilempar kelantai, seketika hancur dan remuk. Kejutan itu berbalik justru kepadanya, saat melihat pemandangan dihadapannya. Seorang wanita bule terbaring dibawah Jack dengan pakaian sedikit berantakan.
"Posisi yang bagus! Sayangnya terlalu murahan jika harus di sini!" ucap Diana dengan nada sinis
Jack sudah berdiri sebelum Diana bicara. Dia masih terlihat rapi, hanya ada bekas lipstik di pipi kanannya.
"Sayang, ini semua tak seperti yang kamu lihat. Ini hanya salah paham," Jack mendekat, mencoba meraih tubuh Diana. Wanita itu lebih dulu mundur, enggan untuk disentuh.
Sungguh sakit menahan sesuatu yang sudah berontak ingin mengalir keluar. Hatinya masih ingin terlihat kuat, hingga tetes itu tertqhan dipelupuk mata.
Diana mendekati wanita bule itu, menatap penuh jijik.
"What?" ucap wanita itu dengan sinis.
"Matamu mengatakan, kalau aku lebih menarik dimata Jack."
Senyum sinis terbit di wajah cantik Diana. Hatinya geli mendengar wanita itu memuji dirinya sendiri.
"Dimataku, kau tak ubahnya seperti tulang. Dan kau tahu, siapa yang sangat menggilai tulang?"
"Sh**, beraninya kau menghinaku?" Seketika tanganya melayang diudara, namun Diana lebih sigap menangkisnya.
"Aku tak suka ada hama di dalam hidupku. Jika kau terus merusak, kupastikan hidup hama itu tak akan lama lagi."
Wajah wanita itu sudah merah padam. Dengan erat dia menggenggam tangannya melihat kepergian Diana. Terlihat Diana berhenti tepat didepan pintu, membuang kotak sarapan yang sudah dia buat dengan penuh cinta ke dalam tempat sampah.
"Pergilah, Roselna!" perintah Jack pada wanita bule itu. Dia tak bergeming.
"No. Aku akan tetap di sini." Dia kembali duduk di sofa.
"Kau sudah mengahancurkan hidupku. Sekarang pergilah, sebelum aku bertindak kasar padamu." Kini Jack sudah membukakan pintu, tanpa melihat kearahnya. Dengan kasar dia melangkah keluar.
Jack menutup pintu dengan kasar dan menendang tempat sampah disamping pintu. Isi didalamnya berhamburan, namun matanya tertuju pada bungkusan yang sempat di buang Diana. Diraihnya dan diletakkan di meja. Saat semua penutupnya sudah terbuka, terlihat beberapa potong sandwich gulung, kismis, telur dan beberapa jenis buah yang di potong berbentuk hati. Hati Jack kembali sakit. Dia bisa merasakan hancurnya perasaan Diana saat melihat kesalahpahaman tadi.
Roselna tiba-tiba saja datang, entah dari mana dia tahu kantor Jack. Wanita itu bersikap tak tahu malu, selalu menyerang Jack dengan bibir merah delimanya. Penolakan Jack membuat wanita itu semakin menjadi, tarikan di baju Jack membuat mereka terjatuh di sofa dan saat yang bersamaan Diana hadir.
Jack segera bangkit dari duduknya, menuju pintu. Kakinya melangkah menuju ruangan Diana.
"Maaf, Pak. Bu Diana tidak ada di ruangannya." Ucap sekertaris Diana.
Namun Jack tak menghiraukan. Dia tetap memaksa masuk. Namun ruangan terlihat lengang, tak terlihat si pemilik hatinya berada di sana, dikursi yang biasa dia gunakan. Jack kembali lagi keruangannya untuk mengambil kunci mobil. Segera dia lajukan kendaraannya menuju rumah.
Senyumnya merekah, kala melihat mobil Diana terparkir dihalaman rumah. Segera dia masuk dan mencari sosok Diana.
Tak butuh waktu lama, dia menemukan Diana yang sedang berdiri disamping kolam renang. Namun matanya menangkap dengan tajam sesuatu yang dipegang wanitanya itu. Segera dia menghampiri Diana dan merampas gelas ditangannya.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Jack dengan panik.
Diana sangat terkejut dengan sikap spontan Jack.
"Kembalikan,"
"Apa kau ingin mati, ini akan membunuhmu," ucap Jack dengan mata yang merah.
Diana mendekatkan wajahnya pada Jack.
"Aku hanya minum, dan kau tak perlu berlebihan." Jemari Diana kembali berusaha meraih gelasnya. Namun Jack membuangnya kekolam. Diana melongos meninggalkan Jack.
"Minuman itu terakhir hampir merenggut nyawamu. Jangan main-main, Diana."
Mendengar ucapan Jack, Diana kembali kehadapannya. Menatapnya tanpa kedip.
"Apa kau pikir aku main-main di dalam hidupku?"
Jack menangkup kedua pipi istrinya dengan lembut. Menempelkan dahi mereka.
"Semua ini hanya salah paham, percayalah."
Diana menarik diri dengan kasar. Matanya memancarkan kebencian dan amarah. Dengan senyum terbit di ujung bibirnya.
Tangannya lincah menyentuh layar handphone. Tak lama dia menunjukkan sebuah gambar kewajah Jack. Mata Jack membulat sempurna melihat gambar itu. Potret dirinya dan Roselna saat di Prancis. Dia tak mengira Roselna akan senekat ini. Dan malam itu mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama. Jack hanya mampu menyapu wajahnya dengan kasar. Mengacak dan menarik rambutnya.
"Ini juga masih salah paham?" ucap Diana dengan bibir bergetar. Kali ini pertahanan Diana roboh. Dia biarkan air yang sedari tadi ingin mengalir, keluar membanjiri pipi mulusnya.
"Diana, maafkan aku. Aku tahu, apapun yang aku ucapkan akan terdengar salah. Namun sungguh itu semua bukan ...,"
"Cukup, aku tak ingin ada kata-kata yang semakin membuatku terluka."
"Diana, dengarkan aku. Aku sudah berkata jujur, setidaknya biarkan aku menjelaskan semuanya."
Diana hanya memberikan isyarat untuk diam. Dia tak sanggup lagi mendengar dan berhadapan dengan pria yang mulai dia cintai.
"Aku akan mengurus perceraian kita," ucap Diana dan berlalu meninggalkan Jack yang mematung tak percaya dengan kalimat yang di ucapkan Diana.
Nulis part ini akunya yang sakit hati. 😠
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
KAMU SEDANG MEMBACA
DIANA
Romancewarning...!!! ⚠ 🔞+ . . . . 📚 Diana Humprey Bogart, hampir semua pria menggilainya. Wanita yang memiliki bentuk tubuh sempurna, namun dingin tak tersentuh. Keangkuhan yang dimilikinya, menjadi daya tarik tersendiri di mata para lelaki. Hanya ada s...
