“Tidak semua yang kelihatan baik-baik saja itu baik, karena mungkin ia menyimpan banyak luka, namun tidak ingin terlihat rapuh.”
Pricilla Evyta Aurora.
***
Deon baru saja pulang ke rumahnya ketika ia melihat Vita berlari ke dalam taksi dengan wajah penuh air mata. Ia baru saja kembali dari kuliahnya di Bandung. Anna yang melihat mobil Deon yang hendak parkir langsung menghampiri lelaki itu.
“Bang, susul Vita cepet!” kata Anna cemas, tanpa pikir panjang Deon langsung memundurkan mobilnya dan melaju kencang mengikuti taksi yang ditumpangi Vita.
Aldo saat ini merasa bersalah. Ia kemudian menghampiri kakaknya Vita. “Kamu salah kalau nuduh saya sama Vita mau ngapa-ngapain, karena pada dasarnya saya bukan cowok bejat kayak kamu yang langsung nuduh adiknya sendiri, tanpa tau kebenarannya.” Ia menepuk pundak Derta.
Pandangan Derta yang tadi menatap jalan langsung beralih ke pemuda itu. “Lo ‘kan cowok yang dulu nganter dia ke rumah? Pasti lo sama dia ada apa-apa.” Ia menarik kerah baju Aldo.
Aldo tersenyum lalu menepis tangan Derta yang menarik kerah bajunya. “Cara kamu menyikapi masalah gak ada bijak-bijaknya. Kakak macam apa yang bisa nuduh adiknya sampai sejauh itu? Sebandel-bandelnya Vita, dia itu tetep gadis polos yang baik. Kayaknya pengetahuan kamu sebagai abangnya kalah sama saya yang bukan siapa-siapanya.”
Derta menatap Aldo sinis, lalu ia segera menyusul Deon yang tengah mengejar Vita menggunakan mobilnya.
***
Deon melihat taksi itu berhenti di sebuah danau. Ia pun menepikan mobilnya di pinggir jalan, lalu menghampiri Vita yang tengah duduk di bangku yang ada di pinggir danau. Namun, tidak lama Vita bangkit dari duduknya, diam sejenak, lalu tangisnya pecah. Lantas, ketika Deon melihat Vita ingin menjatuhkan dirinya ke danau, segera ia berlari dan berhasil menangkap tubuh Vita sebelum semuanya terlambat.
“Lepas!” pinta Vita yang memberontak di dalam dekapannya. Namun, Deon tidak menyerah. Ia malah mendekap tubuh gadis itu semakin erat, dan menyembunyikan wajahnya di pundak Vita.
“Kenapa hidup gue kayak gini? Apa salah gue? Apa?! Jelasin ke gue apa salah gue? Semuanya kacau, bahkan gue sulit mendapatkan cinta dari keluarga gue sendiri,” gumam Vita di akhir kalimatnya seraya menghapus air mata.
Pria itu menggendong Vita ala bridal style menuju mobilnya. “Kenapa pas gue pulang, gue malah dapetin keadaan lo yang semakin memburuk sih, Dek? Gue sayang sama lo,” gumam lelaki itu.
Vita begitu terkejut saat melihat wajah laki-laki yang tengah menggendongnya. “Bang Deon?”ujar Vita begitu ia dapat melihat wajah seseorang yang mencegahnya mengakhiri nyawa.
“Iya, ini abang,” ucap Deon lembut.
“Kenapa Bang Deon bisa ada di sini?” tanya Vita.
“Kan abang udah lulus,” jawab lelaki itu. Begitu sampai di mobilnya, Deon mendudukkan Vita di kursi samping pengemudi. Tanpa mereka berdua sadari, ada Derta yang sedari tadi memperhatikan.
Deon melajukan mobilnya, karena lelah, akhirnya Vita tertidur di dalam mobil. Begitu sampai di rumahnya, lelaki itu menggendong Vita ke kamar Anna.
***
Vita terbangun dari tidurnya. Ia melihat Anna yang sudah bersiap akan berangkat sekolah dan sedang duduk merias diri di hadapan meja rias. “Anna? Lo mau sekolah?” tanyanya, kemudian beringsut duduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
OSIS Vs Adik Kelas (END)
Teen Fiction"Vita," panggil Aldo pelan. Mendengar panggilan Aldo, Vita yang duduk di samping pemuda itu segera menoleh. "Ya?" "Jangan nangis, saya gak suka liat kamu nangis," ujar Aldo sambil menangkup kedua pipi Vita dan menghapus sisa air mata di sudut mata g...
