“Aku sendiri, bahkan orang-orang terdekat ku tidak percaya padaku."
Pricilla Evyta Aurora.
***
“Maaf.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Aldo.
“Bukan aku yang harusnya dapet maaf dari kamu, tapi pacar kamu.” Alisa melepaskan tangkupannya di kedua pipi Aldo, lalu tersenyum lembut. ”Dari awal aku yang salah Aldo, saat memutuskan hubungan kita secara sepihak dulu, aku sudah menduga akan seperti ini,” katanya, “jadi sekarang aku harus ikhlas lepasin kamu Al,” lanjut Alisa dalam hati, gadis itu tersenyum meski hatinya menangis.
Alisa memegang kepalanya, ia meringis lalu kehilangan keseimbangan, kalau saja Aldo tidak menahan tubuh Alisa, mungkin gadis itu akan terjatuh. “Kamu gak apa-apa?”
Alisa tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Aldo, gadis itu kehilangan kesadarannya, lalu Aldo menggendong Alisa dan membawanya ke Dokter.
***
“Bagaimana keadaan Alisa Dok?” tanya Bunda Alisa, Aruni. Tadi Aldo menghubungi Aruni menggunakan ponsel Alisa, untung saja ia ingat pin ponsel gadis itu yang belum berubah, tanggal dimana ia dan gadis itu meresmikan hubungan.
“Kondisi pasien memburuk, padahal kemarin gadis itu sudah baikkan, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran pasien?”
Saat Dokter berkata seperti itu tentu saja Aldo merasa bersalah, apa karena kata-katanya tadi di taman kondisi Alisa jadi memburuk? Aldo merasa ia harus membuat keputusan besar. Lalu Aldo segera masuk ke dalam kamar rawat Alisa, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Alisa yang tengah tersenyum padanya, “Lis?”
“Ya Al?” Aldo mendudukkan dirinya di samping Alisa.
“Maaf, kata-kata di taman itu semua kebohongan, sebenarnya saya masih mencintai kamu, namun saya larut dalam amarah saat itu,” Aldo tahu yang di ucapkannya saat ini merupakan kebohongan, namun ia harus berbohong, ia tidak mau kondisi Alisa semakin memburuk, bagaimanapun Aldo tidak ingin kehilangan sahabat kecilnya sekaligus cinta pertamanya.
“Jadi---kita balikan?” tanya Alisa memastikan, gadis itu tersenyum lembut.
Aldo menganggukkan kepalanya, di dalam hati, ia meminta maaf pada Vita. Aldo juga harus menjelaskan semuanya baik-baik kepada Vita, ia yakin gadis itu akan mengerti, Aldo tahu Vita sangat baik, ia juga tidak akan tega ‘kan jika mengetahui kondisi Alisa yang memburuk? Semoga saja Vita bisa mengerti.
***
Kini Aldo berada di sekolah, setelah rapat OSIS selesai ia akan menjelaskan kejadian kemarin pada Vita, namun setelah rapat selesai Zaky menghampirinya, dan berkata bahwa Nala membongkar rahasia Vita, Aldo yang khawatir pada Vita kemudian langsung berlari menuju Aula, di sana ia melihat sahabat-sahabat Vita yang meninggalkan gadis itu dalam tangis, lalu tatapan Aldo beralih menatap layar infokus, tangan Aldo mengepal, ia sangat marah kepada Nala, kenapa gadis itu terus saja mengganggu Vita? Lalu tatapannya beralih menatap Vita, gadis itu menoleh dan menghampirinya, dan Aldo yang melihat itu kemudian membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Vita, ia tidak sanggup melihat Vita menangis, gucapkan beribu maaf untuk Vita, lalu mungkin ini kesempatannya untuk benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Vita, meski ia sangat mencintai gadis itu, tapi kondisi Alisa saat ini bernar-benar membuat Aldo harus melakukan ini semua.
“Kenapa kamu juga gak percaya aku? Aku pikir kamu yang paling mengerti aku Al,” Vita berucap.
