#3 First Time Feeling

1K 54 5
                                        

Hari ini adalah hari terakhir ujian, pengumuman kelulusan ujian akan segera keluar, aku tak sabar menunggu hal tersebut, setelah menjalani ujian terakhir aku bersama Jirayut bertemu di taman sekolah.

Setelah kami bertemu, kami berbincang mengenai ujian sekolah yang telah dihadapi, Saling berbagi pengalaman selama ujian membuat kami tertawa karena saling meledek cara ujian masing-masing hingga kami tidak sadar kalau bel pulang sekolah telah berbunyi, kami segera mengakhiri obrolan dan pulang.

Kami berpisah di depan gerbang sekolah karena Jirayut telah di jemput oleh kakaknya, sedangkan aku harus menunggu jemputan dari pak supir.

Aku juga tak sengaja melihat pria yang kemarin datang untuk menjemput anaknya, aku sedikit melamun melihat kedekatan mereka berdua, hingga aku tidak sadar kalau hp yang aku pegang sudah berbunyi, aku sontak kaget ku lihat pak supir mengirimkan pesan bahwasanya mobil mengalami bocor ban di dalam perjalanan saat menjemput ku, jadi aku harus pulang dengan berjalan kaki atau menggunakan taksi.

Sambil berjalan aku mencari-cari taksi tetapi tidak ada satupun yang lewat, aku meneruskan perjalanan hingga ada sebuah mobil yang datang dan berhenti di depanku, aku teringat bahwa mobil yang berhenti di depanku adalah mobil Pria tadi.

Dengan cueknya aku meneruskan perjalanan ku, tetapi Pria itu keluar dari mobilnya dan menghalangi jalanku.

" Permisi, apa kamu butuh tumpangan?" Tawar Pria itu.

" Tidak, terimakasih!" Tolak ku.

Aku melanjutkan kembali perjalanan ku tetapi jalanku terhenti kembali karena anak yang kemarin aku selamatkan mencegahku.

" Hei, apa yang kamu lakukan?" Tanyaku ke anak tersebut.

Aku menatap sinis pria itu yang kini berdiri bersender di depan mobilnya.

" Kak kenalin aku Anastasya aku bisa di panggil Ana, oh ya itu adalah Papa ku!" Ucap Ana sambil menunjuk ayahnya.

Pria tersebut melambaikan tangannya kepadaku dengan ekspresi senyumnya yang menurut ku aneh.

" Hai Ana salam kenal yah, Tapi Sorry banget Saya harus segera pulang!" Ucapku sambil meneruskan langkahku.

Ana mencegat ku sekali lagi membuat aku sedikit geram dan menahan emosiku.

" Kak, gimana biar kita anterin kk pulang?, Anggap saja ini sebagai ucapan rasa terima kasih Ana kepada kakak karena kakak telah menyelamatkan Ana!" Pinta Ana.

" Terimakasih atas tawarannya!" Tolak ku.

" Plisss kk!" Pinta Ana sekali lagi.

Dengan terpaksa aku menerima tawaran mereka untuk mengantarkan ku pulang, lagi pula rumahku sedikit jauh dari sekolah, dengan ramahnya Pria itu membukakan pintu mobil untukku dan mempersilahkan ku untuk masuk bak seorang tuan Puteri.

DiDalam mobil, aku hanya diam saja, begitupun dengan pria yang sekarang sedang menyetir mobil di sampingku, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut masing-masing hingga Ana yang memulai pembicaraan.

" Oh ya Nama kakak siapa?" Pertanyaan Ana membuat aku sedikit kaget.

" Sorry, Nama Kakak Tyara, panggil aja Rara!" Ucapku.

" Ooo, jadi wanita ini namanya Rara!" Ucap Salim dalam hati sambil menyetir dan sedikit melamun.

Melihat papa nya seperti itu..

" Papa..." Teriak kan Ana membuat Salim kaget.

" I..iya Ana ada apa?" Salim sedikit gugup.

Pria tersebut tampak aneh, ia juga gemetaran.

Dilema Sebuah RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang