6. With You

4.4K 251 15
                                        

“Mendapatkan kasih sayang adalah hak setiap anak, tapi kenapa aku tidak mendapatkan itu?”
Pricilla Evyta Aurora.

***

Vita termenung di kamarnya memikirkan kejadian kemarin saat pulang sekolah. Di balik sikapnya sebagai seorang gadis yang periang dan pembuat masalah di sekolah, Vita mempunyai sisi kelam. Ia merasa tidak diacuhkan oleh keluarganya dan berusaha untuk mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya.  Walaupun sedikit saja dengan kenakalannya di sekolah, dia bukanlah Vita yang kita kenal. Di balik senyumnya terdapat kesedihan yang mendalam, tidak memiliki kekuatan untuk hidup. Andai saja tidak ada Mbok Jum, kakek dan nenek dari pihak ibunya, serta Tante Shila, Paman Dariel, kedua sepupunya, pasti Vita lebih memilih untuk kabur dari rumah.

Vita tidak tahu mengapa keluarga ayahnya antipati kepadanya, ia tidak tahu kesalahan apa yang ia perbuat sampai mereka membencinya, hanya nenek dan kakek dari keluarga ibu yang menyayanginya secara tulus serta sepupunya, terutama Anna.

Orang lain melihat keluarga mereka adalah keluarga yang bahagia, ibu dan ayahnya menutupi kebencian terhadap Vita jika mereka berada di depan umum, seolah semuanya baik-baik saja.

Saat ini dirinya masih belum beranjak. Terserah jika nantinya ia akan telat masuk sekolah, toh ia sudah rapi dan tinggal sarapan.

Kemarin sore juga Anna datang ke rumahnya hanya untuk memberikan tasnya. Anna sempat khawatir karena melihat mata Vita yang bengkak, tapi Vita berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

Ketukan terdengar. Setelahnya Mbok Jum memanggil dari balik pintu kamar. “Non?”

Vita menoleh, ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan membukakan pintu untuk Mbok Jum. “Iya, Bu?” tanya Vita sambil tersenyum lembut.

Mbok jum mengusap kepala putri majikannya sambil tersenyum hangat. Ia sudah menganggap Vita sebagai putrinya sendiri. “Tuan menyuruh Mbok untuk memanggil Vita buat sarapan,” kata Mbok Jum.

Panggilan Vita ke Mbok Jum memang Ibu, Vita sudah menganggap Mbok Jum sebagai orang tua ke dua semenjak kejadian yang masih membekas di hatinya yang rapuh.

“Iya, Bu. Vita nanti ke bawah,” kata Vita lembut.

Mbok Jum mengangguk. “Kepalanya masih sakit?” tanyanya hati-hati.

Vita tersenyum. “Udah baikan kok, Bu.”

“Ya sudah, cepat ke bawah. Nanti Tuan marah sama Vita,” nasehat Mbok Jum, “Mbok ke bawah duluan, ya.” Mbok Jum pamit dan meninggalkan Vita.

Gadis itu menghela napas berat. Ia harus menyiapkan mental untuk bertemu dengan ayahnya. Sudah pasti ibunya mengadu tentang kejadian kemarin. Kemudian ia turun dengan tidak semangat, mata yang masih bengkak, dan muka yang pucat pasi.

“Vita!” suara berat itu berasal dari sang ayah. Vita memejamkan matanya, ia sudah siap dimarahi. Ibunya pasti mengadukan yang tidak-tidak tentangnya.

“Iya Ayah?” sahutnya.

Dareen tampak geram kepada putri bungsunya. “Sudah berani kamu melawan ayah sama Bunda kamu!” bentaknya.

“Aku gak melawan Ayah sama Bunda,” kata Vita setelah duduk di kursinya. Meski hatinya merasa sakit, ia mencoba untuk tetap terlihat kuat. Tidak, ia tidak boleh lemah.

OSIS Vs Adik Kelas (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang