“Semua terasa jelas begitu aku mengingatnya.”
Pricilla Evyta Aurora.
***
Vita termenung dengan pikirannya sendiri, sedangkan Septian terus menatap wajah Vita. Merasa diperhatikan, Vita menoleh ke tempat Septian berada.
“Ngapain sih, ngeliatin gue gitu?” tegur Vita sedikit kesal karena risih diperhatikan seperti itu oleh Septian. Ia tidak suka! Septian pun mengalihkan tatapannya tanpa banyak bicara.
“Es Batu, lo bisu?” Vita bertanya dengan nada mengejek. ‘Es batu’ menurutnya itu cocok dengan Septian yang cuek dan pendiam.
Septian menoleh. “Gue gak bisu.”
Vita berdecak kesal, kenapa manusia di sampingnya ini sangat pelit dalam mengeluarkan suara? Perasaan kemarin enggak, deh. “Terus kenapa lo diem aja?” Ia menaikan sebelah alisnya, lalu mendudukkan diri dan menatap Septian lekat. Pertanyaan Vita tidak dijawab oleh Septian. Lelaki itu mengambil ponsel dan menyandarkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan.
Merasa pertanyaannya tidak digubris, Vita menatap jengkel pada Septian. Gadis itu melemparkan bantal tepat ke wajah lelaki itu. Septian mengambil bantal yang menutupi mukanya, lalu menaruh bantal itu di sampingnya.
Vita berdecak, “Percuma ngomong sama es batu!” Ia lantas menidurkan dirinya tanpa bantal lalu memunggungi Septian.
Setelah beberapa menit, Septian mengambil bantal yang ia taruh di sisinya dan berjalan menuju gadis itu. Merasa napas Vita sudah teratur, Septian mengangkat kepala gadis itu dengan perlahan dan meletakan bantal itu di bawahnya. Ia juga menarik selimut dan mengusap surai hitam gadis itu.
Pintu terbuka, menampilkan wajah Alena di sana. Wanita itu tersenyum sambil berjalan menghampiri Septian. Wanita paruh baya itu mengusap punggung anaknya. “Kamu ada perasaan sama Vita?” ujarnya seraya melirik Vita dengan mata.
Septian menggeleng. Alena menatap lembut putra sulungnya. “Bunda itu orang yang mengandung kamu selama sembilan bulan, jadi Bunda gak bisa di bohongin sama kamu, dari cara kamu natap Vita aja udah tau kalau kamu suka sama Vita,” Alena menggoda, “Bunda cuma mau ingetin aja ke kamu, kalau suka pepet aja terus, selama janur kuning melengkung.”
“Walaupun ternyata pacar Vita itu Aldo?”
Pertanyaan Septian sontak membuat Alena terkejut, “jadi Vita pacarnya Aldo?” Septian mengangguk sebagai jawaban. “Lebih baik kamu mengalah, Bunda gak mau kalian bertengkar lagi, waktu saat Alisa saja Aldo sampai seperti itu.”
Septian menatap Alena datar. “Wajar Bunda bilang gitu, Bunda gak mau ‘kan anak kesayangan Bunda itu sakit hati?” Perkataan Septian terdengar biasa. Namun, mampu menohok hati Alena.
“Bunda gak pernah bedain kalian berdua.” Alena melepaskan usapannya di punggung tegap Septian.
“Bunda cuma alesan, ‘kan?” Septian mengalihkan tatapannya dari Alena.
“Kalau Bunda lebih sayang Aldo, gak mungkin Bunda bawa kamu.” Alena menangkup wajah Septian agar menatapnya.
Pintu terbuka dan menampilkan sesosok Deon disana, Deon sedikit terlambat karena ada urusan sebentar, dan juga membayar administrasi Vita. “Permisi, ini benar ruangan Vita kan?” tanyanya. Alena mengalihkan tatapannya dan mengangguk, Deon segera menghampiri Alena, “jadi Vita sakit apa Dokter?” tanyanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
OSIS Vs Adik Kelas (END)
Novela Juvenil"Vita," panggil Aldo pelan. Mendengar panggilan Aldo, Vita yang duduk di samping pemuda itu segera menoleh. "Ya?" "Jangan nangis, saya gak suka liat kamu nangis," ujar Aldo sambil menangkup kedua pipi Vita dan menghapus sisa air mata di sudut mata g...
