23. Terimakasih Septian

3.3K 173 27
                                        

“Aku tidak tahu harus berucap terimakasih berapa kali untuk kamu Septian, aku bersyukur karena di perkenalkan dengan pemuda sebaik kamu.”
Pricilla Evyta Aurora.

***

Setelah pergi dari taman, Vita tidak langsung ke kelas, ia memilih untuk membolos toh Aldo juga katanya ada rapat OSIS pulang sekolah ini, apalagi katanya pelajaran kosong sampai pulang sekolah, Vita berjalan mengendap menuju gerbang belakang, namun ia melihat ada satpam yang berjaga disana, Vita menghembuskan nafasnya hingga rambut depannya berterbangan, lalu ia melihat ada pohon mangga tepat di samping gerbang, Vita tersenyum, ia akhirnya memanjat pohon itu untuk bisa keluar dari sekolah. Jangan tanya kenapa Vita bisa memanjat, dulu pun di sekolah menengah pertama ia sering melakukan cara ini untuk membolos.

Septian kini berada di samping sekolah Candrawama, kelas kosong hari ini, dan entah kenapa ia bisa ada disini, Septian memukul setir mobilnya, “berhenti mikirin dia Septian!” kesalnya, kenapa Vita tidak bisa lepas dari pikirannya? Septian menolehkan kepalanya, ia melihat seorang gadis yang turun melompat di sampingnya, Septian mengerutkan keningnya, itu kan Vita? Gadis itu tampak tersenyum senang karena berhasil membolos sepertinya. Kini Septian terkekeh, lalu mengacak rambutnya, kenapa takdir seolah menertawakan dirinya?

Vita tersenyum puas, ia menepuk-nepuk kedua telapak tangannya, lalu menyelipkan rambut depannya ke belakang telinganya, “udah lama gak bolos,” kata gadis itu. Lalu Vita mendengar suara klakson yang di bunyikan oleh mobil yang berada di sampingnya, Vita mengerutkan keningnya, lalu kaca mobil itu terbuka dan terlihatlah wajah tampan Septian dari dalam sana.

“Masuk!” suruh Septian. Sudah terlanjur bertemu disini ‘kan? Jadi sekalian saja, pikir Septian, lagi pula ia tidak bisa menghubungi Vita kapanpun ia mau karena Septian tidak mempunyai nomor telpon gadis itu, lalu Vita menurut saja dengan segera masuk ke dalam mobil Septian, lalu Septian segera menjalankan mobilnya.

“Kenapa lo bisa ada di sini?” tanya Vita heran.

“Lewat, terus liat anak monyet manjat pager,” Septian berdalih.

Vita tercengang dibuatnya. Matanya melotot dan mulutnya terbuka. Terkejut saat Septian bisa berbicara lebih dari dua kata dan kesal karena saat berbicara panjang, lelaki di sebelahnya ini malah membuatnya ingin mencakar wajah tampan Septian.

“Dasar manusia kutub utara!” teriaknya jengkel, tapi justru Septian terkekeh kecil. Lagi-lagi Vita dibuat terheran sendiri, dengan segera Vita mengecek suhu tubuh Septian.

“Normal, kok,” gumamnya. Septian menepis lengan Vita yang bertengger di dahinya. “Lo kerasukan, ya?” tanya Vita dengan mata memicing tajam.

Septian hanya diam, ia malas menyahuti gadis bodoh di sampingnya. “Karena kebetulan lo ada sama gue, kita langsung ke rumah sakit aja. Bunda nungguin pasiennya yang bandel.”

Vita berdecak kemudian geleng-geleng kepala. “Kayaknya bener deh, kalau lo itu lagi sakit.” Tidak lama kemudian Vita jadi bergidik ngeri sendiri.

“Maksud lo?”

“Lo ngomong terus hari ini, gue jadi ngeri.”

Untungnya ini tepat saat lampu merah, dengan kesal Septian menyentil dahi Vita. “Enak aja!” tukasnya.

“Aduh jidat gue!” Vita mengelus dahinya yang disentil oleh Septian.

“Lebay!” pungkas Septian singkat, padat, tetapi begitu menyebalkan di telinga gadis itu. Di sampingnya, Vita mencibir kesal dan tanpa sadar Septian tersenyum kecil.

***

“Katanya ke rumah sakit? Kok malah ke sini, sih?” tanya Vita heran. Septian membawanya ke mall dekat sekolahnya.

“Kenapa? Gak mau?”

“Iya! Gue pengen ....” Septian lebih dulu menggandeng Vita ke sebuah cafe di mal tersebut. Mereka duduk di hadapan pria paruh baya, berjas kantoran dengan perut buncit.

“Halo, Pak.” Septian berjabat tangan dengan pria berjas kantoran dengan perut buncit itu.

“Halo, apakah ini Evyta yang kamu bicarakan itu?” Pria berperut buncit itu memandang Vita. Sebelumnya memang ia dan Septian sudah membicarakan tentang Vita. Tadi Septian menghubungi Anton apakah hari ini bisa bertemu sebelum ia menyuruh Vita masuk, dan untungnya Anton sedang Free dan mereka bisa bertemu.

“Iya Pak,” Septian memang merekomendasikan Vita pada Anton terlebih dahulu kala itu.

Vita membulatkan matanya, ia masih belum mengerti. “Lo mau ngejual gue?” bisik Vita di telinga Septian.

Mengabaikan Vita, Septian melanjutkan pembicaraannya. “Bagaimana, Pak? Vita juga seorang wanita yang cerdas.” Vita otomatis mencubit pinggang Septian jengkel, enak saja lelaki itu mau menjualnya.

“Oke, saudari Evyta boleh melamar kerja di perusahaan saya dan bisa saya pastikan jika saudari Evyta akan diterima menjadi asisten sekretaris saya,” putus pria itu.

Vita membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang ia dengar, sedangkan Septian tersenyum simpul.
Vita menatap Septian senang, jadi kata-katanya di Bus itu di dengar oleh Septian? Ia memang butuh pekerjaan untuk membiayai sakitnya, karena tidak ingin merepotkan keluarganya, namun sekarang Vita tidak tertarik untuk mengobati sakitnya, toh untuk apa ia hidup? Keluarganya bahkan membuangnya, sekarang Vita butuh pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri.

Vita tidak bisa berkata-kata, ia terlalu terkejut dan terlalu senang di waktu yang bersamaan. Sedangkan di sampingnya Septian memasang senyum simpul.
Saking senangnya Vita refleks memeluk erat Septian dari samping. “OMG! Makasih banyak, Abang Ipar!” pekiknya heboh.

Pria paruh baya yang berperut buncit, Anton. Tersenyum melihat tingkah keduanya. Sedangkan Septian yang terkejut menerima pelukan tiba-tiba hanya bisa terdiam, dadanya berdegup kencang.

Seolah tersadar, Vita langsung melepaskan pelukannya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia memasang senyum kudanya saat menatap Septian. “Sorry,” cicitnya tidak enak.

Septian kembali memasang wajah datarnya, ia berdeham pelan dan menganggukkan kepala. Tatapannya beralih kepada Anton yang memperhatikan mereka.

“Sepertinya kalian terjebak di dalam cinta segitiga, ya?” Anton mengerlingkan mata, menggoda mereka.

“Maksud Bapak?” tanya Septian tidak mengerti.

“Jadi kalian itu saling cinta, tapi adik kamu.” Tunjuk Anton kepada Septian. “Suka juga sama Evyta, sebagai kakak yang baik kamu yang mengalah dan membiarkan adik kamu pacaran sama Evyta, tapi kalian ....” Anton menatap Septian dan Vita. “Saling mencintai.”

Mendengar itu Vita membulatkan mata, lalu menggelengkan kepalanya. Ia tidak setuju dengan apa yang diucapkan Anton. “Enggak, Pak!” kilahnya.

Septian mengangguk mengiakan dan Anton kembali memasang senyum simpulnya. “Iya, saya mengerti, pasti kalian malu mengakuinya, ‘kan?”

Vita mengembuskan napas sebal. Percuma berbicara kepada pria berperut buncit di depannya.

OSIS Vs Adik Kelas (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang