Didalam sebuah kamar yang mempunya desain mewah,Arga menyalakan ponsel.Tadinya ia sedikit mager,tapi ada sesuatu ntah itu suatu perassaan ganjil hatinya yang meminta dirinya melakukan itu.
"Tante Evi? Ada apa,ya? Kok nelpon berkali -kali?"
Tiba-tiba ponselnya bergetar,menandakan ada panggilan yang masuk.Di layar tertera 'Tante evi'.Tak ragu Arga segera mengangkatnya."hallo tan."
"Arga?!"
Dahi Arga mengerut.suara tante Evi itu terdengar berguncang."iya,tante.ini arga.Ada apa?"
"Bisa kerumah sakit husada sekarang?"kemudian terdengar tangisan dari sebrang.
"Tante, kenapa nangis?Dira memangnya nggak ada di rumah?"firasat Arga mengatakan ada yang tidak beres.Lalu,terdengar nada sibuk.
"Lho?kok dimatiin?"tanya Arga penuh heran."pasti ada apa apa ini."gerutu Arga
Arga pun langsung mengambil kunci mobilnya dengan mengenakan jaket berwarna biru dongker ia langsung turun kebawah dan bergegas pergi dengan kelajuan yang cepat.Arga disambut oleh Tante yang sedang duduk disebuah kursi dekat ruang ICU dengan kepala yang ditundukan kebawah air mata yang jatuh begitu derasnya,
"Tante? Are you okay tan?" Panggil Arga dengan pelan namun mengejutkan.
Tante memutar kepalanya dengan mengisyaratkan Ia baik baik saja tetapi matanya megarahkan ke arah Ruang ICU,seolah mengkode Arga untuk melihat ke dalam ruangan tersebut.
Arga tidak berkutuk memandangi ruang ICU dari luar jendela
"Di-Ra," lirih Arga menyentuh kaca ruang ICU. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan pahit seperti ini,seolah ini hanya mimpi.Berkali-kali Arga menepuk pipinya sendiri,tapi hanya sakit yang ia rasakan.
"Tan,Dira kenapa ada apa tan,ada yang tidak Arga tahu?"tanya Arga dengan wajah sendu.
Terlihat wajah Tante Evi bersemu merah karena sembab. Ia berdiri ketika menyadari Arga mendekat." Dira terkena penyakit kanker hati. stadium awal Ga." Ia menepuk nepuk pundak Arga paham akan kondisi Arga sekarang.
"Kanker hati?" Arga syok dengan tatapan kosong berasa jantung berhenti seketika."Gak,ga mungkin. Dira ga pernah bilang ke Arga tan,Arga ge percaya." Arga menutup wajahnya dengan kedua tangannya Agar Rasa syok tidak menenggelamkan Ia.Mama kini berada di area perkarangan rumah Evi dengan papa dan Lira yang masih ada didalam mobil,wajah mama begitu sembab merah dimata yang begitu terlihat jelas.
"Assalamualaikum vi,assalamualaikum ,"ketuk Mama getir udah 2 kali Mama mengetuk pintu dan mengucapkan salam.tetapi tidak ada satupun yang menjawabnya "apa rumah ini kosong?"gumam Mama.
Akhirnya papa dan Lira turun dari mobil,menghampiri Mama yang dari tadi mengetuk pintu tanpa sautan dari dalam rumah tersebut.
" sepertinya tidak ada orang didalam,besok saja kita kesini lagi ya." Papa yang menepuk nepuk pundak mama sembari merangkul mama dan berjalan menuju mobil,mereka pun pergi dari area pekarangan rumah Tante Evi.
" Mereka kemana ya pa,ga biasanya tidak ada dirumah." Tanya mama yang membuka pembicaraan didalam mobil.
"Mungkin lagi keluar atau mungkin lagi jalan jalan ," ucap papa menenangkan.
" Mama ga tau pa,apa dira bisa maafin mama yang udah jahat sama dia. apa dira bisa kembali sama kita lagi?" Air mata jatuh membasahi kembali pipi Mama.sedangkan Lira hanya menatap dengan sendu.
Flasback on
"Jawab jujur pertanyaan aku rel,apa kamu dalang dibalik semua kejadian itu! Apa kamu yang udah hancurin keluarga aku ! " suara papa begitu lantang dan bergema disebuah ruangan berwarna putih yang isinya hanya barang barang yang sudah tidak dipakai.
"Hahaa,iya aku dalang dibalik semua itu terus kenapa peduli apasih kakak sama Dira ha?"
Papa menubruk bahunya ke bahu Farel."jelas aku peduli,Dira itu anak ku darah daging ku yang dulu adalah mutiara dalam keluarga tapi karna kamu,karna kamu dia terasingkan,ulah kamu kelewatan rel !"
Farel berusaha tetap tenang dengan menampakaan ekspresi cool-nya. " tidak usah banyak drama kak,itu semua tidak akan terjadi kalau kakak benar benar sayang sama dia,tapi apa? Ha-ha-ha kakak malah terhasut oleh sebagian manusia manusia yang mengatakan bahwa Dira lah pembunuhnya dan kakak masih mengatakan aku penyebabnya? Buka mata kak,yang menyebabkan hancurnya keluarga kakak adalah diri kakak sendiri !" Farel menepuk nepuk dada Wijaya ( papa Dira )
Tanpa pikir panjang Wijaya lantas mendorong tubuh Farel hingga menyentuh dinding ruangan itu.Ia menahan tubuh Farel dengan meletakkan lengannya di leher Mantan adik tersayangnya itu."Aku ga akan pernah maafin orang sebangsat kamu! Sampai terjadi apa apa sama Dira.aku pastiin hidup kamu tidak akan pernah tenang!" Ancam wijaya dan langsung menghampiri istrinya diujung,tidak menyangka bahwa Farel lah pembunuh sebenarnya,Air mata jatuh sederas derasnya dari pipi istrinya tangisan pecah diruangan itu "maaafin Mama Dir maafin mama,"histeris mama,papa merangkul Mama.
Farel lantas menyeringai,menunjukan tampang kejam." Aku pemenangnya,loser!"
Ia pun pergi dari sana.meninggalkan sepasang suami istri yang sedang dalam keadaan duka atas informasi yang baru mereka ketahui,tidak menyangka seorang yang selalu Wijaya banggakan dan selalu Wijaya percaya malah dia lah yang menusuk Wijaya dengan pisau tajam berdarah.
"Sialan!"
"Mama mau jumpa Dira sekarang pa,"
Papa hanya mengangguk dan menuruti permintaan istrinya tersebut.
Flashback off.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kesendirian
Teen Fiction"kamu mati atau kamu selamat itu ditangan kamu sendiri,tekan atau semuanya akan binasaaaaaaaa,semua yg kamu rasakan selama ini,akan berakhir hari ini juga,tekan sekarang ,"seseorang berkata dengan sangat lantang.