*Gulp*
Plan menelan ludahnya gugup. Saat ini dia berada didepan pintu rumah yang sudah ditinggalkannya selama kurang lebih 8 tahun.
Semua perasaan bercampur aduk didalam benaknya. Takut, sedih, bahagia, dan bahkan marah masih sedikit terasa didadanya.
"Apa sebaiknya aku pergi saja? Ini terlalu tiba tiba dan aku tidak siap". Pikir plan bimbang.
"Nak, kenapa masih diluar? Masuklah, ibu dan kakakmu menunggu didalam. Kebetulan kakakmu dan suaminya sedang berkunjung". Tuan Rathavit menghampiri plan yang hanya terdiam.
"Hmn, o...oke". Kata plan tidak bisa menolak.
Plan dengan digandeng ayahnya masuk perlahan kedalam rumahnya.
"Semua masih sama, tidak ada yang berubah". Pikir plan memperhatikan sekeliling rumahnya.
"Plan!!!". Terdengar suara teriakan sedih dari sisi samping plan. Ketika plan mencoba melirik kearah datangnya suara, dia mendapati sosok itu sudah memeluknya erat.
"Ma...mama......". Kata plan menyadari sosok itu adalah ibunya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Oh? Sudah jam berapa ini?". Pikir plan terbangun dari tidurnya.
Setelah melepas rindu dan rasa bersalah pada ibu dan kakak perempuannya, mereka tidak membiarkan plan pergi dari sisi mereka.
Saat ini plan berada dikamar tidur ayah dan ibunya yang luas, mereka tidur betiga disatu kasur yang ukurannya sangat besar itu. Terlebih sang ibu, dia memeluk plan erat didalam dekapannya, tidak membiarkan anak bungsunya itu pergi lagi dari sisinya.
"Terbangun?". Tanya sang ibu menyadari gerakan dari plan yang terbangun.
"Hmn". Plan mengangguk membenarkan tebakan ibunya yang sedang membelai kepala plan. "Ma, aku teringat mean. Aku harus menghubunginya. Aku menghawatirkan keadaannya".
"Besok saja nak, sekarang sudah tengah malam. Mean juga pasti sudah tidur".
"Hmn, benar juga". Kata plan kemudian mengeratkan pelukan pada ibunya dan kembali menutup matanya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~Keesokan paginya~
*Bug*
*brak*
*prank*
"Hoam.....". Plan menggeliat dikasur hangat kedua orangtuanya ketika mendengar suara gaduh dari arah jendela kamar itu. "Ada apa ya?". Pikir plan.
*creak*
Plan keluar dari kamar tidur itu kemudian berjalan menuju sumber keributan.
"Kau ingin mati huh?". Tanya ayah plan dengan intonasi datar dan dingin. Tuan rathavit menatap remeh pada sosok pria yang beberapa bagian tubuhnya kini sudah memar terkena pukulan mematikan dari pria tua itu.
"Silahkan jika mau membunuhku. Tapi percayalah, tidak akan semudah yang anda pikirkan. Aku tidak akan angkat kaki sebelum anda membiarkan plan pergi dan membiarkannya menjalani hidup yang dia inginkan!". Kata pria itu.
"Shit.... perth?!". Pikir plan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Plan bahkan mengucek matanya untuk memastikan. "Dia mau mati atau apa? Mark dan mean saja tidak berani pada papaku, oh god!".
"Kau bocah sialan yang membuat plan melakukan tindakan gila 8 tahun lalu bukan?".
"Berterima kasihlah padaku paman, jika bukan karena ajakanku, mungkin akhir hidup plan bukan selamat setelah terjun dari tebing tapi mati karena minum racun!".
*bug*
"Akh..". Perth meringis sakit menahan perih diperutnya.
"Kuharap kau mati 8 tahun lalu".
YOU ARE READING
Forever, Mine ( End )
FanfictionPlan yang konyol, dan mean yang serius. Lucu tapi ada sedihnya. "Sedikit random, dan hayal seperti yang menulis". 🤓🤣🤭 Anda bingung di vol 1, lanjut baca. Anda akan paham 😎 *Cerita ini berlanjut ke The Piravich triplet diary*
