“Kenapa dunia seolah tidak menginginkan kita bersama?”
Pricilla Evyta Aurora.
***
Aldo kini berada di pesawat, ia berangkat ke Jerman setelah beberapa bulan dari kelulusan sekolahnya, Aldo menatap foto Vita di ponselnya, foto itu di ambil saat mereka kencan pertama di hutan mangrove kapuk, “tunggu saya Vita,” ucapnya lirih, hidupnya satu tahun ini terasa berat tanpa kehadiran Vita, ia sangat ingin pergi ke Jerman untuk menyusul gadis itu, namun Ayahnya melarang keras.
Satu tahun lalu.
“Aldo, mau sampai kapan kamu terus mengurung diri di kamar seperti ini?” Dirga masuk ke kamar putra bungsunya itu, kamar Aldo tidak terurus, sangat berantakan, padahal Aldo adalah anak yang disiplin, ia tidak akan pernah membiarkan kamarnya berantakan, cinta memang membuat semuanya berubah.
“Sampai papa izinin Aldo buat pergi Jerman untuk susul Vita.” Selalu kalimat yang sama yang keluar dari mulut Aldo.
Dirga menghela nafas, “papa gak pernah bilang kalau kamu gak boleh menyusul pacar kamu Jerman selamanya ‘kan? Papa hanya bilang untuk saat ini, kamu tidak boleh kesana. Aldo kamu sudah kelas tiga SMA, apalagi kamu adalah Ketua OSIS di sekolah kamu, Papa gak mau sekolah kamu tertinggal. Kalau kamu sudah lulus SMA Papa janji, Papa izinin kamu untuk pergi ke Jerman, menyusul pacar kamu, sekarang tugas kamu adalah belajar, dan selesaikan tugas kamu sebagai ketua OSIS, Papa selalu ajarin kamu ‘kan, untuk tidak lari dari tanggung jawab?”
Aldo mendengarkan kata-kata Dirga, cowok itu kembali ke sekolah setelah beberapa hari membolos, ia hidup bagaikan robot, belajar dan mengurus kegiatan OSIS, Aldo hanya bicara jika itu di perlukan, tujuan utamanya adalah agar ia cepat lulus, dan bisa menyusul gadisnya. Setiap hari ia hanya berdoa soal kesehatan Vita, semoga gadis itu cepat sembuh dari sakitnya.
“Aldo!” panggil Alisa, Aldo menghentikan langkahnya, lalu Alisa berjalan menyusul Aldo dan berdiri di depan pemuda itu.
Aldo mengangkat alisnya, menunggu Alisa berbicara.
Alisa menundukkan air matanya, setelah kejadian dimana Alisa tertangkap basah berbohong kepada pemuda itu, Alisa selalu menghindari Aldo.
“Maafin aku soal aku berbohong sama kamu kalau sakit aku kambuh, aku menyesal Al, aku harusnya gak melakukan itu,” cicit Alisa, gadis itu mengeluarkan air matanya.
“Saya sudah memaafkan kamu Lis, tapi saya harap kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama,” Aldo mengacak rambut Alisa, “Alisa yang saya kenal, tidak cengeng, hapus air mata kamu,” titah Aldo.
Alisa tertawa, ia kemudian menghapus air matanya, “aku mau pindah ke Bandung Al,” ucapnya kemudian.
Aldo mengangguk, “semoga kamu betah disana,” katanya, lalu Aldo berlalu dari hadapan Alisa.
Alisa menatap punggung Aldo dengan senyum tipisnya, “sepertinya Vita lebih berarti untuk kamu ya Al, sampai bisa membuat kamu sehancur ini dengan kepergiannya.”
Aldo tersenyum tipis, “Vita memang sangat berarti untuk saya Lis,” jawabnya, Aldo menatap ke luar jendela pesawat, ia tidak percaya akhirnya ia bisa berangkat menyusul Vita ke negara romantis itu.
***
“Berita pagi ini, pesawat dengan nomor penerbangan *** keberangkatan dari DKI Jakarta-Berlin jatuh, pesawat hilang kontak di laut samudra Hindia.”
Vita yang tengah menonton berita di televisi, kemudian mematikan televisinya, ia sungguh ngeri mendengar berita tentang pesawat jatuh, ia takut kalau kejadian itu akan terjadi kepada orang terdekatnya atau bisa saja dirinya sendiri.
Septian yang saat ini tengah membuat makanan instan di dapur tampak di hubungi oleh seseorang, pemuda itu kemudian mengangkat telpon dari Bundanya.
“Halo Bun?”
“Kamu sudah lihat berita di Televisi?” suara Alena tampak bergetar di sebrang sana.
“Berita? Bentar Bun, aku lihat dulu,” Septian berjalan menuju ruang televisi, ia kemudian mengambil remot dari Vita dan menyalakan saluran televisi itu.
“Pesawat keberangkatan Jakarta-Berlin jatuh?” beo Septian setelah melihat berita. Alena mengheluarkan isakannya di sebrang sana. “Bunda kenapa nangis?” tanya Septian ikutan cemas, Vita yang mendengar percakapan Septian dan Alena pun penasaran.
“Aldo--Aldo Tian,” jantung Septian dan Vita berdetak cepat begitu mendengar nama Aldo di sebutkan, mereka saling bertatapan. “Aldo berangkat ke Jerman tadi pagi, hiks.” perbedaan waktu Berlin-Jalarta berbeda 6 jam, Jakarta lebih cepat 6 jam dari Berlin, jika di Berlin sekarang menunjukkan pukul 08:44, berarti di Jakarta pukul 14:44.
Vita terkejut, ia terdiam sejenak untuk mencermati kata-kata yang keluar dari mulut Alena, lalu gadis itu mengeluarkan air matanya.
Vita segera memakai jaket tebal, untung ia sudah memakai celana ketat panjang, lalu gadis itu memakai kaus kaki, dan sepatu bot anti slip, topi wol dan syal, karena di Jerman saat ini sedang musim dingin, ia segera keluar dari Apartemennya, dan menaiki lift untuk sampai di lantai bawah, Vita menaiki taksi dan meminta supir taksi itu untuk mengantarnya ke Bandar Udara Internasional Tempelhof, menggunakan bahasa Jerman, tinggal disini selama satu tahun membuat Vita harus paham sedikit bahasa Jerman meski ia lebih sering menggunakan bahasa Inggris saat berbicara dengan Dokter atau perawat.
Sepanjang perjalanan, Vita tidak henti mengeluarkan air matanya, ia berdoa di dalam hati untuk keselamatan Aldo, kata Alena tadi, Aldo ke Jerman untuk menyusulnya, harapan Vita terkabul, Aldo menyusulnya. Tetapi kenapa harus ada kejadian seperti ini? Kenapa Dunia seolah tidak menginginkan mereka bersama? Lagu The Script-The Man Who Can’t Be Moved yang di putar sang sopir taksi seolah mewakilkan perasaan Vita saat ini.
“Aku akan menunggu kamu entah itu sehari, sebulan atau setahun,” Vita menatap foto Aldo yang ada di ponselnya.
Begitu sampai di Bandar Udara Internasional Tempelhof, Vita melihat berita terbaru di ponselnya, korban selamat di kecalakaan pesawat Jakarta-Berlin itu tidak ada, membaca artikel itu Vita menutup mulutnya tidak percaya, gadis itu berjongkok di tengah-tengah keramaian, menyembunyikan wajahnya yang berlinang air mata dengan kedua telapak tangannya, “gak, gak mungkin,” Vita menggelengkan kepalanya, “gue disini Aldo, lo mau nyusul gue ‘kan? Gue disini, kenapa lo gak bisa nyusul gue kesini?” tangis Vita pecah, beberapa orang yang ada disana menatap aneh kepadanya.
Seorang pria menepuk pundak gadis itu, Vita mendongkak melihat pria yang di rindukannya tersenyum padanya, “A-Aldo?” gadis itu tampak tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, lalu Vita berdiri dengan tubuh bergetar, tangan Vita menyentuh pipi Aldo, “lo-lo Aldo ‘kan? Gue gak halusinasi kan?”
Aldo mengangguk, pesawat pria itu transit di Amsterdam, jadilah sedikit terlambat, pesawat yang di tumpangi Aldo berbeda dengan pesawat yang jatuh, “iya, ini saya Vita.” Aldo tersenyum.
Vita memukul dada bidang Aldo. “Lo buat gue khawatir, dasar sialan!” umpatnya, Vita menjatuhkan kepalanya di dada bidang Aldo selama beberapa detik, lalu ia menjauhkan wajahnya dari dada bidang Aldo, tangisnya belum berhenti. Vita berjnjit untuk menyamai tingginya dengan Aldo, gadis itu menangkup kedua pipi Aldo, dan menempelkan bibirnya dengan bibir Aldo.
Aldo tersenyum, lalu ia menahan tengkuk Vita, untuk memperdalam ciuman mereka. Septian yang melihat itu tersenyum tipis, ia akan ikut bahagia untuk gadis yang di cintainya dan Adiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
OSIS Vs Adik Kelas (END)
Fiksi Remaja"Vita," panggil Aldo pelan. Mendengar panggilan Aldo, Vita yang duduk di samping pemuda itu segera menoleh. "Ya?" "Jangan nangis, saya gak suka liat kamu nangis," ujar Aldo sambil menangkup kedua pipi Vita dan menghapus sisa air mata di sudut mata g...