“Saya memang yang paling mengerti kamu Vit, saya juga tahu semua yang di katakan Nala itu bohong, namun maaf, ini keputusan yang paling baik untuk saat ini,” sayangnya, kata-kata itu hanya bisa ia katakan dalam hati. “Penilaian saya selama ini tentang kamu itu ternyata salah Vit, kamu itu perempuan murahan ternyata! Pantas orang tua kamu memperlakukan kamu seperti itu, karena kamu memang pantas di perlakukan seperti itu.” Aldo mengepal erat tangannya, tidak percaya kata-kata itu akan keluar dari mulutnya, di dalam hati ia menggeram dan mengumpati dirinya sendiri yang berkata seperti itu pada Vita.
“Tega kamu ngomong gitu Al?” Vita menatap kecewa Aldo.
“Semua yang saya bilang itu bener.”
“Aku tahu kamu akting ‘kan? Apa karena disini ada Alisa jadi kamu bersikap seperti ini sama aku Al?” Vita berkata sambil menangis.
“Alisa udah tau kita pacaran dan di antara saya dan Alisa, kita sudah gak ada apa-apa, karena saya lebih milih kamu, tapi ternyata pilihan saya salah, saya malah memilih perempuan murahan seperti kamu,” Aldo menepis tangan Vita lalu berlalu meninggalkan Vita. “sialan kamu Aldo!” umpatnya dalam hati.
“Yaudah, lebih baik kita putus!” ucap lantang Vita, Aldo menghentikan langkahnya, dadanya sesak mendengar kata-kata itu terlontar dari mulut Vita, bagaimana Aldo masih lah sangat cinta terhadap gadis itu, keadaan yang memaksa nya untuk berbuat seperti ini kepada gadis itu.
“Baguslah, lagi pula saya malu kalau harus punya pacar seperti kamu,” Aldo melanjutkan jalannya, Alisa yang sedari tadi memperhatikan kini berjalan menghampiri Aldo, ia menoleh untuk menatap Vita sebelum akhirnya ia menggandeng tangan Aldo.
"Kenapa kamu malah bilang kalau kita gak ada hubungan apa-apa?" tanya Alisa cemberut.
Aldo memejamkan matanya, tampak sekali bahwa pemuda itu menyesali kata-katanya tadi, "sudahlah, jangan permasalahkan hal ini Alisa," kata Aldo lalu melepaskan tangan Alisa yang memcekal lengannya dan melangkahkan kakinya cepat.
Alisa segera menyusul langkah cepat Aldo, "aku gak nyangka ternyata mantan pacar kamu murahan ya Al," tuturnya yang tentu saja membuat Aldo marah.
"Alisa!"
"A-apa? Kamu bentak aku Al?" Mata Alisa berkaca-kaca.
Aldo mengelus pangkal hidung nya, "enggak, maaf, aku lagi pusing, bisa kamu tinggalin aku sendiri?" Pinta Aldo, dan Alisa mengangguk mengiyakan, gadis itu pun berlalu dari hadapan Aldo.
Aldo melihat Vita yang menatap semua murid SMA Candrawama menatap jijik pada gadis itu, gadis itu menutup wajahnya sambil menangis. Aldo segera berlari menghampiri Davin yang ia lihat ada di Aula juga, lalu saat ia menemukan Davin, ia berkata, "bawa Vita pergi dari lapangan itu," ucap Aldo, tatapan matanya mengarah pada jaket yang di kenakan Davin, "paket jaket kamu buat nutupin muka dia," setelah mengatakan itu Aldo melangkah pergi, ia harap Davin mengerti kata-katanya.
Lalu tatapan Davin beralih menatap lapangan, disana Vita menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dengan segera Davin membuka jaketnya lalu menghampiri Vita.
Aldo yang melihat Vita sudah di bawa pergi oleh Davin, kemudian menghela nafasnya, "saya gak rela kamu di jadikan bahan pertunjukan seperti itu oleh mereka," ucapnya lalu berlalu dari sana, tangannya mengepal, lalu Aldo mengusap wajahnya dengan frustasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
OSIS Vs Adik Kelas (END)
Novela Juvenil"Vita," panggil Aldo pelan. Mendengar panggilan Aldo, Vita yang duduk di samping pemuda itu segera menoleh. "Ya?" "Jangan nangis, saya gak suka liat kamu nangis," ujar Aldo sambil menangkup kedua pipi Vita dan menghapus sisa air mata di sudut mata g...
