Air tidak pernah tahu apa itu penolakan. Sejak ibu melingkarkan rantai kecil berliontin biru misterius ke pergelangan tangannya, tidak ada seorang pun yang mampu lepas dari pengaruh Air.
Masa-masa remaja Air lewati tanpa secuil kerikil. Semua berj...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sahabat adalah dia yang bisa dimaki, dipuji. Dipukul, lalu dirangkul. Aku begitu untukmu, dan kamu begitu untukku."
**Air Telaga**
"Air buruan kenapa? Kita telat ini, telat …."
Libur tiga minggu ternyata tidak melunturkan cerewetnya Hasbi. Hari ini adalah hari pertama kita sekolah di semester baru, dan sialnya harus telat. Aku sih biasa saja, Hasbi saja yang sok - sokan, biasanya juga langganan telat. Pakai drama segala!
"Air, ayo lari!" Dia menarik lengan kananku, aku lepas dengan sekali kibas.
"Gue bengek, Bi."
"Gue lupa, yaudah jalan aja, yang cepet tapi!" Bedanya di mana? Nggak habis thinking aku sama Hasbi. Aku tahu Hasbi aneh, tapi aku nggak pernah tahu kalau keanehan anak itu akan se-awet ini. Terlepas dari keanehan Hasbi yang sering malu-maluin, Hasbi adalah teman tertulus yang pernah dekat denganku. Hasbi adalah satu-satunya anak yang bisa membuatku nyaman untuk tetap berada di sekitarnya. Kan aneh?
"Alhamdulillah, gerbang Saka akhirnya kelihatan," ujarnya tiba-tiba, tangannya menengadah ke langit, kemudian dengan cepat membasuhkannya ke muka. Persis seperti orang yang selesai berdoa.
Aku ikut lega, capek banget rasanya jalan kaki dari depan perumahan. Besok nggak lagi-lagi deh nebeng mobil papanya Hasbi yang suka mogok setiap kena polisi tidur itu. Kapok!
Sebenarnya jarak dari MoonGarden--komplek perumahan di mana aku tinggal--dengan Saka tidak begitu jauh. SMA Wiksa Mahardika yang biasa aku dan teman-teman sebut Saka tepat berada di belakang Moongarden, jalannya saja yang harus memutar.
Aku dan Hasbi tiba di gerbang Saka sekitar pukul tujuh lewat lima belas menit. Telatnya cukup banyak. Di dekat pos satpam sudah ada satu, dua, tiga, sembilan anak Saka lain dalam posisi push up, ngos-ngosan sambil berhitung. Kasihan.
"Mampus, ada Pak Kris Air."
Aku ikuti arah pandang Hasbi, di samping pos satpam ada Pak Kris Rahmadi yang duduk di kursi kayu, melipat kakinya, tangan kiri membawa bilah kayu panjang, sementara tangan kanannya mengangkat gelas kopi.
Pak Kris bukan satpam gendut galak berkumis yang suka memberikan hukuman tidak wajar pada anak-anak. Pak Kris baik kok, dia tinggi, dengan badan tegap, dan kulitnya yang eksotis. Pak Kris juga ramah, dia suka tersenyum sambil menyapaku. Kadang juga membawakanku sekantong jambu air hasil panen sendiri. Kan aku jadi hormat.
Tapi kenapa banyak anak-anak Saka yang takut setengah mati dengan Pak Kris? Termasuk Hasbi yang sekarang posisinya sudah pindah di belakangku.
"Itu yang baru dateng, gabung sini! Push up dua puluh kali!" titah Pak Kris, masih belum beranjak dari tempat duduknya.
Aku sempat kaget, ternyata suara teriakan Pak Kris bikin ciut nyali juga. Sementara Hasbi sudah berisik sambil sesekali mendorong punggungku. Memintaku untuk segera patuh supaya amarah Pak Kris tidak semakin parah.