28. Si Gondrong 2

3.2K 182 34
                                        

Entah kenapa sikap Aldo yang posesif dan begitu menyebalkan di matanya, membuat Vita teringat seseorang di masa lalu. Vita kemudian membuka buku diary-nya, siapa tahu di sana tertulis seseorang yang ia maksud itu. Namun, Vita tidak berani membacanya, karena isinya pasti akan membuatnya ingat pada perlakuan buruk kedua orang tuanya. Jadilah ia termenung di balkon kamar yang di tempatinya di rumah kakeknya, tiba-tiba kenangannya saat masih kelas sembilan teringat. Di saat dirinya masih di rumah lamanya.

Keribo, ah bukan, gondrong, ah Vita ingat sekarang. Si Gondrong! Lelaki itu yang selalu mengatakan, 'you are mine, Vita'. Dari lubuk hatinya yang terdalam, Vita merindukan sosok yang selalu menghiburnya di kala ia baru saja dimarahi atau diperlakukan kasar oleh keluarganya. Sosok itu selalu berada di lubuk hatinya yang terdalam.

Vita jadi teringat masa lalunya. Masa kelam di mana ia merasa tidak bisa menemukan cahaya, masa di mana Valen dan Dareen memperlakukannya seperti budak. Berkat kakek dan nenek, akhirnya kedua orang tuanya berhenti memperlakukannya kasar. Namun, mereka masih suka membentaknya dan selalu menganggap kehadirannya tidak ada. Hal itu justru membuat Vita semakin terluka hatinya, bahkan sakitnya dulu lebih besar daripada saat ia sudah pindah rumah dan merasa terabaikan.

Telpon Vita berdering, itu panggilan dari Deon, lelaki itu memang sibuk belakangan ini, jadi mungkin baru sekarang lelaki itu bisa menghubunginya.

"Halo Vita?"

"Iya halo bang?"

"Abang tadi di telpon sama Dokter Alena, katanya kondisi kamu semakin parah, Abang mohon sama kamu Vit, kalau kamu gak mau kasih tau Om dan Tante, sebaiknya kamu kasih tau kakek, abang mohon sama kamu, Vita," ucap Deon memohon dari sebrang sana, saat itu pria itu ada di Bandung.

"Vita akan kasih tau kakek," ucap Vita akhirnya, gadis itu memutuskan panggilan telponnya sepihak, lalu Vita memegang ponselnya di depan dadanya, gadis itu menangis, harusnya saat ini keluarganya menemaninya karena dirinya mempunyai sakit parah.

"Kenapa tangan sama pipi kamu luka?" tanya laki-laki berambut gondrong itu, yang kini duduk di bangku yang sama dengannya. Niatnya Vita ingin mencari udara sejuk di sini dan membiarkan luka di sekujur tubuhnya terlihat. Toh, di sini tidak ada siapa-siapa.
Luka itu kerap tersembunyi di balik hoodie yang selalu ia kenakan. Bahkan saat di sekolah dan pelajaran sedang berlangsung. Gadis itu juga seringkali dihukum karena tidak mau melepas hoodie saat pelajaran, karena di sekolah hanya memperbolehkan muridnya memakai hoodie, jaket di saat jam kosong atau istrahat.

Menyadari kehadiran orang lain, buru-buru Vita memakai hoodie-nya. Namun, tangan laki-laki itu menghentikan niatnya. "Kalau kamu tutupin, luka ini gak bakal sembuh," ujar laki-laki itu tegas. Vita menatap lelaki di hadapannya, laki-laki itu tersenyum lembut.

"Saya gak suka kalau 'milik' saya terluka, jadi mau ya, kalau saya obatin kamu," pintanya. Tidak kuasa menolak, Vita membiarkan laki-laki itu mengobati lukanya.

"Kenapa bisa kayak gini?" tanya laki-laki itu lembut setelah selesai mengobati luka yang ada di lengan dan pipi Vita. "Dan ini."

Kemudian ia menyentuh pipi Vita yang memerah. "Lebam ini sama sekali gak metupi wajah kamu yang cantik, tapi saya gak suka liatnya karena itu nyakitin pacar saya."

Pipi Vita bersemu mendengarnya. "Kenapa kamu baik sama aku? Padahal aku selalu jahat sama kamu?"

Laki-laki di hadapannya tersenyum tipis. "kamu gak jahat sama saya, tapi kamu cuman ngerasa risih sama kehadiran saya yang tiba-tiba. Nanti kamu akan terbiasa sama kehadiran saya."

OSIS Vs Adik Kelas (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang