38. My Life Savior

2.4K 130 14
                                        

“Terimakasih Davin, terimakasih telah menyelamatkan hidupku, terimakasih karena mencintaiku.”
Pricilla Evyta Aurora.

***

Satu tahun kemudian.

Kini Septian dan seorang gadis cantik di sampingnya tengah menatap makam seseorang dengan berlinang air mata.

“Davin, Makasih udah mencintai gue dengan tulus, makasih udah ngorbanin hidup lo buat gue, makasih Davin. Gue gak tahu harus bilang makasih seberapa banyak untuk lo.” Gadis yang bernama Pricilla Evyta Aurora itu mengecup batu nisan yang bernama Davino Orlando Bin Antonio Orlando dengan berlinang air mata.

“Jangan terus nyalahin diri lo, ini semua takdir,” ucap Septian.

Davin meninggal karena pemuda itu tidak melakukan oprasi transplantasi ginjal, memang Davin juga di rawat di rumah sakit yang sama dengan Vita. Di saat itu kondisi Davin dan Vita sama buruknya, dan mereka berdua harus segera melakukan oprasi, namun hanya ada satu ginjal yang  cocok dengan mereka berdua, jadi salah satu di antara mereka hanya satu yang bisa di selamatkan, dan Davin pemuda itu bersikeras bahwa ia tidak mau melakukan oprasi lagi, dan lebih baik ginjal itu di berikan kepada Vita, alasannya adalah ia sudah lelah karena sudah beberapa kali melakukan oprasi transplantasi ginjal, dan hasilnya masih sama, alasan utamanya adalah menyelamatkan Vita. Anton awalnya melarang keras dengan keputusan yang di buat Davin, namun Davin memohon dengan sangat kepada Ayahnya itu, akhirnya Anton menyetujui keputusan itu, saat beberapa minggu setelah Vita melakukan oprasi, Davin menghembuskan nafas terakhirnya, saat itu Davin tengah melakukan oprasi, namun oprasinya kali ini gagal.

Setelah mereka membaca Al-fatihah, Septian dan Vita berjalan meninggalkan makam Davin. Kini keduanya berada di dalam mobil. “Vit, mau lanjut home schooling atau mau sekolah biasa lagi?” tanya Septian hati-hati.

“Kayaknya gue home schooling aja deh Yan, gue juga masih harus belajar buat ngurus perusahaan Almarhum Papa gue,” jawab Vita.

“Iya sih, baiknya gitu aja,” Septian mengangguk mengerti.

“Kemana Bang Deon? Akhir-akhir ini dia jarang jenguk gue deh,” Vita mulai memikirkan Deon yang biasanya selalu rutin menjenguknya kini jadin jarang menjenguknya, padahal mereka berada di rumah sakit yang sama.

“Lo gak tau? Bang Deon ‘kan kecantol Dokter bule di situ,” Septian tertawa, pria itu mengingat bagaimana gencarnya Deon mendekati Dokter Amber, Dokter spesialis ginjal yang menangani Vita.

“Hah? Siapa?” Vita terkejut.

“Dokter Amber, siapa lagi?”

“Serius?” Vita ikut tertawa, ia membayangkan bagaimana berusahanya Deon menaklukkan Dokter Amber yang terkenal ketus dan galak itu. Vita saja sebagai pasiennya sering di marahi karena terkadang dirinya membangkang sedikit, itupun karena ia jenuh dan ingin ke luar untuk mencari udara segar.

Septian terkekeh, lalu pemuda itu berkata. “Gue mau bawa lo ke suatu tempat nanti malam,” ucapnya.

Vita menatap Septian lama. “Oke,” katanya.

***

Kini Vita dan Septian berada rooftop Apartemen yang mereka tempati selama berada di Jerman, rooftop Apartemen itu diubah sedemikian rupa oleh Septian. Lelaki itu tersenyum lembut, ia mengeluarkan sebuah kalung berbandul kupu-kupu. ”Would you be my girlfriend?” tanyanya.

Vita memejamkan matanya. “Maaf,” ucapnya yang membuat senyum Septian perlahan luntur. “Gue gak bisa,” lanjutnya, lelaki itu tersenyum tipis.

“Lo masih cinta sama Aldo?” tanyanya lembut, berusaha mengerti Vita.

Vita menolehkan kepalanya ke samping, tidak bisa menjawab pertanyaan lelaki itu. Septian adalah orang yang selama satu tahun ini mendampinginya selama ia berada di Jerman, melakukan perawatan setelah operasi. Namun, Vita tidak bisa mencintai lelaki itu, cintanya untuk Aldo terlalu besar, walaupun Aldo mengecewakannya, namun Vita tetap mencintai pemuda itu.

***

Vita mengingat kejadian beberapa bulan silam sambil menangis, hari dimana ia baru membuka mata dan kabar pertama yang ia dengar adalah kepergian Davin untuk selamanya, ia menatap fotonya bersama Davin yang di ambil saat Davin berkunjung untuk menjenguknya, “makasih Davin, gue gak akan buat pengorbanan lo sia-sia, gue akan terus hidup,” Vita mengelus foto Davin, kini tatapannya mengarah pada jendela Apartemennya, ia melihat pesawat yang terbang dari sini, sedari ia tiba di Jerman satu tahun lalu, Vita sangat berharao bahwa Aldo akan menyusulnya kesini, memperbaiki hubungan mereka, namun harapan hanyalah harapan, Vita berfikir mungkin Aldo sudah bahagia bersama Alisa, hanya ia sendiri yang masih mencintai pemuda itu.

OSIS Vs Adik Kelas (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang