Mereka pulang cukup larut ke apartemen dengan membawa tiga buah keranjang besar berisikan strawberry, apel, dan sedikit persimmon.
Sebelum pulang, Namjoon dan Seokjin bahkan mendapat banyak nasihat dan penghiburan dari Paman Dong Sook dan Bibi Haejin, menjadikan perasaan mereka jauh lebih ringan usai berkunjung ke rumah keluarga Seokjin.
Ketika terbangun di pagi harinya, Namjoon terduduk di ranjang dan menemukan Seokjin sudah lenyap dari sisi. Pria itu rupanya sudah bangun pagi-pagi sekali, lalu bersama sang Ibu menyiapkan satu set sarapan tradisional yang terdiri iga panggang, kongnamul bab, sup mentimun dingin, kimchi lobak dan juga seolleotang kesukaan si bungsu.
"Meriah sekali hari ini? Apa ada perayaan spesial?" tanya Namjoon usai menuruni tangga. Niatnya membantu, namun Seokjin sigap menyuruhnya diam di tempat, bahkan mengusirnya dari dapur dengan alasan : keamanan.
"Perayaan spesial.... tidak ada sih," Ibu Seokjin mengulas senyum tipis saat berpapasan dengan Namjoon dan menaruh mangkuk di atas meja makan. "Justru Bibi yang seharusnya minta maaf karena kemarin kau harus mendengar omongan kurang menyenangkan dari Nenek. Ini hanya menu seadanya, Namjoon-ah, kuharap kau makan yang banyak pagi ini agar lebih segar beraktivitas sampai siang nanti."
"Ini lebih dari cukup, Bi, terima kasih. Dan omong-omong soal Nenek, aku maklum, beliau sudah tua dan pasti punya persepsi sendiri tentang hidup ideal ala impiannya. Kalau Nenekku masih hidup pun pasti akan mirip-mirip seperti itu, kok," Namjoon setengah berkelakar, membuat Ibu Seokjin terkekeh pelan.
Tidak lama kemudian Ayah Seokjin dan Taehyung turun dan ikut bergabung bersama mereka. Sarapan pagi itu ditutup dengan pie buah hangat yang dibuat oleh Seokjin hasil dari perkebunan mereka, dan semua yang ada di sana tampak begitu kekenyangan usai menghabiskan satu loyang pie buah.
Setelah sarapan, Ayah Seokjin mengajak Namjoon jalan-jalan untuk memperlihatkan beberapa tempat di lingkungan sekitar rumah dan mungkin, untuk mengenal sang asisten jaksa lebih dalam lagi.
Seokjin memutuskan menggunakan kesempatan ini untuk mengobrol dengan Taehyung usai membantu sang Ibu membereskan peralatan makan yang kotor, dan kini mereka tengah duduk bersampingan di sofa balkon kamar Seokjin.
"Jeongguk sudah menghubungi Hyung?" tanya Taehyung.
Seokjin menggeleng. Selagi Taehyung sibuk mengambil ponsel dari saku celana, dia sudah tidak sabar untuk bertanya, "Ada apa memangnya? Dia sudah dapat tulisan tangan Bang Chun Ae?"
Ganti Taehyung yang menggeleng. "Semalam Jeongguk menghubungiku, tapi aku terlalu lelah sampai-sampai ketiduran. Dan ketika bangun, aku baru sempat menghubunginya lagi." Taehyung membuka sandi pengaman ponsel dan membaca hasil percakapan mereka tadi pagi. "Jadi begini, Jeongguk bilang, dia belum bertemu dengan Chun Ae-ssi, tapi sudah dapat sedikit informasi tentang model itu dari Ayahnya."
"Terus?"
"Dari informasi yang dia korek, Ayahnya tidak terlalu dekat dengan Chun Ae-ssi, tapi dia tahu wanita itu karena Chun Ae-ssi memang sering datang ke acara pesta-pesta yang diselenggarakan tertutup. Apa ya istilahnyaーsatu geng, mungkin?"
Geng.... Seokjin bergidik, "Ternyata selentingan kemarin bukan hanya kabar burung, ya."
Taehyung mengangguk. "Dan, Hyung, kau mau tahu lagi? Oke, aku jadi merasa seperti ibu-ibu komplek doyan gosip sekarang, tapi aku juga kaget dengar cerita Jeonggukie tadi."
"Tentang?"
"Um...." Taehyung terlihat tidak enak, "tentang kata-kata Ayah Jeongguk yang bilang kalau Chun Ae-ssi itu ada kemungkinan seorang....pelacur?" Taehyung menggaruk kepala, Seokjin melebarkan bola mata mendengarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LAWVE
Fiksi PenggemarThe story between law and love. Between life and friendship. Because life is all about making choices. So...what would you choose? [Namjin Fanfiction] ーmain idea berasal dari sebuah novel berjudul The Law of Attraction © N.M Silber I do not own any...
