Dengan senyum merekah dan mata yang memancarkan keramahan, Hoseok sabar menunggu Namjoon tiba dan menjabat erat tangan sang asisten jaksa.
"Kau benar, lama tidak bertemu. Aku baik, dan kauーmakin terlihat segar, huh?"
Namjoon tersenyum tipis. Begitu lihai dia menyembunyikan air muka, sampai-sampai Seokjin sulit menebak apakah Namjoon tengah tersenyum sungguhan atau tidak kali ini. Sangat berbeda dengan keterkejutan yang tadi sempat Seokjin temukan pada gurat wajah Namjoon. Dia jadi semakin bertanya-tanya dalam hatiーada apa ini sebenarnya?
"Tentu saja. Aku sudah menemukan vitamin yang cocok, dan aku juga merasa jauh lebih sehat saat ini," Namjoon menjawab dengan wajah jumawa.
Paham apa yang dimaksud Namjoon, Hoseok lantas menoleh pada Seokjin dan menatap pria itu cukup lama.
Seokjin berani bersumpah ia mendapati dirinya seakan dipindai oleh mata elang Hoseok, tapi begitu cepatnya dan saat Seokjin akan membuka mulut untuk bertanya, tangan Hoseok sudah lebih dulu terulur ke arahnya.
"Kalau boleh tahu, siapa nama Anda?"
"A-ah," Seokjin tergeragap, "Kim Seokjin?"
Hoseok tertawa. "Kenapa malah balik bertanya? Jadi Anda Kim Seokjin?"
"Y-ya, dan kau bisa memanggilku Seokjin," berdeham malu, Seokjin berusaha menetralkan kegugupannya yang dengan kurang ajar muncul. "Aku pengacara swasta, sering juga ditugaskan dalam kasus yang sama dengan Namjoon. Bisa dibilang kami rekan sekantor."
"Ah begitu rupanya," Hoseok mengangguk paham.
Melihat lelaki-lelaki muda didekatnya sibuk bercengkerama, Ibu Namjoon sengaja berpamitan untuk berpindah ke sisi lain dan meninggalkan tiga pria rupawan itu agar lebih leluasa dalam berbincang.
"Terakhir aku bertemu Namjoonーhm, sudah lama sekali. Dan ini pertama kalinya kita bertemu bukan, Seokjin-ssi? Tapi aku seperti tidak asing mendengar namamu."
"Oh ya? Padahal aku juga baru pertama kali ini bertemu denganmu, Tuanー"
"Hoseok, Jung Hoseok."
Seokjin tersenyum.
Hoseok menyesap minuman dalam gelas sebelum berujar lagi, "Aku teman dekat Namjoon, dulu, kalau dia masih menganggapku sahabat, dan sekarang aku lebih berkecimpung di perusahaan keluarga. Jadi konsultan hukum. Biasa, kantor sedang melakukan ekspansi dan butuh konsultan untuk berdiskusi mengenai kelengkapan dokumen serta tata cara prosesnya, jadi mereka semacam memanfaatkan ilmuku agar tidak sia-sia sudah menguliahkanku."
Mendengar tutur dan cara berhumor Hoseok yang begitu santai dan mengalir, Seokjin mau tidak mau turut terkekeh kecil. "Bisnis keluarga, he? Dan kudengar dari Bibi Kim juga, kau aktif dalam acara penggalangan dana seperti ini? Apa tidak lelah?"
"Hm, lelah sih tidak. Mungkin sudah terbiasa kali ya. Ibuku dan ibu Namjoon aktif di kegiatan sosial, mereka juga bekerja sama dengan UNICEF untuk penggalangan dana buat anak-anak terlantar dan pendidikan mereka, jadi terkadang kalau ada kesempatan aku ikut membantu daripada hanya bengong di kantor."
"Hoseok tipe yang tidak bisa diam, Sayang. Selalu saja ada yang dikerjakan sampai-sampai kami menyebutnya Hoseok, si tupai lincah," imbuh Namjoon.
Mata Seokjin mengerjap pelan dan Hoseok mendengus geli mendengar julukan yang sudah lama tidak ia dengar. Dari penilaiannya, Seokjin berkesimpulan bahwa Hoseok adalah tipe yang menyenangkan, dia tidak judes dan juga tidak sombong. Seokjin nyaman saja berbicara dengannya. Berbeda jauh dengan rasa cemburu yang sempat ia rasakan ketika mendengar nama Hoseok, malam ini setelah bertemu langsung Seokjin tidak menangkap gestur bahwa mereka dulu sempat terlibat perasaan sukaーmungkin lebih kepada canggung karena lama tidak bertemu.

KAMU SEDANG MEMBACA
LAWVE
FanfictionThe story between law and love. Between life and friendship. Because life is all about making choices. So...what would you choose? [Namjin Fanfiction] ーmain idea berasal dari sebuah novel berjudul The Law of Attraction © N.M Silber I do not own any...