"Perlahan semuanya semakin jelas."
Pricilla Evyta Aurora.
***
Vita berjalan beriringan bersama Aldo menuju kelas, saat sampai di depan kelas Vita, Aldo menatap gadis itu. “Pulang sekolah nanti saya gak bisa menemani kamu, ada rapat OSIS.”
Vita tersenyum tipis. “Iya gak apa-apa, aku sendiri aja.”
Aldo mengacak rambut Vita. “Yaudah hati-hati, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya. Kalau mau ambil koper di mobil kamu bisa langsung ke ruang OSIS buat ambil kunci mobil.” Setelahnya Aldo pamit dan berjalan menuju kelasnya sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
Vita menatap punggung tegap Aldo yang perlahan semakin kecil karena jauhnya jarak pandangnya, gadis itu berfikir, “aku gak tau bagaimana isi hati kamu Al, aku bingung kamu benar-benar suka aku atau enggak. Karena sepertinya kamu belum bisa melupakan seseorang yang fotonya masih kamu simpan, mungkin di hati kamu juga dia memiliki tempat spesial.” Vita menolehkan kepalanya ke belakang saat Anna dan Kareen yang baru saja datang menghampirinya.
“Lo kok disini? Bukannya langsung masuk kelas aja?” tanya Kareen.
“Nunggu lo berdua dateng,” jawab Vita asal.
“Yaudah yuk masuk,” Anna memboyong Vita dan Kareen agar masuk ke dalam kelas.
Tidak lama berselang bel berbunyi dan pelajaran mulai berlangsung begitu guru mata pelajaran datang, mereka semua belajar dengan fokus, kecuali Vita yang hanya mencoret-coret buku tulisnya.
Anna menghela nafas, gadis itu tahu pasti Vita ada masalah lagi, Anna menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan Vita, ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sampai bel istirahat berbunyi Vita terus seperti itu, Kareen mengajak mereka ke kantin, namun Anna menolak ajakan Kareen sambil melirik Vita, Kareen yang paham akhirnya pamit ke kantin karena perutnya sudah demo minta diisi. Kini di kelas hanya ada mereka berdua, Anna menyampingkan duduknya, gadis itu menarik pipi Vita agar menatapnya, “lo kenapa lagi?”
Vita menatap Anna dengan mata berkaca-kaca. “Gue di usir Ann,” ucapnya lirih, air matanya kembali mengalir, Anna yang mendengar itu terkejut, ia sontak saja membawa Vita ke dalam pelukannya. “Gue gak tau lagi harus gimana, gue udah gak punya siapa-siapa lagi, gue juga gak mau kalau harus tinggal di rumah Kakek, hiks.”
Anna mengusap kepala Vita. “lo masih punya gue Vit, ada bang Deon juga yang siap bantu lo.”
“Gue gak mau kalau terus repotin keluarga lo Ann.”
Anna menggelengkam kepalanya, ia mengurai pelukannya dan menatap Vita lekat. “Lo sama sekali gak ngerepotin kita Vit.” karena lo juga adek gue Anna melanjutkan kata-katanya dalam hati, semua tahu bahwa Vita adalah anak dari Dariel dan Valen, hanya Vita yang tidak tahu. Awalnya Anna dan Deon tidak menerima kenyataan ini, namun akhirnya mereka menerima setelah Dariel menjelaskan semuanya, toh, yang sudah terjadi tidak dapat di ubah lagi. “Lo itu sepupu gue, gue udah anggap lo sebagai adek gue sendiri.”
“Ann, gue udah inget semuanya,” ucap Vita yang membuat Anna terkejut. “Ini semua salah paham, gue di jebak Ann,” Vita menjelaskan dengan air mata.
“Mungkin lo gak akan percaya semudah itu sama gue, tapi gue janji gue akan buktiin kalau gue di jebak. Dan, makasih karena lo, Bang Deon, Tante Sila dan Om Dariel gak benci gue karena kejadian itu,” Vita menundukkan kepalanya.
“Gue dan keluarga gue gak marah sama lo karena keluarga gue percaya sama lo Vit, kita akan tunggu lo buktiin bahwa semuanya itu cuma jebakan. Dan jangan terus menghindar dari Kakek dan Nenek, mereka itu sayang sama lo.”
“Gue masih belum maafin Kakek dan Nenek, karena mereka buang Kak Bella sampai Kak Bella benci sama gue Ann,” Vita menunduk.
“Lo harus maafin mereka, mereka bawa kak Bella ke sana karena dia itu gila Vit, dia pernah hampir bunuh lo!” Anna menjelaskan, ia jadi ingat kejadian mengerikan dulu.
“Kenapa warisan terbesar di berikan pada Vita? Dia itu cuma anak haram Kek!” Bella yang kala itu berusia 18 tahun protes tidak terima.
“Kakek memberikan itu ke Vita, karena menurut Kakek dia itu pantas mendapatkannya Bel,” Wijaya menjawab dengan santai.
“Apa yang membuat dia pantas? Dia bahkan masih kecil, kenapa pewaris utama itu Vita bukan aku?”
“Bella, kakek mohon jangan terus membicarakan ini,” Wijaya mengelus pangkal hidungnya.
“Kakek gak adil! Kakek selalu lebih menyayangi Vita, ini semua gak adil tau gak!” Bella berlalu dari ruang tamu.
Anna yang melihat kejadian itu lalu berlari menyusul Bella melewati Kakeknya yang kini tengah memijat pangkal hidungnya. Bella berjalan menuju kamar Vita, gadis itu tengah terbaring sakit karena demam, Bella menatap Vita benci, “lo itu cuma anak haram! Kenapa juga harus lo yang jadi pewaris utama, harusnya yang jadi putri di keluarga Wijaya itu gue! Bukan lo, ini juga salah lo karena hadis di tengah-tengah keluarga kami!” Bella mengambil bantal dan menekannya di kepala Vita, “ini salah lo!”
Anna yang melihat itu sontak berlalu untuk memanggil kakeknya,“kakek! Kakek!” panggilnya, Wijaya yang mendengar panggilan Anna langsung berlari menghampiri cucunya.
“Ada apa Anna?"
“Vita Kek, Kak Bella tutupin muka Vita pake bantal.”
Mendengar penjelasan Anna, Wijaya sontak berlari, untungnya ia masih sempat untuk menyelamatkan Vita, dari peristiwa itu Wijaya mulai menjauhkan Vita dari Bella, ia mengirim Bella kuliah di universitas yang ada di London, tanpa ada yang bisa mencegah keputusan Wijaya, sekalipun Dareen dan Valen menentang keputusan Wijaya.
“A-apa?” tanya Vita, gadis itu tampak tidak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Anna.
“Lo mungkin gak inget, karena saat kejadian itu lo lagi tidur terus pingsan setelah Kak Bella lakuin hal gila itu ke lo, dan gak ada orang rumah yang di perbolehkan ngomong soal ini ke lo. Cuma gue yang nekat buat ngomong ini ke lo, karena gue gak mau lo terus salahin Kakek soal Kak Bella yang terus benci sama lo, ini bukan karena dia di kirim ke London sama Kakek, tapi soal pewaris utama perusahaan Aditama Grup.” Anna menjelaskan dengan detail.
Vita menutup mulutnya tidak percaya mendengar satu fakta baru, sepertinya hanya dirinya yang tidak tahu apa-apa di keluarga ini, semuanya terus di rahasiakan darinya.
Vita berlari meninggalkan Anna, Kareen yang melihat Vita berlari seperti itu sontak memanggil gadis itu, namun Vita tidak menjawabnya, Kareen melangkahkan kakinya ke kelas, “Vita kenapa?”
“Soal keluarga gue lagi,” jawab Anna.
Kareen mendudukan dirinya di samping Anna, “keluarga lo sebenernya kenapa benci banget sama Vita sih? Gue kalau jadi dia pasti udah bunuh diri.”
“Ini semua bermula dari kesalah pahaman, tapi kita masih belum tahu apa yang terjadi sebenarnya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
OSIS Vs Adik Kelas (END)
Roman pour Adolescents"Vita," panggil Aldo pelan. Mendengar panggilan Aldo, Vita yang duduk di samping pemuda itu segera menoleh. "Ya?" "Jangan nangis, saya gak suka liat kamu nangis," ujar Aldo sambil menangkup kedua pipi Vita dan menghapus sisa air mata di sudut mata g...
