1. The First Day

8.7K 431 36
                                        

“Aku tidak ingin orang lain tahu tentang luka yang kualami saat ini, oleh sebab itu aku selalu tersenyum.”

Pricilla Evyta Aurora.

***

Satu tahun kemudian.

Mentari pagi bersinar cerah di langit biru dengan awan-awan putih yang menghiasi. Tampak seorang gadis cantik dengan mata coklat bersinar, rambut panjangnya yang dicepol asal, tengah berlari menuju sekolahnya karena satu menit lagi bel masuk akan berbunyi. Saat ia sudah sampai di depan gerbang sekolah, ternyata sudah terkunci. Dari perempatan jalan menuju sekolah membutuhkan waktu sepuluh menit untuk tiba di sana. Vita menginjakkan kaki di perempatan jalan pukul 06:55 dan akhirnya gadis itu pun telat di hari pertama masuk sekolah, apalagi hari ini kegiatan MOS akan dilaksanakan.

“Lo telat. Gimana sih, baru hari pertama udah telat, mau jadi murid bandel?” omel salah satu anggota OSIS di dalam gerbang. Anggota OSIS itu ditugaskan untuk menjaga keamanan dan ketertiban di gerbang sekolah, cowok itu pun membuka kunci gerbang untuk sang gadis.

“Ya maaf, Kak. Gue udah lari dari perempatan, hargai usaha gue sedikit dong, jangan malah langsung marah-marah tanpa mau tau alasan kenapa gue telat,” ucap gadis itu sambil mencebikkan bibirnya sebal.

“Gak usah cari alesan, deh!” Pemuda itu menarik lengan Vita dengan kasar menuju lapangan. Di sana sudah diisi oleh anak-anak baru yang memakai seragam olahraga dari asal sekolah masing-masing, dengan name tag dari kardus yang menggantung di leher mereka.

“Al, cewek ini telat, mana gak pake name tag dari kardus yang udah kita suruh pas daftar sekolah,” adu seorang OSIS yang menarik lengan gadis itu. Namanya Dimas, ia melapor kepada si ketua OSIS SMA Candrawama, Rifaldo Winata.

“Coba suruh dia maju ke depan!” titah Aldo dengan mikrofon.

Gadis itu melepas paksa cekalan Dimas dari lengannya, kemudian ia menuju mimbar. Ia berdiri di mimbar dan berdampingan dengan ketua OSIS SMA Candrawama, tidak peduli dengan tatapan mata dari para peserta MOS yang memandangnya dengan sinis.

“Apa hukuman gue?” tanyanya tidak ingin berbasa-basi.

“Gila ya, si Vita. Baru pertama masuk sekolah udah dihukum.”

“Emang dia itu kayaknya sengaja deh, caper gitu sama ketua OSIS. Centil.”

“Gak cuman kecentilan deket-deket ketos kita di SMP, ternyata dia juga mau deketin ketos kita di SMA,” cewek itu berdecak, “taktik si Vita itu murahan.”

Begitulah kira-kira bisikan beberapa orang siswi yang mampu terdengar oleh Vita. Ia hanya menanggapi dengan menatap tajam gadis-gadis yang membicarakan dirinya.

Aldo memandang Vita lama, sebelum cowok itu sadar dan berkata, “Kalian jangan berisik selagi saya ada di sini!” Ucapan Aldo berhasil membuat semua peserta MOS terdiam. “Nama kamu siapa?” tanyanya kepada Vita.

Gadis itu mengalihkan pandangan dari cewek-cewek yang membicarakan tentangnya, lalu beralih ke Aldo. “Nama gue?” tanyanya memastikan, Aldo mengangguk. “Vita,” jawabnya lalu tersenyum.

“Kamu dari SMP Garuda?” tanyanya lagi setelah melihat seragam olahraga yang Vita kenakan.

“Iya,” jawab Vita. Membuat Aldo berusaha untuk menyembunyikan senyum di wajahnya, entah untuk hal apa, pemuda itu terlihat sangat bahagia.

“Kenapa senyum?” tanya Vita, bingung.

“Aldo, kamu urus gadis ini dan beri dia hukuman, untuk kegiatan selanjutnya biar Bapak yang mengurus,” ucap Pak Asep yang sudah berdiri di belakang mereka berdua.

Aldo yang sempat terpaku beberapa saat kemudian tersadar karena suara Pak Asep, lalu ia menghadap ke belakang. “Baik, Pak,” ujarnya, mengangguk patuh.
“Untuk kamu, ikuti saya,” ucap Aldo lalu menuruni mimbar dan berjalan menuju aula sekolah yang sepi.

“Kenapa tadi dia lihat gue sambil senyum gitu, ya? Apa perasaan gue doang?” batin Vita bertanya-tanya. Gadis itu berjalan mengikuti Aldo ke aula sekolah.

“Sekarang kamu push up sebanyak ....” Aldo tampak berpikir sejenak kemudian melanjutkan ucapannya, “karena kamu perempuan, jadi lima puluh kali aja.”

Vita mengangguk, lalu ia mulai menjalankan hukuman. Tanpa disadari, Aldo terus memperhatikannya. Setelah sepuluh menit berlalu akhirnya Vita selesai melaksanakan hukuman.

“Udah,” ucapnya melapor kepada pemuda itu. Sontak Aldo yang sedang melamun kemudian tersentak karena tiba-tiba Vita sudah ada di depannya.

“Baik.” Setelah mengatakan itu Aldo melangkahkan kakinya dari hadapan Vita, tiba-tiba ia teringat sesuatu dan segera menghentikan langkahnya. “Jangan lupa ikut baris di lapangan.”

OSIS Vs Adik Kelas (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang